HALO KENDAL – Adat Jawa Karaton Amarta Bumi yang berlokasi di Kampung Djawa Sekatul, Kecamatan Limbangan, Kabupaten Kendal, menggelar ‘Wilujengan Dewi Sri’. Oleh masyarakat Jawa, Dewi Sri dikenal sebagai Dewi Padi atau yang memberikan kemakmuran hasil bumi.
Wilujengan Dewi Sri merupakan tradisi lama dan kerap dilakukan oleh keraton-keraton yang ada di Tanah Jawa. Di mana raja membagikan hasil bumi, sambil berharap supaya rakyatnya makmur sekaligus diberikan kesehatan.
Wilujengan Dewi Sri berkaitan dengan kisah Dewi Sri, yaitu mitos asal mula terciptanya tanaman padi sebagai bahan pangan pokok. Dalam ritual ini, padi dan sayuran diikat kemudian dibagikan kepada masyarakat.
Diawali dengan prosesi kirab gunungan padi dan sayur-sayuran, diiringi warga yang berbusana adat Jawa dan beberapa penari, prosesi Wilujengan Dewi Sri pun dikomandani Pimpinan Karaton Amarta Bumi Sri Anglung Prabu Punto Djojonagoro Cakrabuana Girinata.
Selepas kirab, tokoh adat Jawa yang membawa dupa dan sesaji memulai prosesi ritual yang dilakukan dengan khidmat diiringi tembang-tembang Jawa.
Ratusan warga yang mengikuti prosesi Wilujengan Dewi Sri mendapatkan seikat padi dan sayur-sayuran. Mereka berharap supaya kecipratan mendapatkan kemakmuran rezeki, kesehatan, dan keberkahan. Kegiatan juga dihadiri jajaran Forkopimcam Limbangan.
Sekjen Silaturahmi Keraton Nusantara, Nanik Widayati Priyo Marsono mengatakan, tradisi mengagungkan atau Wilujengan Dewi Sri merupakan tradisi lama dan kerap dilakukan oleh keraton-keraton yang ada di Jawa.
Dijelaskan, kegiatan Wilujengan Dewi Sri dihelat setiap tahun, pada Sabtu Pahing, karena merupakan weton paling tinggi. Dalam kegiatan Wilujengan Dewi Sri, raja menyerahkan secara simbolis hasil bumi kepada rakyatnya.
“Ritual mengagungkan Dewi Sri sebagai Dewi Padi sudah ada sejak beberapa abad silam, biasanya dilakukan oleh para raja di keraton Jawa. Raja membagikan hasil bumi kepada rakyat agar rakyat makmur sekaligus diberikan kesehatan,” jelas Nanik.
Pihaknya berharap, tradisi ritual mengagungkan atau Wilujengan Dewi Sri bisa dilestarikan, karena merupakan tradisi yang sangat bagus. Bahkan, banyak pesan moral dari tembang-tembang Jawa yang dinyanyikan mengiring acara.
“Kegiatan ini perlu dilestarikan. Selain dipercaya sebagai simbol kemakmuran, juga tembang-tembang Jawa yang dinyanyikan mengandung pesan moral untuk setia kepada negara. Dengan kesetiaan tersebut, maka segala sandang pangan akan dijamin,” ungkapnya.
Salah seorang Anggota Karaton Amarta Bumi, Agus Saiful juga berharap, budaya leluhur Wiilujengan Dewi Sri dapat dimengerti masyarakat. Sebab berisi beberapa pesan moral dan juga ajakan untuk kebaikan yang bisa ditiru dalam kehidupan sehari-hari, termasuk kesenian dan prosesinya.
“Kegiatan sangat bagus dalam rangka nguri-nguri budaya dan perlu dilaksanakan setiap tahun. Apalagi, ada peran serta dan keterlibatan para remaja, melalui tarian dan tembang Jawa, maka akan menumbuhkan rasa cinta pada kebudayaan,” harapnya. (HS-06)