HALO DEMAK – Petugas Damkar Demak membersihkan kotoran kuda, setelah pelaksanaan prosesi iring-iringan Prajurit Patangpuluhan di lingkungan Pendopo Kabupaten Demak.
Dalam prosesi tersebut melibatkan puluhan andong yang dinaiki para punggowo kadipaten Demak Bintoro.
Koordinator Petugas Pembersihan, Eko, Rabu (19/06/24), dalam keterangannya seperti dirilis demakkab.go.id, mengemukakan bahwa kegiatan iring-iringan Prajurit Patangpuluhan tersebut, merupakan event tahunan yang menggunakan banyak delman berikut kuda penariknya.
Sudah dipastikan setelah acara tersebut, lokasi tersebut kotor dan menimbulkan bau yang kurang sedap.
Dalam proses pembersihan petugas damkar menyemprotkan air bertekanan tinggi dengan mobil pemadam.
Eko juga menyampaikan, kegiatan pembersihan dilakukan pada Senin, sesaat setelah peserta iring-iringan meninggalkan lokasi Kantor Bupati.
”Kami menerjunkan 2 unit damkar dalam giat pembersihan kotoran, setiap unitnya kami mengerahkan kurang lebih 6 hingga tujuh personel,” kata Eko.
Lanjut Eko, lokasi Kantor Bupati harus segera dibersihkan karena pada Rabu, kantor sudah digunakan untuk beraktifitas kembali.
Sebelumnya, Pemkab Demak menggelar iring-iringan prajurit Patangpuluhan, untuk mengawal Adipati Demak dan Uborampe penjamasan pusaka.
Iringan prajurit Patangpuluhan pada Senin (17/06/24) merupakan bagian dari agenda prosesi tradisi penjamasan pusaka Kanjeng Sunan Kalijaga dan Ziarah. Kegiatan ini telah menjadi agenda wisata budaya dan seni tahunan, di Kabupaten Demak setiap tanggal 10 Dzulhijjah.
Prosesi diawali dengan penyerahan bokor berisi kembang setaman sebagai ubo rampe penjamasan oleh Adipati Bintoro Demak (Bupati Demak Eisti’anah) kepada Ki Lurah Tamtomo untuk segera dibawa menuju Kadilangu. Dengan dikawal prajurit pilihan berjumlah 40 pasukan.
Untuk selanjutnya bokor tersebut akan diserahkan kepada Sesepuh Ahli Waris Kanjeng Sunan Kalijaga sebagai ubo rampe atau perlengkapan berziarah dalam prosesi penjamasan pusaka.
Barisan Iringan
Dalam iring-iringan prajurit Patangpuluhan, Bupati bersama Forkopimda dan pejabat lainnya berpakaian adat Jawa, untuk perempuan mengenakan kebaya dan laki-laki menggunakan beskap.
Menaiki Dokar menuju makam Sunan Kalijaga untuk selanjutnya melakukan Ziarah.
Pada iringan tersebut juga menampilkan Barongan Cahyo Utomo, Hadroh Zahrol Ulum Madinah, Rebana Nurun Nabi, Karnaval Silvi, Drumband Dadung Awuk, Tari Keprajuritan, Rebana MAN Demak, serta Barongan Kademangan.
Acara yang merupakan bagian dari puncak acara grebeg besar itu pun menarik perhatian publik.
Terbukti ribuan warga berjajar rapi memenuhi kiri kanan jalan raya, dari Pendopo Kabupaten Demak hingga Makam Sunan Kalijaga sepanjang 3 km untuk menyaksikan prosesi adat tersebut.
Kepala Dinas Pariwisata Endah Cahya Rini menyampaikan kepada rombongan kereta forkopimda beserta pejabat berhenti di gapura Makam Kanjeng Sunan Kalijaga dan melaksanakan Ziarah kemudian iringan prajurit patangpuluhan yang di pimpin Ki Lurah Tamtomo dan Prawiro Tamtomo langsung menuju pendopo Notobratan untuk menyerahkan Ubo Rampe tersebut kepada pihak ahli waris kanjeng Sunan.
Tumpengsongo
Sebelumnya pada Minggu malam (16/06/24), juga telah diberangkatkan iring-iringan tumpengsongo atau tumpeng sembilan, dari Pendopo Kabupaten menuju Masjid Serambi Agung Demak.
Namun untuk tahun ini lanjut Endah, selain tumpeng sembilan juga ada gunungan hasil bumi sebanyak 90.
“Jadi total keseluruhannya 99 yang bermakna Asmaul husna. Intinya ini untuk berbagi berkah kepada seluruh masyarakat di Demak”, kata Endah.
Disampaikan Endah, pada malam yang sama, di Kasepuhan Kadilangu juga melaksanakan tradisi ancakan yang merupakan sedekah kasepuhan kadilangu untuk para peziarah di malam Idul Adha.
Nasi ancak adalah sebuah menu khusus yang hanya disajikan setahun sekali, yaitu berupa nasi putih, dengan urapan daun mengkudu, serta lauk ikan asin bakar. Sedangkan cara penyajian nasi ancak tersebut biasanya menggunakan daun jati, dengan alas anyaman bambu.
”Biasanya sekitar 300-an nasi, khusus tahun ini membuat nasi ancakan sebanyak 521 buah, sesuai usia Kabupaten Demak ke-521. Sehingga ancakan ini kami daftarkan di Museum Rekor Indonesia (Muri),” kata dia. (HS-08)