in

Waspada Hipertensi dan Diabetes Melitus, Ini Dia Gejala dan Penanganannya

Warga menjalani pemeriksaan tekanan darah, pada kegiatan pemeriksaan kesehatan gratis di kawasan Klipang, tepatnya di balai RW 16 Kelurahan Sendangmulyo, kecamatan Tembalang, Kota Semarang. (Foto : Halo Semarang)

 

HALO SEMARANG – Pola makan dan hidup yang tidak sehat, telah menimbulkan persoalan kesehatan serius, termasuk munculnya beragam penyakit tidak menular, seperti hipertensi dan diabetes melitus.

Hal itu diungkap Kepala Program Studi S-1 Keperawatan UNTS, Ns Anis Ardiyanti MKep, Minggu (18/1/2026) di sela-sela kegiatan pemeriksaan kesehatan gratis di kawasan Klipang, tepatnya di balai RW 16 Kelurahan Sendangmulyo, kecamatan Tembalang, Kota Semarang.

Kegiatan ini sekaligus merupakan sosialisasi awal pembangunan gedung kampus UNTS di Klipang di lahan, yang selama ini dikenal sebagai lapangan golf.

Dalam acara itu dia mengungkapkan jumlah penderita kedua penyakit tersebut di Kota Semarang mencapai ribuan orang.

Mengutip data Dinas Kesehatan Kota Semarang, Anis Ardiyanti mengemukakan, pada 2025 penderita hipertensi mencapai 288.840 orang, terdiri atas laki-laki 108.541 dan perempuan 180.299.

Adapun penderita diabetes melitus (DM), mencapai 40.443, terdiri atas laki-laki 15.228 dan perempuan 25.215.

Berdasarkan angka-angka tersebut, jumlah perempuan penderita diabetes dan hipertensi lebih banyak dibanding laki-laki. Menurut dia, hal ini dipengaruhi oleh faktor hormon pada perempuan.

Namun demikian secara umum, munculnya kedua penyakit tersebut dipengaruhi oleh pola hidup.

Untuk diabetes, penyakit tersebut antara lain muncul karena faktor genetik, lingkungan, usia, ras, lemak, kurang aktivitas, obesitas, prediabetes, diabetes gastasional, dan ovarium polikistik atau Sindrom Ovarium Polikistik (PCOS).

Adapun tanda dan gejala orang terkena diabetes, adalah poliuri atau sering buang air kecil, polifagi atau sering lapar hingga makan berlebihan, polidipsi atau sering haus, sering lelah, gangguan penglihatan dan penurunan berat badan.

Dia mengingatkan, penyakit diabetes melitus ini tidak boleh dianggap sepele, karena bisa mengakibatkan komplikasi, seperti kardiovaskuler atau jantung; ginjal kronis; glaukoma, katarak, atau penglihatan ganda; neuropati; dan radang gusi.

Untuk mencegah penyakit ini, dapat dilakukan melalui perubahan gaya hidup sehat, termasuk pola makan seimbang, aktivitas fisik, dan pemeriksaan kesehatan rutin.

Gaya hidup sehat itu antara lain dengan menjaga berat badan ideal, karena obesitas merupakan salah satu faktor risiko utama diabetes.

Menjaga berat badan dalam batas normal dapat membantu meningkatkan sensitivitas insulin dan mengurangi risiko diabetes tipe 2.

Selain itu juga menerapkan pola makan sehat, dengan mengonsumsi makanan bergizi seimbang yang kaya serat, seperti buah-buahan, sayuran, dan biji-bijian. Hindari makanan tinggi lemak jenuh dan gula. Mengurangi asupan karbohidrat olahan juga penting untuk mencegah lonjakan gula darah.

Aktivitas fisik rutin, seperti olahraga setidaknya 150 menit per minggu juga penting untuk dilakukan. Aktivitas fisik seperti ini dapat membantu mengontrol berat badan dan meningkatkan sensitivitas insulin, sehingga kadar gula darah tetap stabil.

Hindari kebiasaan buruk seperti merokok dan konsumsi alkohol berlebihan, karena keduanya dapat meningkatkan risiko diabetes.

Penting pula untuk melakukan pemeriksaan kesehatan rutin, termasuk pemeriksaan kadar gula darah secara berkala, terutama jika ada faktor risiko diabetes. Deteksi dini dapat membantu penanganan yang lebih cepat.

Mengelola stres dapat mempengaruhi kadar gula darah. Mengelola stres ini antara lain dapat dilakukan melalui teknik relaksasi, meditasi, atau aktivitas yang menyenangkan dapat membantu menjaga kesehatan secara keseluruhan.

Namun demikian apabila sudah terkena diabetes melitus, maka minum obat secara teratur harus dilakukan, disamping menerapkan pola hidup sehat.

Hipertensi

Selain diabetes melitus, hipertensi juga merupakan penyakit kronis yang perlu diwaspadai.

Anis Ardiyanti mengemukakan, hipertensi adalah kondisi di mana tekanan darah seseorang melebihi batas normal, yaitu untuk sistolik di atas 140 mmHg dan diastolis 90 mmHg.

Penyakit darah tinggi ini, antara lain disebabkan oleh stres, obesitas, usia, dan keturunan, serta pola hidup tidak sehat.

Adapun gejala tanda hipertensi, antara lain pusing dan lemas, berat di tengkuk, kesemutan, dan gangguan tidur.

Penyakit kronis ini harus ditangani dengan benar, karena dapat menimbulkan sejumlah komplikasi.

“Konplikasi antara lain gagal jantung, stroke, gagal ginjal, gangguan serebral, dan kerusakan retina,” kata dia.

Penderita darah tinggi perlu menghindari sejumlah makanan, seperti jeroan, durian, makanan instan, tape, dan makanan asin.

Adapun bagi penderita, upaya yang perlu dilakukan, antara lain olahraga teratur, minum obat rutin, istirahat cukup, mengurangi garam, dan periksa tekanan darah rutin.

Bangun Kampus

Sementara itu terkait sosialisasi pembangunan gedung kampus UNTS di kawasan Klipang, Kelurahan Sendangmulyo, Kecamatan Tembalang, Kota Semarang, Wakil Rektor UNTS Bidang Kemahasiswaan, Alumni, Bisnis, dan Kerja Sama, Dr Nana Noviada Kwartawati SE SM, mengatakan gedung tersebut akan menempati lahan lebih kurang seluas 2 hektare di sebagian lahan yang selama ini dikenal sebagai lapangan golf Klipang.

“Pembangunan diharapkan akan berlangsung akhir tahun ini,” kata dia.

Selain perguruan tinggi, diproyeksikan ke depan di tempat itu juga akan dibangun pula rumah sakit.

Adapun proses perkuliahan di gedung baru delapan lantai itu, nantinya mencakup antara lain program studi S-1 Keperawatan, D-3 Keperawatan, S-1 Kebidanan, S-1 Fisioterapi, S-1 Bisnis Digital, dan S-1 Kewirausahaan.

“Untuk kampus lama di Jalan Arteri Yos Sudarso tetap digunakan untuk S-1 Farmasi dan Profesi Apoteker,” kata Nana. (HS-08)

 

Polres Kendal Beri Penghargaan Anggota dan Masyarakat dalam Upacara Hari Kesadaran Nasional

Ikatan Mahasiswa Pemalang Adakan Undip Fair 2026