HALO BLORA – Forum Temu Kemitraan (FTK) yang digelar di Rumah Kumpul PT GMM Bulog, baru-baru ini berlangsung tegang.
Alih-alih membawa kabar baik menjelang musim giling, pertemuan yang dipimpin Direktur Operasional PT GMM Bulog, Krisna Murtiyanto ini, justru menyulut kekecewaan mendalam bagi para petani tebu di Kabupaten Blora.
Saat membuka acara, Ketua Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) Kabupaten Blora, H Sunoto menyampaikan harapan besar, bahwa pertemuan kali ini membuahkan hasil menggembirakan pada petani.
“Biasanya FTK dilakukan pada hari pasaran Legi, tapi kali ini Kliwon. Karena Legi berkorelasi dengan gula, semoga agenda ini membuahkan hasil menggembirakan yang sudah lama dinanti petani,” kata H Sunoto, seperti dirilis laman resmi Pemkab Blora, blorakab.go.id.
Sunoto juga menekankan pentingnya komunikasi, untuk menghindari mispersepsi, sembari mengajak semua pihak mencari jalan keluar melalui musyawarah.
Senada dengan itu, Kepala DP4 Kabupaten Blora, Ngaliman memaparkan kemajuan luas areal tebu di Blora berkat program perluasan lahan dan bongkar ratoon.
Ia menyebut, Bupati Blora Arief Rohman sangat mendukung nasib petani dan berharap FTK ini menghasilkan win-win solution.
Namun bukan kabar baik, melainkan kabar pahit yang harus diterima para petani tebu, yakni pada tahun 2026 ini PG GMM tidak giling.
Calon Direktur Operasional PT GMM Bulog, Andin Cholid, yang mengungkapkan bahwa pada musim giling 2026 ini, pabrik tersebut belum bisa beroperasi.
Dia mengemukakan alasan, adanya kajian independen serta kondisi keuangan perusahaan yang belum memungkinkan.
Sebagai solusi, manajemen berencana mengalihkan tebu petani ke pabrik gula di bawah naungan PT Sinergi Gula Nusantara (SGN), dengan sistem bagi hasil, atau ke lingkup PT Rajawali dengan sistem beli putus.
Namun, harga yang ditawarkan menjadi sorotan tajam. Jika pabrik gula di Madiun dan Jogja berani membeli putus seharga Rp850/kg, PT GMM Bulog hanya mematok harga Rp650/kg di tingkat pabrik.
Ketidakpastian ini memicu reaksi keras dalam sesi diskusi. Pardiman, salah satu peserta, mempertanyakan matangnya persiapan FTK yang dianggap minim informasi jelas mengenai mekanisme penyerapan tebu.
Ia mendesak agar tim pengkaji independen bekerja cepat agar renovasi pabrik segera dilakukan.
Kritik lebih tajam datang dari Agus Joko Susilo. Mantan kepala desa ini menagih komitmen Direktur Utama Perum Bulog, terkait pembelian tebu petani 2026 secara franco di PG GMM.
Ia juga meminta pertanggungjawaban Direktur Operasional atas pernyataan sebelumnya yang menyebut 99,9% pabrik pasti akan giling tahun ini.
Kodok, seorang petani tebu, juga berbicara dengan nada tinggi. Ia meminta PT GMM Bulog berhenti memberikan harapan palsu (PHP).
“Kami menuntut janji Dirut Bulog bahwa pembelian tebu harus di pabrik GMM. Terserah setelah dibeli mau dibawa ke Iran atau Amerika Serikat, yang penting dibeli di sini,” kata dia.
Dari sisi teknis, Wahyuning, mantan Kabag Tanaman PG GMM, menyodorkan hitungan agar harga beli disesuaikan dengan patokan pemerintah, yakni sekitar Rp720/kg, bukan Rp650/kg, agar nasib petani tidak semakin terpuruk.
Suasana semakin membara ketika Sekretaris APTRI, Anton Sudibyo, meminta rapat dibubarkan.
Ia menilai pertemuan tersebut tidak menghasilkan keputusan apa pun dan justru menghancurkan harapan petani yang sudah menderita bertahun-tahun.
Anton menuding jajaran pimpinan PT GMM Bulog tidak berani melaporkan kondisi lapangan yang sebenarnya kepada pusat serta mengingatkan janji tertulis Dirut Bulog pada kunjungan awal April 2026 lalu.
“Pemimpin Bulog hanya pencitraan. Ucapannya seperti pitutur Jawa, esuk dele sore tempe (tidak konsisten). Minggu depan, saya akan melaporkan bencana kehancuran petani tebu ini ke Wakil Presiden RI dan menteri terkait,” ancamnya.
Melihat situasi yang sudah tidak kondusif, Ketua APTRI akhirnya mengambil langkah cepat untuk menutup kegiatan.
“Walaupun tidak ada hasil yang diputuskan, pertemuan ini menjadi sarana ‘kulakan masalah’ untuk kami jual kepada pihak yang lebih kompeten di Jakarta. Jika hari ini belum ada titik temu, insyaallah nanti pasti ada penyelesaiannya. Karena di atas langit masih ada langit,” kata Sunoto menutup forum dengan diplomatis. (HS-08)


