HALO SEMARANG – Meski usia tak muda lagi, namun semangat untuk membantu sesama saat akan melintas di perlintasan sebidang palang kereta api tak kendor. Tanggungjawab untuk menjaga keselamatan warga sekitar maupun pengendara sudah menjadi bagian dari tugasnya sehari -harinya menjadi petugas Penjaga Jalan Lintasan (PJL) yang diinisiasi oleh warga atau secara swadaya.
Sebut saja Suradi (64), saat ditemui dirinya menjaga sebuah perlintasan salah satu jalur kereta api di wilayah RW 1 RW 2, Randugarut, Kecamatan Tugu, Kota Semarang. Setiap hari bapak tiga anak ini berjaga di posnya mulai pukul 06.00 WIB sampai 18.00 WIB.
“Namun, malam harinya saya lepas sampai esok paginya. Kalau ada yang lewat sini ya harus waspada,” ungkapnya, baru-baru ini.
Dia mengaku, memang perlintasan saat ini belum dijaga selama 24 jam. Menurut dia, itu karena petugas penjaga palang kereta api digaji dari iuran swadaya oleh warga setempat.
“Kalau dikasih dua orang petugas tidak cukup untuk menggaji,” katanya.
“Satu bulan saya dapat gaji sebesar Rp 1,4 juta. Kerjanya cuma dari pagi sampai sore hari,” sambungnya.
Namun, hal ini selalu disyukuri mengingat di tengah efisiensi anggaran dirinya tidak terimbas karena masih mendapatkan gaji tetap.
“Ini kan inisiatif warga secara swadaya untuk menjaga perlintasan kereta, jadi tidak kena imbas dari kebijakan pemerintah adanya pemotongan anggaran,” terangnya.
Dia mengaku, sudah menjalani selama tujuh bulan menjaga perlintasan, yang menggantikan petugas sebelumnya.
“Rata-rata kereta yang melintas sebanyak 40-an kereta. Kalau kereta mau melintas, palang pintu ditutup manual. Selama ini saya mengandalkan handy talky (HT) ini jika ada kereta mau melintas,” imbuhnya, seraya mengawasi pengendara yang melintas di sekitar perlintasan.
Ketika ada pemberitahuan kereta akan melintas, dia kemudian bergegas melihat palang pintu yang tak jauh dari lokasinya berjaga, baik dari arah barat dan timur.
“Namun, sering tidak ada pemberitahuan lewat HT jadi agak repot,” keluhnya.
Seperti saat kereta akan melintas sekitar 10 menit dari arah barat, dirinya telah bersiap menutup palang pintu.
“Kereta Argo Merbabu akan datang jam 11.00 lebih. Nanti dari barat, mulai irigasi, alarm bunyi, baru palang pintu ini ikut ditutup,” ujarnya.
Pejaga pintu lainnya, Yasin (49) di JPL 12F Simoplas juga mengatakan ,di perlintasan ini dijaganya nonstop selama 24 jam. Karena untuk menjaga keamanan karyawan yang juga masuk dan pulang kerja.
“Ada tiga shif. Shif 1 pukul 7.00 WIB-15.00 WIB. Shif 2 pukul 15.00 WIB-23.00 WIB. Dan shif 3 pukul 23.00 -07.00 WIB,” imbuhnya.
“Palang kereta api di sini semi otomatis. Masih pakai petugas PJL,” katanya, saat ditemui di Pos JPL12F Simoplas.
Saat dikonfirmasi, Manager Humas KAI Daop 4 Semarang, Franoto Wibowo, menjelaskan terkait petugas penjaga pelintasan sebidang pihaknya terus berkoordinasi dengan Dishub, Pemerintah Daerah setempat.
“Lalu juga kepala desa dan perwakilan warga yang berinisiatif untuk menempatkan penjaga pintu KA secara swadaya,” jelasnya.
“Kita memberikan informasi-informasi mengenai perjalanan kereta yang terupdate. Karena adanya perubahan perjalanan kereta sejak 1 Februari 2025. Kita juga memberikan informasi tersebut tidak hanya PJL yang dikelola oleh KAI tapi juga yang dikelola oleh Dishub maupun swadaya masyarakat,” jelasnya.
Di wilayah Daop 4 Semarang sendiri terdapat sebanyak 372 perlintasan. Dengan jumlah perlintasan sebidang dijaga sebanyak 203 perlintasan, perlintasan sebidang tidak dijaga sebanyak 139 perlintasan, dan perlintasan yang tidak sebidang baik itu flyover maupun underpass sebanyak 30 perlintasan. (HS-06)