HALO BLORA – Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) Kabupaten Blora berencana mengerahkan 5.000 anggotanya, pada unjuk rasa menagih direksi Bulog, untuk mengoperasikan pabrik gula GMM Bulog tahun ini.
Aksi damai rencananya akan digelar Kamis (2/4/2026) pukul 09.30–12.00 WIB di Alun-alun Blora.
Rencana itu disampaikan Ketua APTRI Kabupaten Blora, H Sunoto, saat menemui Bupati Arief Rohman, dan Wakil Bupati Sri Setyorini, baru-baru ini.
Pertemuan tersebut bertujuan menyampaikan hasil rapat konsolidasi sekaligus menagih janji terkait musim giling 2026 di Bumi Indah Flora, samping Pabrik Gula PT GMM Bulog, Tinapan, Kecamatan Todanan, Blora.
Dia mengatakan para petani tebu, didukung berbagai elemen masyarakat, menagih janji Direktur Utama Bulog Pusat yang beberapa bulan lalu berkomitmen mengoperasionalkan kembali PT GMM untuk musim giling 2026.
Janji tersebut mencakup penggantian dua buah boiler yang rusak berat serta reformasi total manajemen internal PT GMM Bulog.
“Mengingat hingga saat ini belum ada kejelasan maupun tanda-tanda perbaikan fisik, para petani sepakat akan menggelar aksi damai,” kata Sunoto, seperti dirilis blorakab.go.id.
Mereka menuntut komitmen Dirut Bulog yang sebelumnya diucapkan di hadapan Bupati, Wakil Bupati, serta Ketua DPRD Blora saat pertemuan di Kantor Bulog Pusat, Jakarta.
Pengalihan Pengelolaan
Dia mengatakan jika pihak Bulog merasa tidak sanggup lagi mengelola PT GMM, maka petani meminta agar pengelolaan tersebut diserahkan kepada pihak swasta.
Hal ini ditegaskan agar nasib para petani tebu tidak terus menjadi korban ketidakpastian manajemen.
Sunoto, selaku penanggung jawab aksi, menyatakan bahwa kegiatan ini akan dilakukan secara santun namun tetap mengedepankan semangat perjuangan dan kekeluargaan.
Senada dengan itu, Anton Sudibdya menekankan bahwa aksi ini bertujuan menyuarakan penderitaan petani agar didengar oleh Presiden Prabowo Subianto demi mendukung swasembada gula tahun 2027.
Kekecewaan petani berakar pada “tragedi giling 2025”, di mana penghentian giling secara sepihak oleh manajemen PT GMM akibat kerusakan boiler menyebabkan kerugian petani mencapai Rp75 miliar.
Wahyuningsih, mantan Kabag Tanaman PT GMM, juga menyatakan keheranannya (gumun) karena meski perwakilan petani sudah berulang kali mengadu hingga ke Jakarta, belum ada solusi nyata bagi “wong cilik”.
Para petani berharap perjuangan ini mendapat perhatian langsung dari Presiden Prabowo Subianto, yang diharapkan peduli pada kesejahteraan petani.
Dengan semboyan “Rawe-rawe rantas, malang-malang putung”, mereka memotivasi diri untuk terus berjuang demi nasib dan keberlangsungan hidup petani tebu di Blora. (HS-08).