HALO SEMARANG – Usai diguyur hujan deras dan angin kencang beberapa jam, menyebabkan banjir di sejumlah titik di Kota Semarang, Senin (10/3) pagi. Dengan ketinggian air banjir bervariasi mulai 10-35 centimeter.
Sehingga mengganggu aktivitas warga yang melintas seperti di Kawasan Genuk, yaitu Jalan Padi Raya dan Jalan Raya Kaligawe yang masih terendam banjir cukup tinggi.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Semarang, mencatat ada sembilan titik banjir pada Senin pagi pukul 11.00 WIB. Yaitu Jalan Sidoluhur ketinggian air 10-15 cm, Jalan Taman Udan Riris 10-15 cm, Jalan Sidodadi Raya 10-15 cm, Jalan Padi Raya sekitar 20-35 cm.
Lalu Jalan Raya Gebang Anom Pertigaan dengan Dong Biru 20-30 cm, Jalan Kelurahan Tambakrejo, Kecamatan Gayamsari 10-20 cm, di wilayah RW 3 Trimulyo 10-30 cm, Jalan Raya Kaligawe atau depan RSI Sultan Agung 10-20 cm, serta Depan LIK Kaligawe ketinggian air 10 cm.
Kepala BPBD Kota Semarang, Endro P Martanto mengatakan, banjir terjadi usai hujan deras dan angin kencang yang mengguyur kota Semarang sejak Minggu (9/3) malam. Sehingga menyebabkan genangan air banjir di beberapa wilayah.
Upaya penanganan dari BPBD Kota Semarang yaitu berkoordinasi dengan BBWS Pemali Juana, Dinas PU Kota Semarang, UPTD Pompa wilayah Timur, dan UPTD Pompa wilayah Tengah untuk optimalisasi pompa portable agar genangan di beberapa titik bisa surut.
“Saat ini untuk di titik Gebanganom sudah dikerahkan dua unit pompa portable, milik BPBD Kota Semarang dan DPU Kota Semarang. Kemudian, di titik Polder Muktiharjo kidul juga ada satu Unit pompa portable kami, di titik Pabrik Es Kencana Kaligawe satu unit pompa portable dari DPU Kota Semarang, serta di titik Jalan Padi Raya juga ada satu unit pompa portable,” jelasnya, Senin (10/3/2025).
Pihaknya terus melakukan monitoring dan pemantauan wilayah yang masih terdampak genangan. “Meski kecendrungan saat ini banjir sudah mulai surut,” katanya.
Sebelumnya, peringatan potensi cuaca ekstrem di sejumlah wilayah Jawa Tengah telah dikeluarkan BMKG yang berlangsung tiga hari kedepan yakni tanggal 10-12 Maret 2025.
Dari pantauan BMKG, terdapat adanya bibit siklon tropis 90B yang berada di Barat Pulau Sumatera menyebabkan terbentukanya daerah pertemuan dan belokan angin di wilayah Jawa Tengah, kelembapan udara diberbagai ketinggian cenderung basah ini sehingga berpotensi meningkatkan pembentukan awan hujan yang menjulang hingga ke lapisan atas, serta labilitas lokal kuat yang mendukung proses konvektif pada skala lokal diamati di Jawa Tengah.
“Wilayah di Jawa Tengah yang terdampak adanya cuaca ekstrem ini, diantaranya wilayah Cilacap, Banyumas, Purworejo, Grobogan. Lalu, Blora, Pati, Demak, Kudus, dan sekitarnya,” papar Kepala Stasiun Ahmad Yani Semarang, Yoga Sambodo.
Untuk itu, BMKG mengimbau masyarakat agar tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem pada periode tiga hari ke depan yang berpotensi menimbulkan bencana hidrometeorologi berupa banjir, tanah longsor, puting beliung, pohon tumbang dan sambaran petir.
“Dan terutama untuk masyarakat yang berada dan tinggal di wilayah rawan bencana hidrometeorologi,” katanya. (HS-06)