HALO BLORA – Untuk mempunyai sebuah usaha besar, dapat dimulai dari yang kecil untuk kemudian dikembangkan.
Itu pula yang dilakukan Rahmat Amin atau akrab disapa Badun, warga Kelurahan Karangjati, Kecamatan Blora, Kabupaten Blora, Jawa Tengah.
Bermula dari diberi kelinci lokal oleh kawannya lima bulan lalu, dia kini memiliki peternakan kelinci pedaging, dengan populasi hingga 500 ekor.
Rahmat Amin menuturkan ketika beberapa bulan lalu diberi kelinci lokal, oleh satu temannya, dia terinspirasi untuk memiliki peternakan sendiri.
Dia pun kemudian mempersiapkan segala sesuatunya, untuk menjadi peternak kelinci pedaging jenis haycole dan hyla .
Puluhan kandang jeruji disiapkan di rumahnya. Juga pakan (pelet), rumput, hingga kebutuhan air serta disinfektan untuk kebersihan guna menjaga kesehatan kelinci.
“Jadi awalnya itu saya diberi oleh teman saya, kelinci lokal, kemudian saya bertekad untuk ternak kelinci pedaging, karena saya meyakini prospektif dikembangkan dan menguntungkan,” kata Badun, Rabu (21/2/2024), seperti dirilis blorakab.go.id.
Badun menjelaskan, dia kemudian memulai peternakan itu dengan mengadakan indukan jantan dan betina kelinci pedaging, sebanyak 60 ekor.
Hanya dalam waktu lima bulan, usahanya mulai menampakkan hasil. Jumlah kelinci yang dia ternakkan mencapai ratusan ekor.
“Untuk indukan saya memelihara 60 ekor kelinci pedaging, kemudian setelah lima bulan berkembang, sekarang jumlahnya mencapai 500 ekor, untuk lompatan bunting, 1 : 5. Artinya satu ekor induk beranak lima ekor,” jelasnya.
Sementara untuk pakan, Badun mengaku menggunakan pelet yang distok dari salah satu perusahaan di Solo. Selain itu juga diberi pakan rumput odot.
Untuk pemasarannya, sudah dikerja samakan dengan perusahaan yang sama.
Diungkapkan, harga untuk pembibitan kelinci pedaging Rp 250.000 per ekor. Sedangkan untuk sapihan, berkisar antara Rp 50.000 hingga Rp75.000 per ekor.
Sedangkan untuk harga daging yang sudah dikuliti dan dipotong, dibandrol Rp 42.000 per kilogram.
“Untuk satu ekor kelinci rata-rata menghasilkan daging 1,8 kilogram,” ungkapnya.
Tidak hanya daging yang diandalkan laku dijual, tapi juga urine dan kotoran kelinci.
“Urine kelinci, 15 liternya Rp35.000. Sedangkan kotorannya per 20 kilogram, dihargai Rp 15.000,00,” terangnya.
Adapun kegunaan urine kelinci sebagai pupuk cair organik pada tanaman, demikian pula kotoran kelinci, bermanfaat untuk menyuburkan tanah.
Badun mengaku, untuk memelihara ratusan ekor kelinci, tidak bisa dilakukan sendiri, melainkan ada tim yang memiliki tugas masing-masing agar pertumbuhan dan kesehatan kelinci terjaga.
Untuk menuju atau melihat dari dekat kandang kelinci milik Badrun sangat mudah, karena searah dengan embung Rowo Karangjati.
Sementara itu Aida, salah seorang mahasiswa perguruan tinggi di Yogyakarta mengaku kagum atas usaha ternak kelinci pedaging di Blora.
“Ini menjadi sisi lain yang berbeda dan prospektif untuk dikembangkan. Biasanya warga Blora dominan ternak sapi atau kambing. Jadi ini menjadi pembeda, daging kelinci punya nilai jual yang menjanjikan, selain itu bergizi dan berprotein untuk dikonsumsi,” kata Aida.
Hal senada juga diungkapkan sejumlah siswa SMK Negeri 1 Blora dan SMK Muhammadiyah Kunduran jurusan Desain Komunikasi Visual (DKV) yang praktik kerja di Dinkominfo Blora.
Mereka diajak membuat konten dan wawancara dengan Badun di peternakan kelinci.
“Sungguh, ini Blora banget, menginspirasi dan mengedukasi. Menyenangkan dan memotivasi bagi kami,” ucap Fanda.
Dari berbagai sumber disebutkan kelinci pedaging, biasanya memiliki postur tubuh yang besar dan gempal.
Maka dari itu, biasanya kelinci jenis ini dimanfaatkan dagingnya untuk dimakan.
Ciri yang paling bisa dilihat dari mata orang awam adalah badannya yang besar dan bulunya yang pendek.
Corak dari warna bulunya pun tidak beragam, abiasanya hanya polos saja sesuai dengan warna dasar dari bulu kelinci. (HS-08).