in

Gen Z Jadi Kekuatan Besar Tebar Pesan Keagamaan di Ruang Digital

Kegiatan menyambut 1 Muharaman Bersama Gen Z di Masjid Istiqlal, baru-baru ini. (Foto : kemenag.go.id)

 

HALO SEMARANG – Generasi Z memiliki kekuatan besar yang sering kali tidak disadari, yaitu kemampuan menyebarkan pesan positif dan keagamaan kepada ribuan orang, hanya melalui satu konten digital. Untuk itu, pemahaman keagamaan menjadi kunci.

Pesan ini disampaikan Pendakwah Muda Gus Romzi Ahmad, dalam kegiatan menyambut Muharaman Bersama Gen Z di Masjid Istiqlal, baru-baru ini.

Kegiatan yang diikuti Gen Z ini, mengusung tema ‘Menebar Maslahat, Menguatkan Umat’.

Menurut Gus Romzi, ruang digital telah membuka peluang baru bagi generasi muda untuk menghadirkan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.

Ia menilai media sosial tidak hanya menjadi sarana hiburan, tetapi juga dapat berfungsi sebagai media edukasi, dakwah, dan penguatan nilai-nilai kebaikan.

“Satu konten kebaikan yang ditonton seribu orang itu setara dengan menyampaikan ceramah kepada seribu orang di sebuah masjid besar. Ini kekuatan yang dimiliki generasi hari ini dan perlu dimanfaatkan untuk hal-hal yang bermanfaat,” ujarnya di Jakarta, baru-baru ini.

Gus Romzi mengatakan, generasi muda saat ini tumbuh bersama teknologi. Berbeda dengan generasi sebelumnya yang memandang teknologi sebagai alat bantu, Gen Z hidup dalam ekosistem digital yang menjadi bagian dari keseharian mereka.

Karena itu, pendekatan dakwah dan pembinaan generasi muda perlu menyesuaikan dengan karakter zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai agama.

Ia juga menilai keberanian Gen Z dalam mencoba hal-hal baru merupakan modal penting untuk melahirkan inovasi dan perubahan.

Namun, keberanian tersebut perlu dibarengi pemahaman agama yang memadai agar tetap memiliki arah dan batasan yang jelas dalam kehidupan.

“Anak-anak muda memang berani mengambil risiko dan mencoba sesuatu yang baru. Tetapi mereka tetap membutuhkan nilai dan panduan agar tidak kehilangan arah,” katanya.

Menurutnya, kajian keagamaan tetap menjadi kebutuhan penting di tengah perkembangan teknologi yang sangat cepat.

Melalui penguatan literasi keagamaan, generasi muda dapat memahami prinsip-prinsip kehidupan sekaligus membangun sikap yang bijak dalam menghadapi berbagai perubahan sosial.

Ia juga mengapresiasi peluncuran penyusunan Kosa Isyarat Keislaman Indonesia (Kosmin) oleh Kementerian Agama.

Ia menilai langkah tersebut akan memperluas akses pembelajaran agama bagi komunitas tuli, termasuk di lingkungan pesantren yang memiliki santri penyandang disabilitas pendengaran.

Kehadiran standar nasional kosa isyarat keislaman dinilai penting untuk mendukung layanan keagamaan yang lebih inklusif.

Perkuat Pemahaman Agama

Hal senada disampaikan Komika Chairul Mukmin. Dia mengajak generasi muda untuk tetap memperkuat pemahaman agama di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan arus informasi digital.

Menurutnya, agama menjadi fondasi penting agar anak muda memiliki arah dan batasan dalam menjalani kehidupan.

Mukmin menilai perkembangan teknologi menghadirkan banyak kemudahan sekaligus tantangan bagi generasi muda.

Karena itu, dia mengingatkan agar teknologi tidak dijadikan alasan untuk menjauh dari proses belajar agama.

Menurutnya, salah satu perbedaan generasi saat ini dengan generasi sebelumnya terletak pada lingkungan digital yang membentuk cara berpikir dan berinteraksi anak muda. Ia menekankan pentingnya fondasi akidah yang kuat agar generasi muda mampu menyaring informasi yang diterima setiap hari melalui media sosial dan   berbagai platform digital.

“Kalau akidahnya kuat, kita tahu mana yang boleh dan mana yang tidak boleh. Kita punya batasan dalam menjalani hidup,” ujarnya.

Mukmin menjelaskan, pemahaman tentang halal dan haram tidak cukup dipandang sebagai label hukum semata. Menurutnya, keduanya merupakan panduan hidup yang membantu seseorang menentukan pilihan dan mengambil keputusan secara bertanggung jawab.

Ia juga mengingatkan bahwa ilmu tidak diperoleh secara instan. Di tengah budaya serba cepat, generasi muda perlu meluangkan waktu untuk belajar, mengikuti kajian, dan memperkaya wawasan keagamaan agar tidak mudah terpengaruh informasi yang belum tentu benar. (HS-08)

 

Bill Cost Estimation Jadi Konsep Baru dalam Peningkatan Efisiensi dan Kualitas Pembentukan UU

Bareskrim Polri Tahan 2 Tersangka Kasus Mafia Pertambangan Emas Ilegal