HALO SEMARANG – Majelis Pendidikan Dasar, Menengah, dan Pendidikan Nonformal (Dikdasmen dan PNF) PP Muhammadiyah mengapresiasi penerapan Kurikulum Berbasis Cinta oleh Kementerian Agama.
Ketua Majelis Dikdasmen dan PNF PP Muhammadiyah, Didik Suhardi, menegaskan bahwa Kurikulum Berbasis Cinta merupakan salah satu ikhtiar, untuk mengembalikan esensi pendidikan sebagai proses memanusiakan manusia.
Hal ini disampaikan Didik Suhardi saat membuka Diskusi Implementasi Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) bagi Madrasah Muhammadiyah, baru-baru ini.
Diskusi dilaksanakan secara daring melalui Zoom Meeting dan diikuti sekitar 500 peserta, terdiri atas pengurus Majelis Dikdasmen dan PNF PWM dan PDM se-Indonesia serta kepala Madrasah Muhammadiyah dari berbagai daerah.
Diskusi ini tidak sekadar membahas implementasi kurikulum baru, tetapi juga menjadi ruang refleksi atas berbagai tantangan yang dihadapi dunia pendidikan saat ini.
Di tengah perkembangan teknologi yang sangat cepat, pendidikan sering kali terjebak pada perlombaan angka, nilai, dan prestasi akademik, sementara aspek kemanusiaan dan pembentukan karakter belum sepenuhnya memperoleh perhatian yang seimbang.
Menurut Didik Suhardi, pendidikan tidak cukup hanya menghasilkan peserta didik yang cerdas secara akademik.
Pendidikan juga harus mampu melahirkan generasi yang memiliki karakter kuat, kepedulian sosial, serta kemampuan membangun relasi yang sehat dengan sesama dan lingkungannya.
“Diskusi ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi seluruh Madrasah Muhammadiyah dalam mengembangkan pendidikan yang berkarakter, humanis, dan berorientasi pada pembentukan generasi unggul,” kata dia, seperti dirilis kemenag.go.id.
Kepala Subdirektorat Kurikulum dan Evaluasi Direktorat KSKK Madrasah Kementerian Agama, Abdul Basit, menjelaskan bahwa Kurikulum Berbasis Cinta dibangun atas kesadaran bahwa pendidikan tidak cukup hanya mentransfer pengetahuan.
Pendidikan juga harus menumbuhkan kesadaran spiritual, kepedulian sosial, dan tanggung jawab kebangsaan.
Ia menjelaskan bahwa konsep Panca Cinta yang menjadi fondasi kurikulum tersebut meliputi cinta kepada Allah Swt dan Rasul-Nya, cinta kepada ilmu pengetahuan, cinta kepada sesama manusia, cinta kepada lingkungan, serta cinta kepada bangsa dan tanah air.
Namun demikian, implementasi Kurikulum Berbasis Cinta tidak dapat berhenti pada tataran konsep dan dokumen kebijakan.
Tantangan terbesar justru terletak pada kemampuan madrasah mengubah budaya pembelajaran di ruang kelas.
Selama ini, tidak sedikit praktik pendidikan yang masih berorientasi pada penyampaian materi secara satu arah, penekanan berlebihan pada aspek kognitif, serta pengukuran keberhasilan yang didominasi oleh nilai ujian.
Dalam situasi seperti itu, nilai-nilai cinta, empati, dan penghargaan terhadap keberagaman sering kali sulit tumbuh secara optimal.
Fasilitator Asesmen Kompetensi Madrasah Indonesia (AKMI), Erni Susiani, menegaskan bahwa peran guru menjadi faktor kunci dalam keberhasilan implementasi Kurikulum Berbasis Cinta.
Menurutnya, guru tidak hanya berfungsi sebagai penyampai materi pelajaran, tetapi juga sebagai teladan yang menghadirkan nilai-nilai kemanusiaan dalam proses pembelajaran sehari-hari.
“Guru perlu menghadirkan pembelajaran yang tidak hanya berorientasi pada penguasaan materi, tetapi juga menanamkan nilai-nilai cinta dalam setiap aktivitas belajar sehingga peserta didik berkembang secara utuh, baik dari aspek pengetahuan, sikap, maupun keterampilan,” ungkapnya.
Pernyataan tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa transformasi pendidikan tidak dapat dilakukan hanya dengan mengganti kurikulum.
Penguatan kapasitas guru, kepemimpinan kepala madrasah, budaya sekolah, serta keterlibatan orang tua dan masyarakat menjadi faktor yang tidak kalah penting.
Bagi Madrasah Muhammadiyah, implementasi Kurikulum Berbasis Cinta juga menjadi momentum untuk menegaskan kembali identitas pendidikan Islam yang berkemajuan.
Selama ini Muhammadiyah dikenal memiliki tradisi pendidikan yang memadukan keunggulan akademik dengan pembentukan karakter dan nilai-nilai keislaman.
Karena itu, tantangan sesungguhnya bukan sekadar memahami konsep Kurikulum Berbasis Cinta, melainkan memastikan bahwa nilai-nilai tersebut benar-benar hidup dalam budaya madrasah.
Tanpa perubahan praktik pembelajaran dan tata kelola pendidikan, Kurikulum Berbasis Cinta berisiko menjadi sekadar slogan yang indah, tetapi miskin implementasi.
Melalui diskusi ini, Majelis Dikdasmen dan PNF PP Muhammadiyah berharap Madrasah Muhammadiyah tidak hanya menjadi pelaksana kebijakan pendidikan, tetapi juga pelopor lahirnya ekosistem pendidikan yang lebih humanis, inklusif, dan berorientasi pada pembangunan karakter generasi masa depan.
Pada akhirnya, keberhasilan Kurikulum Berbasis Cinta tidak akan diukur dari banyaknya sosialisasi atau pelatihan yang dilaksanakan, melainkan dari sejauh mana madrasah mampu melahirkan peserta didik yang cerdas, berakhlak mulia, peduli terhadap sesama, serta memiliki kecintaan terhadap ilmu pengetahuan, lingkungan, dan bangsanya. (HS-08)


