in

Evaluasi Program CSR: Temanggung Jadikan Tiga Desa sebagai Role Model

Foto : temanggungkab.go.id

 

HALO TEMANGGUNG – Tiga desa di Kabupaten Temanggung, menjadi role model bagi kerja sama dan pengelolaan dana program Corporate Social Responsibility (CSR).

Desa-desa tersebut yaitu Rowo dan Samiranan di Kecamatan Kandangan, dan Pendowo di Kecamatan Kranggan.

Adapun Program CSR ini, mencakup tiga komponen utama, yakni penyediaan air bersih aman, sanitasi aman, dan penerapan perilaku hidup bersih dan sehat.

Dalam pelaksanaanya, program ini merupakan kolaborasi masyarakat, Pemkab Temanggung dan CSR perusahaan.

Ikut berperan penting dalam program ini, adalah Lembaga Pembangunan Internasional Amerika Serikat, yakni The United States Agency for International Development (USAID) Indonesia Urban Resilient Water, Sanitation, and Hygiene Tangguh (USAID IUWASH Tangguh).

USAID Tangguh merupakan program amal kemanusiaan pemerintah Federal Amerika Serikat untuk Indonesia, meliputi peningkatan akses air minum, sanitasi yang aman, serta higiene bagi masyarakat berpenghasilan rendah di Indonesia.

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan, Penelitian dan Pengembangan Daerah (Bappeda) Kabupaten Temanggung, Hendra Sumaryana, mengapresiasi keberhasilan pengelolaan program CSR, di tiga desa di wilayah Kabupaten Temanggung,

“Yang sudah dikerjakan di tiga desa ini sangat bagus. Saya sangat apresiatif, karena program ini dibiayai oleh pihak swasta, dikerjakan oleh masyarakat, dan termanfaatkan langsung oleh masyarakat,” ujar Hendra Sumaryana, seperti dirilis temanggungkab.go.id,

Menurutnya, program tersebut menjawab kebutuhan mendesak dan isu strategis di Kabupaten Temanggung, termasuk angka stunting yang masih tinggi dan kemiskinan. Ia berharap, keberhasilan ini dapat menjadi pola luar biasa dalam pembangunan daerah.

Hendra menegaskan, program yang didukung oleh Djarum Foundation ini bisa menjadi role model untuk daerah lain.

“Ini baru di tiga desa. Harapan kami, keberhasilan ini bisa menjadi role model bagi kegiatan lain, terutama dengan pembiayaan yang tidak hanya bergantung pada APBD,” jelasnya.

Ia juga mendorong agar sumber pembiayaan yang lebih inovatif bisa dimanfaatkan, seperti dana desa atau kerja sama dengan foundation lainnya.

Dengan pelaksanaan yang lebih masif di seluruh Kabupaten Temanggung, ia optimis angka stunting dapat turun drastis.

Dalam arahannya, Hendra mengingatkan perangkat kecamatan dan desa agar fokus pada isu strategis, seperti penyediaan air bersih dan sanitasi yang aman, alih-alih proyek-proyek berskala besar, namun kurang tepat sasaran.

“Jangan terjebak pada proyek-proyek mercusuar. Lihat potret yang ada di kabupaten, dan fokus pada kebutuhan dasar masyarakat,” pesannya.

Hendra berharap, kedepan, program ini bisa diadopsi desa-desa lain dengan sumber pembiayaan yang inovatif, sehingga pembangunan tidak hanya mengandalkan dana APBD, melainkan juga melibatkan sektor swasta dan lembaga lainnya.

“Dengan sinergi ini, kita dapat menciptakan perubahan besar dan menurunkan angka stunting secara signifikan,” kata dia. (HS-08)

Hadiri Pengajian Rutin Ulama Umaro, Bupati Purworejo Serahkan Santunan pada Yatim Piatu dan Dhuafa

358 Siswa SMA Sederajat di Temanggung Peroleh Beasiswa dari Baznas