in

Keterbatasan Fisik Tak Pengaruhi Gadis Difabel asal Banjarnegara untuk Membuat Usaha Mainan Edukasi

Kreasi Dwi Retno Anggraeni (26), gadis difabel warga RT 02/RW 02 Kelurahan Parakacanggah, Kecamatan Banjarnegara, Kabupaten Banjarnegara.

HALO BANJARNEGARA – Meski keseharian selalu di atas kursi roda, gadis difabel, Dwi Retno Anggraeni (26), warga RT 02/RW 02 Kelurahan Parakacanggah, Kecamatan Banjarnegara, Kabupaten Banjarnegara tidak mengenal putus asa.

Bahkan dengan tegar ia mengakui, hidupnya memang sempat terpuruk pascainsiden saat melakukan olahraga di sekolahnya, MAN 1 Banjarnegara pada tahun 2016 silam. Namun seiring berjalannya waktu, dirinya bisa beradaptasi perubahan pada tubuh dan fungsi tubuh.

Retno panggilan akrabnya menceritakan, kala itu dia tidak kuat lagi berjalan, karena kakinya lemas dan tidak bisa bergerak setelah melakukan push up.

Sejak saat itu, ia harus menggunakan kursi roda. Berkat suport dari kedua orang tua dan teman sekelasnya, ia pun mampu melanjutkan sekolahnya hingga tamat, dan saat ini tengah mengikuti kuliah semester tiga di universitas terbuka.

‎Ditemui di sela – sela kegiatan launching Kartu Disabilitas oleh Bupati Banjarnegara dr Amalia Desiana di rumahnya, Selasa (8/7/2025), Retno menyebut, dirinya jarang keluar rumah setelah tamat sekolah.

‎Berbekal Ponsel yang dibelikan oleh orang tuanya, Retno sering melihat video di sebuah channel. Disamping untuk hiburan, Retno juga belajar dari internet beragam aktivitas yang dilakukan oleh beberapa anak – anak difabel.

“Saya waktu itu jarang keluar rumah. Keseharian saya, ya melihat video-video di youtube. Selain untuk hiburan, juga belajar tutorial beragam aktivitas yang dilakukan anak-anak difabel,” ungkapnya.

‎Hal itulah yang membuat Retno terinspirasi untuk hidup mandiri dan bisa berkreasi. Rupanya banyak di sana, mereka yang senasib dengannya bisa sukses dan menciptakan inovasi-inovasi.

Ia kembali menceritakan, pada tahun 2017 sudah mulai membuat kerajinan tangan berbahan kain flanel. Rupanya Retno lebih fokus membuat kerajinan edukasi, seperti beragam buah – buahan, kue donat hingga jajanan pasar.

‎Tiga tahun dirinya bergelut dengan mesin jahit, kain flanel. Kemudian dengan mengandalkan media sosial, Retno mulai mempromosikan hasil karyanya tersebut.

“Alhamdulillah sejak tahun 2020 lalu, hasil kerajinan yang saya buat mulai dilirik konsumen. Alhamdulillah omzet penjualannya pun perlahan meningkat,” ujarnya dengan penuh semangat.

‎Mengetahui hasil karyanya mulai laku di pasaran, semangat Retno bertambah untuk terus berkarya. Seiring waktu berjalan mainan edukasi buatan Retno kemudian dipatenkan dengan merk “d’Ra Craft”.

‎Retno juga menyampaikan rasa syukur, walau omzet yang didapat masih terbilang kecil, namun ada tren meningkat.

“Omzet setiap bulan memang masih kecil dikisaran Rp 1,5 juta hingga Rp 2 juta. Mudah – mudahan ke depannya bisa terus meningkat,” tuturnya optimis.

‎Retno juga menyampaikan banyak terima kasih atas kehadiran Bupati Banjarnegara dr Amalia Desiana dan pejabat lain dari Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) ke rumahnya.

‎”Hari ini kami merasa bahagia, karena Bupati Banjarnegara, Ibu dokter Amalia Desiana berkenan datang ke rumah saya sekaligus menyerahkan Kartu Disabilitas kepada kami,” ungkapnya dengan bahagia.

Sementara itu, Bupati Banjarnegara, dr Amalia Desiana berharap, dengan adanya kartu ini para penyandang disabilitas dapat memperoleh pelayanan dan hak yang sama, tanpa diskriminasi dalam pelayanan publik.

“Hari ini kita luncurkan Kartu Disabilitas secara simbolis kepada salah satu penerima di Kabupaten Banjarnegara. Semoga bermanfaat untuk memberikan kemudahan bagi para disabilitas dalam mendapatkan pelayanan publik,” ujarnya.

Bupati mengapresiasi apa yang telah dilakukan Retno, dengan terus berkarya meskipun di tengah keterbatasan, sehingga mampu memberikan contoh semangat dan inspirasi, serta berhasil move on dari keterbatasan. (HS-06)

 

Kemensos Siapkan 9 Ribu Laptop untuk Sekolah Rakyat

Buka Geofest International Conference 2025, Sekda Jateng Minta Kelestarian Alam di Kawasan Geopark Kebumen Terus Dijaga