DARI atas perbukitan karst Gunungkidul, Yogyakarta tampak seperti hamparan panorama yang tenang. Angin berembus ringan, langit terbuka luas, dan di satu sudut Dusun Ngandong, Patuk, berdiri sebuah destinasi wisata yang tengah naik daun: PICTNIQ Gunungkidul. Meski terbilang pendatang baru—dibuka pada momen Lebaran 2025—tempat ini dengan cepat menjelma menjadi magnet wisata keluarga dan generasi muda yang gemar berburu pengalaman visual.
Gunungkidul memang sudah lama dikenal sebagai “lantai dua” Yogyakarta. Gugusan perbukitan kapur dan garis pantai berpasir putih menjadikan wilayah di tenggara DIY ini selalu punya daya pikat tersendiri. Tak heran jika kehadiran PICTNIQ langsung menemukan panggungnya di kawasan wisata favorit yang relatif dekat dari pusat Kota Yogyakarta.
“PICTNIQ saat ini sedang hype dan banyak dikunjungi wisatawan dari berbagai daerah,” ujar Aghnia An’Umillah, tim Marketing PICTNIQ, Sabtu (31/1/2026).
Daya tarik utama PICTNIQ terletak pada konsepnya yang unik: “Keliling Dunia dalam Satu Hari.” Begitu melangkah masuk, pengunjung seolah diajak berpindah benua tanpa perlu paspor. Di satu sudut berdiri replika Colosseum dari Roma, tak jauh dari sana menyapa Japan Gate bernuansa Negeri Sakura. Ada pula Little Pisa dari Italia, Glory Gate ala Arc de Triomphe Paris, sentuhan putih biru Santorini dari Yunani, hingga lanskap eksotis Cappadocia dari Turki. Semua tersaji dengan latar pemandangan perbukitan khas Yogya lantai dua yang memesona.
Namun PICTNIQ bukan sekadar tempat berfoto. Menurut Aghnia, destinasi ini juga dirancang sebagai wisata edukatif yang menyenangkan, memperkenalkan ragam landmark dunia lewat visual yang atraktif dan sentuhan budaya global. Tak heran jika pengunjungnya datang dari berbagai kalangan—mulai dari keluarga, komunitas, anak-anak, hingga generasi muda.
Soal tiket, PICTNIQ terbilang ramah di kantong. Harga tiket masuk mulai Rp 35.000, sudah termasuk akses ke hampir seluruh spot foto. Beberapa spot premium memang berbayar, namun harganya tetap terjangkau. Bahkan, pengelola rutin menghadirkan promo diskon hingga 50 persen untuk spot tertentu.
“Dengan harga seperti itu, pengunjung tetap bisa mendapatkan pengalaman dan view yang menakjubkan, yang hanya bisa didapatkan di PICTNIQ,” jelas Aghnia.
Seiring waktu, PICTNIQ terus berbenah. Sejumlah spot baru ditambahkan, salah satunya ikon Kingkong yang berdiri mencolok di area PICTNIQ Bridge. Tak hanya itu, tersedia pula beragam wahana ketangkasan seperti basket, tinju, pukul tikus, mancing, hingga odong-odong. Untuk pencinta sensasi, ada Cinema 7 Dimensi, Mini Car, dan wahana Dino yang bisa dinikmati dengan harga terjangkau.
Usai berkeliling, urusan perut pun tak luput dari perhatian. Di dalam kawasan PICTNIQ, pengunjung dapat menemukan beragam kios makanan dan minuman. Bagi yang datang berombongan, tersedia restoran Goela Djawa dengan sajian khas Nusantara. Ada pula Bambino Gelato dan Cosan Coffeeshop, tempat ideal untuk bersantai sambil menikmati panorama perbukitan.
“PICTNIQ sangat cocok untuk mengisi momen liburan, baik untuk study tour, gathering, maupun berkumpul bersama keluarga dan kerabat,” tambah Aghnia.
Dengan kapasitas hingga 1.000 pengunjung dan area parkir yang luas, PICTNIQ siap menampung rombongan besar tanpa perlu khawatir soal kenyamanan.
Pada akhirnya, PICTNIQ Gunungkidul menawarkan lebih dari sekadar destinasi wisata. Ia menghadirkan pengalaman—tentang melihat dunia dari satu tempat, tentang bersantai di ketinggian Yogya lantai dua, dan tentang menikmati liburan yang sederhana namun berkesan. Dengan harga terjangkau dan konsep unik, PICTNIQ layak masuk dalam daftar kunjungan siapa pun yang ingin merasakan sensasi keliling dunia tanpa harus meninggalkan Yogyakarta.(HS)


