in

Atasi Inflasi, Pemkab Pati Bakal Gelar Operasi Pasar

 

HALO PATI – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pati akan menggelar operasi pasar bahan pangan, pada Selasa (5/3/2024), sebagai salah satu upaya untuk menekan inflasi.

Operasi pasar akan dilaksanakan Dinas Perdagangan, Koperasi, dan Perindustrian (Disdakperin) Kabupaten Pati, beserta para pelaku usaha dan pedagang.

Hal itu disampaikan Pj Bupati Pati, Henggar Budi Anggoro, terkait hasil Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah, yang digelar Kementerian Dalam Negeri RI (Kemendagri RI), belum lama ini.

Rapat digelar secara hybrid, dipimpin Inspektur Jenderal (Irjen) Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) Tomsi Tohir, dari Gedung Sasana Bhakti Praja (SBP) Kantor Pusat Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), Jakarta.

Rapat dengan semua pemerintah daerah (Pemda) tersebut, diikuti pula oleh Pj Bupati Pati, Henggar Budi Anggoro, bersama jajaran melalui aplikasi zoom meeting.

“Kita harapkan operasi pasar ini bisa berjalan dengan lancar dan dapat menurunkan inflasi di Pati. Kita juga berharap masyarakat bisa tetap tenang dan tidak panik dalam menghadapi kenaikan harga,” kata Pj Bupati Pati, seperti dirilis patikab.go.id.

Terkait inflasi di Kabupaten Pati, Pj Bupati Pati mengakui bahwa di wilayahnya, harga beberapa komoditas pangan, seperti beras, telur, ayam ras, dan cabai merah juga mengalami kenaikan.

Namun kenaikan harga tersebut, terjadi di seluruh wilayah nusantara, bukan hanya di Pati.

“Kalau di Pati, inflasi kita naik menjadi 4,3 persen. Tapi mudah-mudahan kita bisa atasi dengan langkah-langkah yang kita lakukan bersama-sama,” ujar Pj Bupati Pati.

Turun ke Lapangan

Sementara itu dalam rapat, Inspektur Jenderal (Irjen) Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) Tomsi Tohir, mengimbau seluruh kepala daerah segera turun ke lapangan, untuk memantau laju perkembangan harga. Upaya ini penting dilakukan, terlebih menjelang Ramadan.

Kepala daerah juga diminta untuk melakukan berbagai langkah konkret pengendalian harga.

Tomsi mengatakan, kepala daerah dapat melibatkan Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) untuk memantau harga pangan di pasaran.

“Dipantau terus setiap hari [harganya], dan hasilnya dapat dilaporkan,” ujar Tomsi, seperti dirilis kemendagri.go.id.

Langkah konkret tersebut, kata dia, meliputi operasi pasar murah, melaksanakan sidak ke pasar dan distributor agar tidak menahan barang, serta menggalakkan gerakan menanam. Langkah lainnya yaitu menjalin kerja sama dengan daerah penghasil komoditas untuk pemenuhan pasokan, memanfaatkan anggaran Belanja Tidak Terduga (BTT) untuk pengendalian harga, serta memberikan dukungan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daaerah (APBD) terhadap mobilitas transportasi umum.

Dirinya menyayangkan masih banyak daerah yang belum melakukan langkah konkret tersebut.

Berdasarkan hasil monitoring dan evaluasi Kemendagri per 26 Februari 2024, baru 10 daerah yang telah melakukan seluruh upaya konkret, sedangkan sebanyak 358 daerah belum melakukannya.

Kemudian sebanyak 21 daerah tercatat telah melakukan 4 hingga 5 dari 6 upaya konkret. Selanjutnya sebanyak 125 daerah tercatat hanya melakukan 1 hingga 3 upaya konkret dalam penanganan inflasi.

Lebih lanjut, Tomsi mengingatkan pemerintah daerah (Pemda) agar rutin menyampaikan laporan harian terkait upaya pengendalian inflasi. Pasalnya, hingga minggu keempat Februari 2024, masih ada 78 Pemda yang tidak menyampaikannya kepada Kemendagri. Laporan ini dibutuhkan untuk melihat kinerja Pemda dalam mengendalikan inflasi.

“Kami berharap teman-teman kepala daerah agar mengecek kembali daerahnya masing-masing, apakah termasuk di dalam 78 daerah yang tidak mengirimkan laporan pada minggu keempat ini,” ujarnya.

Sementara itu, Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS) Pudji Ismartini dalam paparannya menjelaskan, berdasarkan Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok (SP2KP) dalam 4 minggu di bulan Februari ini ada beberapa komoditas pangan yang menunjukkan tren peningkatan harga. Komoditas tersebut di antaranya beras, cabai merah, telur ayam ras, dan daging ayam ras.

“Mengingat bulan depan kita sudah mulai masuk ke bulan Ramadan, maka perlu langkah nyata yang dilakukan untuk kembali menahan laju peningkatan harga tersebut agar tidak terus berlanjut di bulan depan,” jelasnya. (HS-08)

Ratusan Arsip Sejarah Batik Lasem Diajukan Jadi Memori Kolektif Bangsa

Sekjen Kemendagri Jelaskan Alumni IPDN sebagai Bagian dari Perekat NKRI