HALO SEMARANG – Pemerintah Kota Semarang mengajak masyarakat untuk terus menjaga dan melestarikan situs-situs religi bersejarah sebagai bagian dari upaya merawat warisan para ulama sekaligus memperkuat potensi wisata religi di Kota Semarang.
Ajakan tersebut disampaikan Wakil Wali Kota Semarang, Iswar Aminuddin, saat menghadiri Pengajian Akbar Haul sekaligus Peresmian Makam Kiai Jungke di Jalan Gendingan, Kelurahan Pandansari, Kecamatan Semarang Tengah, Sabtu (27/6/2026) malam.
Kiai Jungke, yang juga dikenal sebagai Kiai Nayawangsa atau Sayyid Husain, merupakan salah satu tokoh penyebar Islam di Kota Semarang pada masa awal perkembangan kota pada abad ke-17. Iswar menilai, keberadaan makam tersebut menjadi pengingat bahwa kemajuan Kota Semarang saat ini tidak lepas dari perjuangan para ulama dalam menyebarkan nilai-nilai Islam dan membangun kehidupan masyarakat.
“Kita bisa berdiri di tengah kota dengan masyarakat yang semakin maju seperti sekarang ini karena ada perjuangan dakwah para ulama terdahulu. Warga Pandansari patut bangga karena di wilayah ini dimakamkan seorang tokoh besar. Tugas kita adalah melanjutkan dan meneladani perjuangan beliau,” ujar Iswar.
Ia mengapresiasi semangat masyarakat yang selama ini bergotong royong merawat kawasan makam hingga akhirnya dapat direnovasi dan diresmikan. Menurutnya, kepedulian warga terhadap situs bersejarah merupakan modal penting dalam menjaga identitas dan sejarah Kota Semarang.
“Saya mengucapkan terima kasih kepada seluruh panitia dan warga yang telah nguri-uri makam beliau. Renovasi ini sudah kita komunikasikan sejak lama, bahkan sebelum masa pandemi. Komitmen masyarakat menjaga aset sejarah seperti ini patut kita dukung bersama,” katanya.
Lebih lanjut, Iswar menilai keberadaan Makam Kiai Jungke tidak hanya memiliki nilai sejarah dan spiritual, tetapi juga menyimpan potensi besar sebagai destinasi wisata religi. Meningkatnya kunjungan peziarah, menurutnya, dapat memberikan dampak positif terhadap perekonomian masyarakat sekitar melalui tumbuhnya berbagai usaha kecil dan jasa pendukung.
“Semakin banyak peziarah yang datang, semakin besar pula peluang ekonomi yang bisa dinikmati masyarakat. Warung, kuliner, hingga usaha lainnya akan ikut tumbuh sehingga manfaatnya dapat dirasakan warga sekitar,” ujarnya.
Iswar juga mengingatkan bahwa kawasan Semarang Tengah masih menyimpan banyak makam ulama dan tokoh bersejarah yang perlu mendapat perhatian serius agar tidak tergerus perkembangan kota.
“Semarang Tengah menyimpan banyak jejak sejarah para ulama. Saya mendengar masih ada makam-makam tua yang kondisinya belum terawat dengan baik. Mari kita jaga bersama agar warisan sejarah ini tetap lestari dan dapat dikenalkan kepada generasi mendatang,” tegasnya.
Menurut Iswar, pelestarian situs religi harus dibarengi dengan kegiatan keagamaan yang rutin agar kawasan tersebut tetap hidup dan menjadi pusat silaturahmi masyarakat. Pengajian, selawat, hingga majelis taklim dinilai mampu memperkuat ikatan sosial sekaligus meningkatkan daya tarik wisata religi.
Ia berharap, peringatan haul tidak hanya menjadi agenda tahunan, tetapi menjadi awal lahirnya berbagai kegiatan keagamaan yang berlangsung secara berkelanjutan.
“Kalau pengajian, selawatan, dan kegiatan keagamaan terus dihidupkan, insyaallah silaturahmi warga semakin kuat, keberkahan akan hadir, dan aktivitas ziarah juga dapat menggerakkan perekonomian masyarakat di sekitar Pandansari,” pungkasnya.(HS)


