in

Berkat IDRIP, Peringatan Dini Gempa–Tsunami Kini Maksimum 3 Menit dengan  Akurasi Lebih dari 90 Persen

Closing Ceremony IDRIP di BNPB 30 Oktober 2025. (Foto : bmkg.go.id)

 

HALO SEMARANG – Badan Meteorologi Klimatologi Geofisika (BMKG) kini dapat memberikan peringatan dini tsunami, lebih cepat dibanding sebelumnya, setelah adanya proyek Indonesia Disaster Resilience Initiative Project (IDRIP) di Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

Jika semula peringatan tsunami diberikan dalam waktu 5 menit setelah gempa, maka setelah dikerjakan melalui proyek IDRIP, menjadi lebih singkat yakni hanya 2 sampai 3 menit, dengan akurasi lebih dari 90 persen.

Hal itu diungkap Kepala BMKG Dwikorita Karnawati, pada Closing Ceremony IDRIP di BNPB.

“Sebelumnya peringatan dini diberikan dalam waktu 5 menit. Setelah dikerjakan melalui proyek IDRIP kami sudah dapat memberikan peringatan dini dan sudah teruji maksimum 3 menit, bahkan beberapa kejadian antara 2 hingga 3 menit. Kemudian lebih akurat, akurasinya meningkat dan jangkauannya juga lebih luas,” kata Dwikorita, seperti dirilis bmkg.go.id.

Sistem peringatan dini ini diintegrasikan menjadi sistem Multi Hazard Early Warning System (MHEWS), yang dibangun di Kemayoran (Jakarta), sebagai sistem yang utama dan di Denpasar (Bali) sebagai backup center.

Dalam sistem ini, data dari modul seismologi–tsunami digabungkan dengan jaringan diseminasi terpadu, agar aliran informasi dari hulu ke hilir berjalan mulus, yang diperkuat oleh supercomputer.

Menurut Dwikorita, pengembangan high performance computing digunakan untuk mempercepat analisis gempa dan tsunami secara real time.

“Ini merupakan suatu hasil yang patut kita banggakan karena supercomputer yang dihasilkan dari proyek IDRIP ini termasuk 500 besar supercomputer yang ada di dunia. Jadi masuk dalam rentetan 500 besar dan kita beri nama SMONG (Supercomputer for Multi-hazards Operations and Numerical Modelling),” kata dia.

Modernisasi peralatan diimbangi dengan penguatan kapasitas SDM, telah terlaksana lebih dari 40 pelatihan yang melibatkan 1.000+ peserta lintas satuan kerja dan mitra daerah.

Dwikorita menyampaikan apresiasi kepada BNPB sebagai Executing Agency, Bank Dunia, serta seluruh kementerian/lembaga dan pemerintah daerah yang terlibat. Ia menutup dengan seruan kolaboratif:

“Mari kita perkuat Early Warning for All dan Early Action by All—agar peringatan dini yang makin cepat dan akurat benar-benar menyelamatkan nyawa,” kata dia.

Acara ini menandai berakhirnya proyek kolaboratif antara pemerintah indonesia dan World Bank, di mana BNPB bertindak sebagai executing agency dan BMKG sebagai selaku implementing agency.

Mekanisme monitoring evaluasi dan pelaporan IDRIP yang dilaksanakan bersama BNPB mencerminkan prinsip akuntabilitas dan transparansi sesuai regulasi nasional sistem pengaduan dan umpan balik publik terintegrasi antara BNPB dan BMKG yang menjadi bukti nyata bahwa program ini tidak hanya berorientasi pada output tetapi juga impact bagi masyarakat.

Sementara itu Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto, menegaskan bahwa IDRIP lahir dari pelajaran bencana 2018 (NTB, Palu–Donggala, dan Selat Sunda) untuk memperkuat peralatan, SDM, dan kesiapsiagaan di wilayah berisiko gempa–tsunami.

Suharyanto menambahkan, rantai hilir kini terstandar dan terlatih, informasi BMKG mengalir ke Pusdalops pusat–daerah, diteruskan ke desa tangguh, sirine diaktifkan, warga mengikuti rute evakuasi yang sudah diperkenalkan dalam Latihan, sehingga perilaku berbahaya seperti berbondong ke pantai saat air surut tidak terjadi lagi. “Bencananya tidak bisa dihentikan, tapi risikonya bisa dikurangi,” kata dia. (HS-08)

Ahmad Luthfi Izinkan Aset Pemprov Jateng di Tagal untuk Outlet dan Pembinaan Pelaku UMKM

Putusan MK Soal Keterwakilan Perempuan di Alat Kelengkapan Dewab Sejalan dengan Isu Kesetaraan Gender