HALO WONOGIRI – Kelompok Wanita Tani (KWT) Sabrina, di Dusun Wonoleren, Desa Karangtengah, Kebupaten Wonogiri, yang dipimpin Tuni Suwarno, berinovasi membuat beras dari bahan talas beneng.
“Desa kami kaya akan berbagai macam tanaman talas, salah satunya adalah Talas Beneng,” kata Tuni Suwarno, Kamis (26/3/2026) membagikan pengalamannya.
Dia mengatakan talas beneng merupakan singkatan dari talas besar dan koneng (kuning), bentuk talasnya besar dan berwarna kuning.
“Setelah melakukan beberapa kali percobaan, jadilah beras berbahan talas beneng. Pembuatanya memang lebih lama dari beras padi, namun dari tekstur dan rasa mirip dengan nasi dari beras seperti biasanya,” ungkap Tuni, seperti dirilis wonogirikab.go.id.
Bahan dan proses pembuatan Beras Analog cukup sederhana, terdiri atas Talas, Tepung Sagu, Pengemulsi dan Air.
Langkahnya talas beneng dikupas, dicuci sampai bersih dan diiris tipis-tipis, lalu dicuci kembali sampai hilang getahnya kemudian dijemur hingga kering (4-6 hari).
Setelah kering, giling hingga jadi tepung Talas Beneng. Berikutnya campur Tepung Talas dengan bahan lain, komposisinya terdiri dari 1 kg tepung Talas Beneng, 100 gram Tepung Sagu, 1 sendok makan pengemulsi dan air secukupnya.
Buat menjadi adonan, masukkan adonan ke dalam alat pencetak, potong menyerupai bentuk beras dan jemur sampai kering.
“Untuk memasak Beras Analog Talas Beneng dilakukan dengan cara cuci beras analog, kukus selama 10 menit, tiriskan, kemudian siram dengan air dingin, kukus kembali selama 15 menit sampai matang, dan Beras Analog siap untuk dihidangkan,” tambah Tuni dalam keterangannya.
Contoh nyata diversifikasi pangan ini diharapkan mampu menjadi alternatif pemenuhan bahan makanan pokok pengganti beras.
Selain mudah didapatkan dari lingkungan sekitar, proses dan cara pengolahannya relatif sederhana. Kelompok Wanita Tani “Sabrina” Desa Karangtengah telah mengambil inisiatif dalam mendukung program ketahanan pangan pemerintah melalui inovasi Beras Analog Talas Beneng. (HS-08)