in

Suhu Udara Panas Melanda Semarang, Waspada Dampak Kesehatan

ilustrasi prakiraan cuaca.

LANGIT cerah tanpa awan menyelimuti Kota Semarang pada akhir pekan ini, di mana suhu udara naik hingga 34 derajat Celsius pada 27 September 2025, berdasarkan data prakiraan cuaca harian dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

Kejadian ini terjadi di berbagai wilayah kota seperti pusat perdagangan dan kawasan perumahan, disebabkan oleh pola angin lemah dan pengaruh tren iklim jangka panjang seperti deforestasi serta pemanasan global.

BMKG mencatat kelembaban udara rendah antara 49 hingga 98 persen, yang membuat sensasi panas terasa lebih menyengat. Meski demikian, prakiraan menunjukkan kemungkinan hujan ringan mulai besok, yang diharapkan meredakan kondisi ini. Laporan ini dirangkum dari pengamatan stasiun BMKG di wilayah Jawa Tengah, dengan pembaruan terbaru pada pukul 07.00 WIB hari ini.

Data BMKG menunjukkan, bahwa sepanjang pekan ketiga September 2025, suhu maksimum harian di kota ini sering kali berada di atas 33 derajat Celsius, dengan puncak 34 derajat pada 27 September.

Hal ini sejalan dengan prakiraan cuaca yang diterbitkan BMKG, di mana suhu rata-rata berkisar 24 hingga 34 derajat Celsius, disertai kelembaban yang bervariasi.

“Cuaca cerah berawan mendominasi wilayah Semarang hari ini, dengan potensi hujan ringan di malam hari,” demikian disampaikan dalam siaran prakiraan BMKG pada 27 September 2025.

Dari situ, bisa dipahami bahwa panas ini bukan kejadian sesaat, melainkan bagian dari pola iklim yang lebih besar di Jawa Tengah. Menurut laporan tren iklim BMKG untuk 2025, anomali suhu udara di Indonesia menunjukkan peningkatan rata-rata 0,6 hingga 0,77 derajat Celsius dibandingkan periode normal 1991-2020, seperti yang tercatat pada Juli dan Agustus lalu.

Di Semarang khususnya, suhu panas hingga 34 derajat Celsius telah menjadi tren sejak pertengahan September, dipengaruhi oleh bibit siklon tropis di Asia Timur yang mengganggu aliran angin muson.

Direktur Informasi Perubahan Iklim BMKG menyatakan, bahwa deforestasi menjadi salah satu penyebab utama, karena hilangnya pepohonan mengurangi efek pendingin alami di wilayah urban seperti Semarang.

Pernyataan resmi dari BMKG juga menekankan pentingnya kewaspadaan. Dalam prospek cuaca mingguan periode 24-30 September 2025, lembaga ini memperingatkan indeks panas yang mendekati ambang batas aman, di mana sensasi panas bisa terasa hingga 38 derajat Celsius karena kelembaban rendah.

“Masyarakat diimbau membatasi aktivitas di luar ruangan antara pukul 11.00 hingga 15.00 WIB, serta minum air yang cukup untuk mencegah dehidrasi,” ujar perwakilan BMKG dalam konferensi pers awal September 2025 lalu.

Data ini didukung oleh analisis historis, di mana suhu rata-rata bulanan September 2025 diproyeksikan naik 0,4 derajat Celsius dari tahun sebelumnya, sebagaimana diuraikan dalam buletin iklim BMKG.

Panas seperti ini tidak hanya membuat hari terasa lebih melelahkan, tapi juga memengaruhi kesehatan masyarakat. Kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan pekerja luar ruangan menjadi yang paling terdampak.

Menurut panduan Kementerian Kesehatan, suhu di atas 33 derajat Celsius dapat meningkatkan risiko heatstroke, dengan gejala seperti mual dan pingsan. Banyak warga, terutama di kawasan padat seperti Semarang Utara, Tugu, Gayamsari atau Tembalang, mengeluhkan tentang suhu udara yang panas saat siang hari.

“Kalau keluar dengan kendaraan bermotor, rasa panas sangat terasa saat berhenti di traffic light. Di dalam ruangan juga sama, sangat gerah,” kata Indra, warga Kecamatan Tembalang yang bekerja di kawasan Kota Lama Semarang, Sabtu (27/9/2025).

Secara historis, anomali suhu di Semarang mencerminkan pola yang konsisten. Pada Juli 2025, suhu rata-rata 26,8 derajat Celsius dengan anomali +0,77 derajat, sementara Agustus naik menjadi 26,5 derajat dengan +0,6 derajat. September melanjutkan tren ini, dengan curah hujan harian tertinggi hanya 50 mm di beberapa titik, jauh di bawah normal.(HS)

Ada Laporan Warga Terjangkit Chikungunya, Ini Langkah Pemerintah Kelurahan Bandengan Kendal

Hasil Ternak Jawa Tengah Berkontribusi Besar Secara Nasional