in

TPA Jatibarang Nyaris Penuh, DLH Semarang Kebut Proyek Sampah Jadi Energi

Ilustrasi foto: Hewan ternak sapi di TPA Jatibarang Kota Semarang

HALO SEMARANG – Kondisi Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatibarang di Semarang kian mengkhawatirkan. Daya tampung yang hampir mencapai batas membuat pemerintah kota harus bergerak cepat mencari solusi jangka panjang dalam pengelolaan sampah.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Semarang, Glory Nasarani, mengungkapkan bahwa saat ini pengelolaan di TPA Jatibarang masih sebatas upaya memperpanjang usia tampung. Padahal, volume sampah yang masuk terus meningkat, rata-rata mencapai 1.000 ton per hari.

“Yang kami lakukan saat ini baru sebatas memperpanjang umur TPA, misalnya dengan pengurukan. Tapi ini hanya solusi sementara, beberapa tahun ke depan tetap akan penuh,” ujarnya, Minggu (5/4/2026).

Sebagai langkah strategis, Pemkot Semarang melalui DLH tengah menyiapkan penerapan teknologi Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL). Program ini diharapkan mampu mengubah timbunan sampah menjadi sumber energi terbarukan sekaligus mengurangi beban TPA.

“Tahun 2026 ini ditargetkan sudah masuk tahap lelang untuk pengadaan PSEL. Harapannya segera ada pemenang sehingga proyek ini bisa cepat direalisasikan,” jelas Glory.

Ia menambahkan, kehadiran teknologi tersebut diharapkan tidak hanya mengurangi volume sampah, tetapi juga memberikan nilai tambah dari sisi energi.

Sementara itu, untuk operasional harian, DLH memastikan pengangkutan sampah dari Tempat Penampungan Sementara (TPS) dilakukan sejak pagi hingga malam hari. Aktivitas dimulai pukul 05.00 WIB di sejumlah titik dan berlanjut hingga pukul 18.00 WIB, bahkan di beberapa lokasi tertentu bisa sampai pukul 20.00 WIB.

“Pengangkutan tidak hanya malam hari. Kami mulai sejak pagi agar penanganan lebih optimal,” katanya.

Namun demikian, ada batasan operasional di TPA. Pintu jembatan timbang ditutup pada pukul 17.00 WIB, sehingga setelah jam tersebut hanya truk milik pemerintah yang diperbolehkan masuk.

Lonjakan volume sampah juga terjadi selama libur Lebaran 2026. Rata-rata produksi sampah mencapai 900 hingga 1.000 ton per hari, bahkan sempat menembus 1.080 hingga 1.090 ton per hari pada periode 18–20 Maret. Sampah didominasi jenis organik, seiring meningkatnya aktivitas memasak di rumah tangga.

Glory mengakui, sempat terjadi penumpukan di sejumlah TPS saat Lebaran. Namun, kondisi tersebut lebih disebabkan perilaku masyarakat yang tidak menempatkan sampah di dalam kontainer.

“Banyak warga menaruh sampah di luar kontainer, sehingga terlihat penuh. Padahal di dalamnya masih ada ruang. Ini menyulitkan petugas saat pengangkutan,” ungkapnya.

Meski begitu, situasi berangsur normal dua hari setelah Lebaran. DLH pun mengimbau masyarakat untuk lebih disiplin dalam membuang sampah agar pengelolaan bisa berjalan lebih efektif.

Ke depan, Pemkot Semarang berharap penerapan teknologi PSEL dapat menjadi solusi jangka panjang atas persoalan sampah yang kian kompleks, sekaligus menjawab tantangan lingkungan di perkotaan.(HS)

Kado HUT ke-479, Pemkot Semarang Beri Diskon PBB 10 Persen dan Layanan Jemput Bola

Bau Menyengat Tumpukan Sampah Liar di Kaliwungu Dikeluhkan, Ganggu Aktivitas Warga