in

Banjir Bandang Semarang Sisakan Luka, Pemkot Perkuat Penanganan dan Antisipasi Bencana

Perbaikan fasilitas lingkungan yang rusak imbas diterjang banjir bandang Ngaliyan Semarang, beberapa waktu lalu.

HALO SEMARANG – Banjir bandang yang menerjang tiga kecamatan di Kota Semarang pada pertengahan Mei 2026 meninggalkan duka mendalam sekaligus kerusakan yang tidak sedikit. Selain merendam permukiman dan merusak infrastruktur, bencana tersebut juga merenggut dua korban jiwa.

Korban meninggal dunia diketahui bernama Kurnia Suci Marsella (22), warga Purwosari, Semarang Utara, dan Maryam (71), warga Kecamatan Tugu, yang hanyut terseret derasnya arus banjir.

Peristiwa itu terjadi setelah hujan ekstrem mengguyur wilayah Semarang pada Jumat (15/5/2026) malam. Debit air meningkat drastis dari kawasan perbukitan di wilayah barat kota hingga menyebabkan Sungai Silandak meluap dan menerjang permukiman warga di Kecamatan Ngaliyan, Tugu, dan Semarang Barat.

Kepala Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Disperkim) Kota Semarang, Murni Ediati mengatakan, luapan air saat itu menyerupai banjir bandang dengan ketinggian mencapai satu hingga dua meter.

“Air kiriman dari wilayah hulu meningkatkan volume Sungai Silandak hingga melampaui kapasitasnya dan menggenangi rumah warga,” ujar Murni Ediati, Selasa (26/5/2026).

Perempuan yang akrab disapa Pipie itu menjelaskan, derasnya arus banjir turut membawa material lumpur dan merusak sejumlah infrastruktur lingkungan, termasuk ruas jalan kampung di kawasan Purwoyoso, tepatnya di Jalan Sriyatno.

Menurutnya, penanganan pascabanjir saat ini terus dilakukan secara terpadu dengan melibatkan Pemerintah Kota Semarang, pemerintah provinsi, pemerintah pusat, hingga sejumlah instansi terkait.

Fokus utama penanganan diarahkan pada wilayah terdampak genangan, peningkatan kapasitas tampungan air, serta penambahan daerah resapan.

Selain itu, edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya menjaga saluran air dan pengendalian limpasan air melalui konsep Zero Delta Q juga terus diperkuat.

“Peristiwa ini dipengaruhi beberapa faktor utama seperti curah hujan ekstrem, kapasitas sungai yang terlampaui, berkurangnya daya resap akibat alih fungsi lahan di wilayah hulu, hingga konektivitas drainase yang masih perlu ditingkatkan,” jelasnya.

Pipie menambahkan, air dari kawasan atas mengalir deras menuju wilayah hilir melalui sistem sungai dan drainase kota sebelum akhirnya berangsur surut setelah debit air menurun.

Permasalahan genangan di Kota Semarang sendiri hingga kini masih menjadi pekerjaan rumah besar. Berdasarkan hasil kajian penanganan genangan, terdapat sejumlah faktor yang menjadi penyebab utama banjir di kota tersebut.

Mulai dari sedimentasi saluran, keterbatasan kapasitas drainase, limpasan sungai saat hujan deras, persoalan konektivitas saluran, perbedaan elevasi wilayah, hingga pengaruh kenaikan muka air laut.

“Total luas genangan yang teridentifikasi mencapai sekitar 257 hektare, sehingga membutuhkan penanganan berkelanjutan,” ungkapnya.

Berbagai langkah penanganan permanen pun telah dilakukan secara bertahap. Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) melakukan normalisasi sungai, Dinas Pekerjaan Umum (DPU) menangani drainase sekunder, sementara Disperkim fokus pada penanganan drainase lingkungan.

Pemkot Semarang juga terus memperkuat sistem kesiapsiagaan bencana melalui koordinasi dengan BPBD dan BMKG agar masyarakat lebih cepat mendapatkan informasi kedaruratan dan prakiraan cuaca ekstrem.

Meski demikian, Pipie menegaskan penanganan banjir tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah semata.

“Keberhasilan penanganan sangat bergantung pada sinkronisasi program antarinstansi serta partisipasi masyarakat,” katanya.

Ia mengingatkan, langkah sederhana seperti menjaga saluran drainase tetap bersih, tidak membuang sampah sembarangan, dan rutin melakukan kerja bakti dapat memberikan dampak besar dalam mencegah banjir dan genangan.

“Melalui kolaborasi dan perencanaan terpadu, Kota Semarang berkomitmen meningkatkan ketahanan kota terhadap banjir dan genangan secara bertahap dan berkelanjutan,” pungkas Pipie.(HS)

Pariwisata dan Ekonomi Syariah Jadi Andalan Baru Pertumbuhan Ekonomi Jateng 2027