HALO KENDAL – Mengusung tema “Mendongeng Itu Penting!’, Perpustakaan Ajar belum lama ini menggelar Pelatihan Mendongeng untuk peningkatan budaya literasi bagi para ibu dan anak-anak di Desa Meteseh, Kecamatan Boja, Kabupaten Kendal.
Kegiatan pelatihan mendongeng bertujuan meningkatkan literasi masyarakat serta memotivasi orangtua mengenalkan bacaan sejak dini melalui kisah/dongeng bagi anak-anak mereka di ruang keluarga.
Hadir sebagai narasumber dalam acara yang diikuti puluhan peserta ini, Kak Arsy, selaku Juru Kisah dan Ketua PPMI PD Semarang, kemudian Widarsih, selaku pegiat Literasi dan Pengelola Perpusdes Wacana Kedungsari. Acara dipandu oleh Akhil Bashiroh, penulis sekaligus pengelola Perpustakaan Ajar.
Menurut Kak Arsy, mendidik melalui sarana kisah/dongeng memiliki segudang manfaat. Metode cerita efektif bagi pengembangan karakter anak karena lebih berkesan daripada nasihat murni.
“Selain itu, manusia dididik untuk mengambil hikmah tanpa merasa digurui,” ujar mantan penyiar salah satu radio swasta di Kota Semarang tersebut.
Di hadapan ibu-ibu serta anak-anak, Kak Arsy menyampaikan, pemilihan cerita atau dongeng sangat penting bagi orangtua sebelum mendongeng. Beberapa tips yang bisa dipraktikkan antara lain pemilihan tema dan judul yang tepat berdasarkan dengan kategori usia, waktu penyajian, serta suasana.
Agar terampil bercerita, menurut lulusan Pascasarjana Pendidikan Dasar UPGRIS Semarang ini, ada beberapa langkah yang mesti dilakukan orangtua. Mulai dari olah gerak, bahasa dan komunikasi, serta olah vokal.
Melalui olah gerak, seorang pendongeng akan lebih luwes memanfaatkan segenap anggota tubuhnya. Dengan mahir berbahasa dan berkomunikasi, pendongeng akan tampak antusias, ekspresif, dan terjalin kontak visual.
“Dengan berlatih olah vokal, pencerita akan lebih artikulatif, intonasi lebih jelas, serta volume terjaga sesuai karakter tokoh yang dikisahkan,” tutur Kak Arsy sambil membawa boneka Si Cempluk-nya.
Sementara itu, Widarsih menyampaikan poin-poin manfaat mengenalkan buku anak dan membacakannya kepada si kecil sejak dini. Beberapa di antaranya meningkatkan kosa kata, pemahaman bahasa, membantu perkembangan otak dan imajinasinya. Selain itu, dapat membentuk ikatan yang kuat dengan si kecil.
Guru SDN 1 Purwogondo Semarang juga menyebut, anak-anak memiliki imajinasi tinggi, sehingga harus direspons oleh orangtua. Salah satunya melalui mendongeng atau bahan bacaan. Di sini, peran orangtua mengenalkan bahan bacaan untuk merangsang daya imajinasinya tersebut.
“Misal, anak suka main dokter-dokteran, atau main pemadam kebakaran. Nah, orangtua bisa carikan bacaan ringan mengenai profesi dokter dan pemadam kebakaran. Dengan begitu, anak-anak semakin terpantik imajinasi dan kreasinya,” ujar Widarsih.
Senada diutarakan Kepala Desa Meteseh Sisyanto, yang menyambut baik pelatihan mendongeng yang diselenggarakan Perpustakaan Ajar.
Menurutnya, hal itu sebagai bagian dari upaya peningkatan sumber daya manusia (SDM). Apalagi, bangsa Indonesia ke depan akan menyongsong Indonesia Emas 2045.
“Pemdes Meteseh siap mendukung gerakan literasi agar ke depan muncul generasi unggul di desa yang membuat masyarakat semakin berdaya dan sejahtera,” ujar Sisyanto.
Sedangkan Koordinator Perpustakaan Ajar Heri C Santoso menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung gerakan literasinya.
Dirinya menyadari, saat ini adalah era kolaborasi. Di mana tak bisa berjalan sendirian, karena kemajuan mesti ditopang berbagai pilar.
“Ini sebagai perwujudan kerja pentahelix-model kolaborasi antar elemen. Yaitu pemerintah, akademisi, dunia usaha, masyarakat, dan media. Harapannya dapat menciptakan sistem yang lebih efektif dan berkelanjutan,” ungkap Heri. (HS-06)