HALO SEMARANG – Anggota Komisi VI DPR RI, Rahmat Gobel menilai pernyataan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia terkait stok bahan bakar minyak (BBM) dalam negeri hanya cukup untuk 21 hari, merupakan bentuk keterbukaan dari pemerintah, mengenai kondisi cadangan energi nasional.
Hal itu menurutnya sangat penting untuk membangun kepercayaan publik, sekaligus momen pembelajaran bagi pemerintah dan masyarakat.
“Kita harus terbuka kepada masyarakat mengenai kondisi yang ada. Di saat yang sama, masyarakat juga perlu diajak untuk menyikapi situasi ini dengan bijak, misalnya dengan mulai berhemat dalam penggunaan energi,” kata Gobel, dalam kunjungan kerja reses Komisi VI DPR ke Surabaya, Jawa Timur, belum lama ini.
Dijelaskan Politisi dari Fraksi Partai NasDem ini, konflik yang terjadi di kawasan Timur Tengah, termasuk ketegangan antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat, memunculkan berbagai kekhawatiran terkait stabilitas pasokan energi global, baik minyak, gas, maupun listrik.
Namun hal ini menjadi momentum pembelajaran bagi pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan untuk memperkuat sistem ketahanan energi nasional ke depan.
Termasuk mengambil berbagai langkah strategis lainnya untuk menyiasati kondisi yang ada.
“Yang paling penting, menurut saya adalah pemerintah, termasuk PLN dan Pertamina, harus mengambil langkah strategis. Ini menjadi pengalaman penting bagi kita untuk melihat apa yang masih kurang dan apa pekerjaan rumah yang harus segera kita selesaikan,” tegas politisi asal Gorontalo itu, seperti dirilis dpr.go.id.
Salah satu pekerjaan rumah yang harus segera diselesaikan adalah percepatan investasi di sektor energi, khususnya pada sektor pengolahan energi seperti kilang (refinery) dan pengembangan energi baru terbarukan.
Gobel menilai pemerintah perlu menciptakan iklim investasi yang kondusif agar berbagai proyek strategis di sektor energi dapat berjalan lebih cepat.
Sedangkan untuk masyarakat sendiri, selain harus lebih bijak dan menghemat dalam penggunaan energi, Gobel berharap masyarakat tidak melakukan pembelian berlebihan atau panic buying BBM. Sikap demikian, menurutnya, justru akan memperburuk kondisi yang ada.
“Dalam hal Ini perlu edukasi tidak hanya dari pemerintah, namun juga seluruh elemen bangsa kepada masyarakat untuk tidak panic buying dengan melakukan pembelian berlebih atau bahkan penimbunan BBM yang justru akan memperparah kondisi di lapangan. Sekali lagi ini pembelajaran bagi kita semua. Sebagai negara besar, kita harus memperkuat sistem energi kita agar lebih tangguh dan tidak mudah terpengaruh oleh dinamika global,” tegasnya.
Sebelumnya, sebagian kalangan di masyarakat dilanda kepanikan, setelah Bahlil menyebut stok BBM di negeri cuma cukup selama 21 hari imbas perang Iran vs Israel.
Namun kemudian Bahlil menjelaskan bahwa daya tampung BBM di Indonesia memang tidak lebih dari 21 hingga 25 hari.
“Memang sejak dahulu, sudah sejak lama, bahwa kemampuan storage kita, daya tampung BBM kita di Republik Indonesia ini tidak lebih dari 21 sampai 25 hari,” kata Bahlil.
Sekarang, rerata stok BBM nasional mencapai 22-23 hari, berdasarkan rapat Dewan Energi Nasional (DEN), di Kantor Kementerian ESDM, pada Selasa 3 Maret 2026. (HS-08)