HALO SEMARANG – Deretan kain batik, kerajinan tangan, hingga produk fesyen lokal memenuhi Atrium Paragon Mall, Jumat, 8 Mei 2026. Di tengah ramainya pengunjung yang hilir mudik, para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) memamerkan karya terbaik mereka dengan satu harapan besar: menembus pasar dunia.
Melalui ajang UMKM Grande 2026, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah bersama Bank Indonesia berupaya memperkuat ekosistem UMKM dari hulu hingga hilir agar semakin tumbuh, tangguh, dan mampu bersaing di pasar global.
Mengusung tema “Tumbuh, Tangguh, dan Mendunia”, sebanyak 90 UMKM ambil bagian dalam kegiatan yang berlangsung hingga 11 Mei 2026 itu. Tak sekadar menjadi ajang pameran produk unggulan, UMKM Grande juga menghadirkan temu bisnis (business matching), talkshow, hingga parade busana yang menampilkan kekayaan wastra Jawa Tengah.
Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah Jawa Tengah, Nawal Arafah Yasin, menegaskan bahwa UMKM merupakan fondasi penting penggerak ekonomi daerah yang harus terus diperkuat.
“Dekranasda beserta dengan BI berkomitmen untuk bagaimana membuat UMKM di Jawa Tengah bisa tumbuh, tangguh, dan mendunia,” ujarnya seusai membuka kegiatan.
Menurut Nawal, Jawa Tengah memiliki banyak pelaku usaha lokal yang kualitas produknya telah diakui dunia internasional. Salah satunya Naruna Ceramic dari Salatiga yang kini berhasil mengekspor produk ke 18 negara.
Selain itu, ada pula Roro Kenes asal Semarang yang dikenal melalui produk tas anyaman kulit premium dan diminati wisatawan mancanegara.
Nawal menjelaskan, penguatan UMKM tidak bisa dilakukan setengah-setengah. Karena itu, pihaknya bersama Bank Indonesia membangun ekosistem pembinaan secara menyeluruh, mulai dari pelatihan, inkubasi bisnis, proses kurasi produk, hingga akses pembiayaan.
“Kita adakan kurasi bersama Bank Indonesia. Setelah kurasi, kemudian kita berikan akses permodalan,” katanya.
Akses pembiayaan itu salah satunya melalui program Kredit Usaha Rakyat (KUR). Berdasarkan data yang disampaikan Nawal, penyaluran KUR di Jawa Tengah selama periode 2015 hingga 2025 mencapai Rp361,36 triliun dengan total 10,31 juta debitur.
Sementara sepanjang Januari hingga 9 Oktober 2025, tercatat sebanyak 667.067 debitur telah melakukan akad kredit dengan nilai mencapai Rp34,73 triliun.
Selain permodalan, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah juga terus mendorong perluasan akses pasar melalui digitalisasi dan memperbanyak forum pertemuan antara pelaku usaha dan calon pembeli.
Dalam gelaran UMKM Grande 2026, sejumlah buyer dari dalam maupun luar negeri sengaja dihadirkan agar pelaku UMKM dapat melakukan transaksi langsung dan memperluas jaringan pasar ekspor.
“Pada hari ini Bank Indonesia juga mengundang buyer dari luar negeri untuk business matching di acara UMKM Grande. Jadi buat saya, dari hulu ke hilir ini terus kita perkuat ekosistemnya dengan baik,” ucap Nawal.
Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Jawa Tengah, Andi Reinasari, mengatakan pihaknya terus mendukung pengembangan UMKM, terutama sektor wastra yang menjadi kekuatan khas Jawa Tengah.
“Kami bersama Dekranasda terus bekerja sama untuk mengembangkan UMKM, khususnya di bidang wastra. Karena kita memiliki daya tarik besar, khususnya batik dan tenun,” ujarnya.
Apresiasi terhadap gelaran UMKM Grande 2026 juga datang dari Wakil Ketua II Dewan Kerajinan Nasional, Sri Suparni Bahlil Lahadalia.
Menurutnya, kegiatan tersebut menarik karena tidak hanya menghadirkan pameran produk, tetapi juga diskusi, talkshow, hingga temu bisnis yang mampu memperkuat daya saing UMKM.
“Dengan adanya kolaborasi ini, tentu kita bisa menambah semangat dan daya saing para pelaku UMKM binaan BI maupun Dekranasda,” katanya.
Di tengah ketidakpastian ekonomi global, UMKM masih menjadi denyut utama ekonomi rakyat. Dari tangan-tangan kreatif para pengrajin lokal, Jawa Tengah perlahan membangun jalan menuju pasar internasional, membawa batik, keramik, tenun, dan karya anak bangsa agar semakin dikenal dunia.(HS)


