HALO SEMARANG – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menunjukkan kepedulian terhadap kasus perundungan (bullying) yang menimpa pelajar di Kabupaten Sragen dan Kabupaten Brebes.
Kepala Dinas Pendidikan Jawa Tengah, Sadimin, Minggu (19/4/2026) menyampaikan, dia bersama jajaran telah melakukan kunjungan langsung ke keluarga korban sebagai bentuk empati dan dukungan, Jumat (17/4/2026) lalu.
Kunjungan tersebut dilakukan menyusul dua peristiwa yang menjadi perhatian publik, yakni kasus perkelahian antarsiswa di SMP 2 Sumberlawang, Sragen, serta tawuran pelajar di wilayah Bulakamba, Brebes, yang mengakibatkan korban jiwa.
Di Kabupaten Sragen, rombongan Disdik Jateng mengunjungi rumah orang tua almarhum Wahyu Adi Prasetya, siswa kelas 8B SMP Negeri 2 Sumberlawang.
Korban meninggal dunia setelah terlibat perkelahian dengan siswa lain di lingkungan sekolah pada 7 April 2026.
Sadimin menyampaikan belasungkawa mendalam kepada keluarga korban, dan memastikan pemerintah hadir memberikan pendampingan.
Sekolah bersama pihak terkait juga telah melakukan langkah awal berupa pendampingan keluarga, serta turut membersamai proses pemakaman hingga kegiatan doa bersama.
“Yang sudah dilakukan oleh sekolah sejauh ini adalah pendampingan keluarga, dan membersamai di kala duka, sejak prosesi pemakaman juga pengajian, terkait kejadian siswa SMP N 2 Sumberlawang Sragen,” kata Sadimin.
Sementara itu, di Kabupaten Brebes, perhatian juga diberikan Pemprov Jateng kepada keluarga korban tawuran pelajar yang terjadi pada 30 Maret 2026 di Jalan Lingkar Utara, Kecamatan Bulakamba. Insiden tersebut melibatkan remaja bersenjata tajam, dan menyebabkan satu pelajar meninggal dunia di lokasi kejadian.
Dia menyebut, kasus di Brebes diduga dipicu oleh perselisihan sebelumnya antarkelompok pelajar.
Upaya pembinaan telah dilakukan oleh masing-masing sekolah, dengan melibatkan guru, orang tua, serta aparat keamanan setempat.
Selain itu, pihak sekolah juga telah berkoordinasi dengan kepolisian, TNI, tokoh masyarakat, dan wali murid, guna memperketat pengawasan terhadap siswa, termasuk dalam penggunaan media sosial yang kerap menjadi pemicu konflik.
“Untuk menjamin keamanan, pihak sekolah telah berkoordinasi dengan Polsek, Koramil, tokoh masyarakat, dan orang tua siswa, untuk lebih ketat melakukan pengawasan, dan memantau penggunaan media sosial,” terangnya.
Dinas Pendidikan Jateng terus melakukan koordinasi dengan dinas pendidikan kabupaten setempat, untuk mendalami penyebab kejadian secara komprehensif. Langkah itu diharapkan dapat mencegah terulangnya kasus serupa di lingkungan pendidikan.
Sadimin menyebut pentingnya kolaborasi semua pihak dalam menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan kondusif.
Sesuai arahan Gubernur Ahmad Luthfi-Wagub Taj Yasin Maimoen, dia mengimbau agar pengawasan terhadap perilaku siswa diperkuat, baik di sekolah maupun di lingkungan keluarga.
“Satu hal yang kiranya harus kita perkuat bersama melalui kolaborasi berbagai pihak, adalah mari kita wujudkan budaya sekolah aman dan nyaman, untuk menjamin lingkungan belajar, yang mampu menghadirkan kondusivitas dan hadirnya pembelajaran bermutu untuk semua,” kata dia. (HS-08)


