in

UMKM Anggrek di Lereng Lawu Dilatih Go Digital, Unnes-UNS-UGM Dorong Ekoeduwisata Berkelanjutan

Puluhan pelaku UMKM budidaya bunga anggrek dilatih untuk penguatan manajemen usaha, pengelolaan keuangan dan pemasaran digital oleh Tim Pengabdi Kolaborasi dari LPPM Unnes, UNS dan UGM, pasa Selasa (2/6/2026).

HALO KARANGANYAR – Potensi wisata dan budidaya anggrek di kawasan Ngargoyoso-Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar, terus didorong menjadi penggerak ekonomi masyarakat.

Salah satu upaya tersebut dilakukan melalui pelatihan pengembangan usaha berbasis ekoeduwisata yang menyasar puluhan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di kawasan lereng Gunung Lawu.

Sebanyak 23 pelaku UMKM budidaya bunga anggrek mengikuti pelatihan bertajuk “Pengembangan Potensi Kawasan Ngargoyoso-Tawangmangu Berbasis Ekoeduwisata untuk Meningkatkan Perekonomian Berkelanjutan” yang diselenggarakan melalui Program Pengabdian Masyarakat Kolaborasi Indonesia (PMKI).

Program tersebut merupakan hasil kolaborasi tim pengabdian masyarakat dari Universitas Negeri Semarang (Unnes), Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, dan Universitas Gadjah Mada (UGM).

Tim pengabdian dari Unnes terdiri atas Prof. Dr. Isti Hidayah, M.Pd., Prof. Dr. Sucihatiningsih Dian Wisika Prajanti, M.Si., serta Prof. Dr. Widya Hary Cahyati, S.KM., M.Kes. Sementara dari UNS hadir Prof. Dr. Okid Parama Astirin, M.S. dan Prof. Dr. Syamsul Hadi, M.T., serta Prof. Dr. Endang Semiarti, Ph.D. dari UGM.

Pelatihan yang berlangsung selama satu hari tersebut tidak hanya membahas pengembangan usaha, tetapi juga membekali peserta dengan keterampilan pengelolaan keuangan dan pemasaran digital yang kini menjadi kebutuhan utama UMKM.

Prof. Isti Hidayah menjelaskan, peserta mendapatkan materi mulai dari fungsi manajemen usaha, perencanaan dan pengawasan bisnis, hingga penyusunan laporan keuangan sederhana.

“Peserta tidak hanya belajar pembukuan manual, tetapi juga dikenalkan dengan pembukuan digital menggunakan aplikasi seperti SIAPIK, BukuWarung, dan aplikasi lainnya agar pencatatan usaha menjadi lebih rapi, cepat, dan akurat,” ujarnya.

Menurutnya, penggunaan aplikasi digital tersebut bersifat opsional. Yang terpenting adalah membangun kebiasaan mencatat transaksi secara rutin dan konsisten sehingga pelaku usaha mampu memantau arus kas serta mengambil keputusan bisnis dengan lebih tepat.

“Prinsip utama pengelolaan keuangan adalah disiplin dalam pencatatan. Dengan mengetahui kondisi keuangan usaha secara akurat, UMKM akan lebih mudah berkembang dan berkelanjutan,” tambahnya.

Selain penguatan manajemen usaha, peserta juga mendapatkan pelatihan pemasaran digital yang disesuaikan dengan perkembangan teknologi saat ini.

Para pelaku UMKM diajarkan strategi promosi sederhana melalui media sosial, teknik fotografi produk menggunakan telepon pintar, hingga pemanfaatan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) untuk mendukung aktivitas pemasaran.

“Pelaku UMKM perlu memanfaatkan teknologi yang sudah tersedia agar dapat menjangkau pasar yang lebih luas dengan biaya yang relatif terjangkau. Kami memberikan tips-tips praktis yang bisa langsung diterapkan dalam usaha mereka,” kata Prof. Isti.

Peserta pelatihan berasal dari kelompok budidaya anggrek Kemuning Orchid dan Pabongan Orchid Nursery, serta sejumlah pelaku usaha lainnya yang berada di kawasan wisata Ngargoyoso-Tawangmangu.

Kawasan tersebut selama ini dikenal memiliki potensi wisata alam yang kuat sekaligus menjadi sentra budidaya tanaman hias, khususnya anggrek. Melalui pendekatan ekoeduwisata, potensi tersebut diharapkan tidak hanya menjadi daya tarik wisata, tetapi juga mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan.

Kolaborasi tiga perguruan tinggi ini juga menjadi bagian dari upaya mendorong pengembangan ekonomi berbasis masyarakat dengan mengintegrasikan sektor pendidikan, pariwisata, lingkungan, dan kewirausahaan.

Melalui program ini, para pelaku UMKM diharapkan mampu meningkatkan kapasitas usaha, mengelola keuangan secara lebih profesional, serta memanfaatkan teknologi digital untuk memperluas pasar dan meningkatkan daya saing produk mereka.

Tak hanya berhenti pada pelatihan, program ini akan dilanjutkan dengan kegiatan pendampingan, praktik lapangan, evaluasi, dan tindak lanjut guna memastikan materi yang diberikan dapat diterapkan secara nyata oleh peserta.

Program tersebut sekaligus mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya tujuan keempat tentang pendidikan berkualitas serta tujuan kedelapan mengenai pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.

Dengan sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah desa, dan pelaku usaha lokal, kawasan Ngargoyoso-Tawangmangu diharapkan mampu berkembang menjadi model pengembangan ekoeduwisata yang tidak hanya menarik wisatawan, tetapi juga menciptakan manfaat ekonomi yang berkelanjutan bagi masyarakat setempat.(HS)

Didukung Promosi Pemprov Jateng, UMKM Hiasan Dinding “Kreasi Kayukuu” Boyolali Tembus Pasar Mancanegara

Nawal Arafah Yasin Ajak Perempuan Jadi Srikandi Penjaga Bumi, Tebar Eco Enzyme dan 1.000 Bibit Ikan di Sendang Senjoyo