in

Dari Setetes Air ke Rasa Syukur: Tasyukuran Sumur Bor di Golden Brown Kaliwungu

Proses pembuatan sumur bor di rumah kos Jalan Jatimulyo, Desa Plantaran, Kecamatan Kaliwungu Selatan, Kabupaten Kendal, baru-baru ini.

LANGIT senja perlahan meredup di kawasan Perumahan Golden Brown, Jalan Jatimulyo, Desa Plantaran, Kecamatan Kaliwungu Selatan, Kabupaten Kendal, Jumat (6/3/2026). Di halaman sebuah rumah kos tiga lantai, aroma nasi tumpeng dan hidangan berbuka puasa bercampur dengan suasana hangat penuh syukur.

Beberapa warga, tamu undangan, serta anak-anak yatim duduk melingkar. Di tengah mereka berdiri seorang pengusaha emas asal Blitar, Jawa Timur, Agung Riyanto. Sore itu ia menggelar tasyukuran sederhana atas rampungnya pembangunan sumur bor yang akan memasok kebutuhan air bersih bagi rumah kos miliknya.

Sumur bor tersebut bukan sekadar fasilitas baru. Bagi Agung, proyek senilai sekitar Rp50 juta itu menjadi simbol kerja sama yang lahir dari hubungan baik antar-tetangga.

Lokasi pengeboran berdiri di lahan milik Slamet Riyadi, yang juga merupakan tetangganya di kawasan tersebut.

“Kehadiran sumur bor ini bukan hanya untuk meningkatkan layanan di rumah kos saya, tetapi juga menjadi bukti bahwa hubungan baik antar-tetangga bisa melahirkan solusi yang bermanfaat bagi banyak orang,” ujar Agung di sela acara.

Puncak acara ditandai dengan prosesi pemotongan nasi tumpeng. Dengan senyum hangat, Agung menyerahkan potongan pertama kepada Slamet Riyadi sebagai simbol penghormatan atas kerja sama yang terjalin.

Tepuk tangan kecil terdengar dari para tamu yang hadir. Momen sederhana itu terasa hangat, seolah menegaskan bahwa proyek kecil di sudut perumahan tersebut lahir dari semangat kebersamaan.

Suasana semakin khidmat ketika doa bersama dipimpin oleh Ustaz Sutrisno. Para tamu undangan menundukkan kepala, memanjatkan doa agar sumur yang baru selesai dibangun itu membawa manfaat dan keberkahan.

Kehangatan acara juga terasa dengan kehadiran 16 anak yatim putri beserta tiga pendamping dari Panti Asuhan Yatim Muhammadiyah Hajah Rumijatun. Mereka ikut larut dalam suasana doa sebelum akhirnya bersama-sama menikmati hidangan berbuka puasa.

Bagi Agung, pembangunan sumur bor bukan sekadar proyek tambahan. Ia menyebutnya sebagai kebutuhan mendesak untuk menjamin ketersediaan air bersih bagi penghuni rumah kosnya.

Hunian tiga lantai yang berdiri di atas lahan seluas 180 meter persegi itu memiliki total 40 kamar.

“Air bersih adalah kebutuhan utama. Kami ingin memastikan penghuni mendapatkan layanan air yang layak dan tersedia 24 jam,” jelasnya.

Rumah kos tersebut dilengkapi berbagai fasilitas modern, mulai dari kamar mandi dalam, pilihan pendingin ruangan berupa kipas angin atau AC, smart TV, jaringan Wi-Fi, hingga area parkir luas di lantai basement.

Lokasinya juga cukup strategis, hanya sekitar 10 menit dari Kawasan Industri Kendal, kawasan industri besar yang menjadi magnet bagi para pekerja dari berbagai daerah.

Agung menegaskan bahwa rumah kos yang ia kelola menerapkan aturan khusus demi menjaga kenyamanan dan keamanan lingkungan.

Dengan sistem keamanan yang dijaga, hunian tersebut diperuntukkan secara khusus bagi penyewa perempuan serta pasangan suami istri atau keluarga.

“Tujuannya agar lingkungan tetap nyaman, tertib, dan aman bagi semua penghuni,” ujarnya.

Senja pun semakin gelap ketika azan magrib berkumandang. Para tamu perlahan menikmati hidangan berbuka. Di sudut halaman rumah kos itu, sumur bor yang baru saja selesai dibangun berdiri tenang—sebuah fasilitas sederhana yang lahir dari kerja sama, dan kini menjadi sumber harapan baru bagi para penghuninya.(HS)

Pemkab Rembang Buka Posko Aduan THR, Pastikan Hak Pekerja Terpenuhi

Pendatang Baru, Polytron Tembus Persaingan Mobil Listrik dan Salip Sejumlah Merek Global