PANGGUNG kritik di Kota Semarang sedang mengalami plot twist yang tidak direncanakan. Para influencer yang selama ini dikenal vokal mengawasi jalannya pemerintahan, mendadak tampil dalam episode baru: saling serang.
Bukan lagi soal kebijakan publik, bukan pula soal proyek atau anggaran. Kini, yang jadi bahan konten adalah sesama pengkritik. Timeline yang biasanya penuh kritik terhadap pemerintah, mendadak berubah menjadi arena debat antar-akun.
Ada yang menyindir, ada yang membalas, ada pula yang sekadar memberi emoji api seolah sedang menonton pertandingan tinju digital.
Publik pun bingung: ini masih kritik sosial, atau sudah masuk babak personal?
Fenomena ini menarik, sekaligus sedikit mengkhawatirkan. Sebab selama ini, keberadaan influencer kritis punya peran penting sebagai “mata tambahan” bagi publik. Mereka mengangkat isu, membedah kebijakan, dan kadang menyuarakan hal-hal yang luput dari perhatian.
Dalam ekosistem demokrasi modern, peran semacam ini cukup vital. Apalagi ketika fungsi kontrol formal, seperti parlemen, tidak selalu berjalan maksimal.
Namun ketika para pengkritik mulai sibuk saling mengkritik, arah energi pun berubah.
Dari mengawasi kekuasaan, menjadi mengawasi sesama.
Di titik ini, muncul pertanyaan klasik yang selalu menarik: ini terjadi secara alami, atau ada skenario di balik layar?
Istilah “adu domba” tiba-tiba terasa relevan. Dalam sejarah politik, strategi ini bukan hal baru. Memecah kelompok yang kritis agar tidak solid, lalu membiarkan mereka sibuk dengan konflik internal.
Hasilnya cukup efektif: fokus terpecah, energi terkuras, dan isu utama perlahan terlupakan.
Namun tentu saja, tidak ada yang bisa memastikan siapa dalang di balik semua ini. Bisa jadi memang ada pihak yang sengaja meniup api kecil menjadi besar. Bisa juga ini murni konflik ego, perbedaan sudut pandang, atau sekadar salah paham yang membesar.
Di dunia digital, satu kalimat pendek bisa berubah menjadi perang panjang.
Menariknya, fenomena ini tidak hanya terjadi di media sosial. Di lingkar dalam kekuasaan, kabarnya muncul gejala yang mirip.
Informasi yang beredar menyebut adanya faksi-faksi kecil di sekitar pusat kekuasaan. Orang-orang yang dulu terlihat solid, kini mulai saling curiga. Percakapan menjadi lebih hati-hati, dan kepercayaan tidak lagi diberikan dengan mudah.
Istilah “ring satu” yang dulu terdengar kokoh, kini terasa ada keretakan.
Ada kelompok A, kelompok T, dan mungkin kelompok yang bahkan belum sempat diberi nama. Semua bergerak dengan kepentingan masing-masing, sambil sesekali melirik ke kanan-kiri untuk memastikan posisi.
Ironisnya, dinamika ini berjalan paralel dengan konflik di kalangan influencer.
Di luar ribut, di dalam juga tidak sepenuhnya tenang.
Jika dilihat dari jauh, situasi ini mirip adegan film drama kolosal yang penuh intrik. Semua orang punya agenda, semua orang punya asumsi, dan tidak ada yang benar-benar yakin siapa kawan, siapa lawan.
Bedanya, ini bukan film. Tidak ada sutradara yang memberi aba-aba “cut” saat adegan mulai terlalu panas.
Semua berjalan terus, tanpa jeda.
Kita sebagai penonton, hanya menunggu episode beriutnya seperti apa. Apakah happy ending, atau ada kejutan dalam plot twist baru yang lebih menegangkan.
Kita nantikan.(Tulisan ini disempurnakan oleh AI-HS)