“Selama empat bulan, alhamdulillah pengunjung Perpusda Kendal cukup baik, antusiasnya cukup tinggi. Data yang kami punya, itu rata-rata 600 pengunjung per hari. Sehingga total dalam sebulan berkisar antara 18 ribu – 19 ribu pengunjung,” bebernya.
Untuk itu, lanjut Wahyu, pihaknya akan terus menjaga dan menjadi sebuah tantangan dalam mempertahankan jumlah kunjungan tersebut. Ia juga menyebut, di tahun 2023, pihaknya banyak melakukan kolaborasi dengan berbagai pihak.
“Di tahun 2024 akan kita lakukan hal serupa, yang akan dituangkan dalam nota perjanjian kerja sama. Baik dengan komunitas, dengan lembaga maupun organisasi dengan perangkat daerah yang lain juga akan kita lakukan,” lanjutnya.
Wahyu menjelaskan, kolaborasi yang akan dilakukan di tahun 2024 berkaitan dengan literasi. Menurutnya literasi dasar ada enam hal, yang secara rutin akan digelar kegiatan bersama.
“Salah satu contoh, kegiatan yang digelar bersama komunitas Read Load Kendal atau pembaca nyaring. Yaitu tiap bulan kita mengadakan event minimal satu kali di sini, dengan segmen anak-anak beserta orang tua. Kemudian ada komunitas film, dengan event bedah film karya sineas Kendal itu sebulan sekali. Kita bersama komunitas Mari Bercerita, juga mengadakan event sebulan sekali,” jelasnya.
Selain itu, Wahyu mengungkapkan, pihaknya juga bekerjasama dengan instansi lainnya. Salah satu dengan Badan Narkotika Nasional Kendal. Selanjutnya juga sedang menjajaki untuk kerjasama dengan Badan Pusat Statistik Kendal.
“Kami juga mengembangkan kolaborasi dengan perangkat daerah dalam hal ini transformasi Perpustakaan Daerah Berbasis Inklusi Sosial, atau pelatihan-pelatihan yang meningkatkan kualitas diri masyarakat,” ungkapnya.
Wahyu juga menyebut, kolaborasi dengan Dinas Perdagangan Koperasi dan UKM (Disdagkop UKM), Dinas Perindustrian dan Tenaga Kerja (Disperinaker), Baperlitbang, Bagian Perekonomian, juga dengan Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (Dispermasdes).
“Kemudian program prioritas kami 2024 ini adalah peningkatan pelayanan perpustakaan. Bukan hanya Perpustakaan Daerah, namun juga Perpustakaan Sekolah dan Perpustakaan Desa. Sehingga muaranya akreditasi mereka baik,” imbuhnya.
Pihaknya juga mendorong untuk pengembangan Perpustakaan Desa. Menurutnya saat ini perpustakaan desa berjumlah 64 dari 266 desa di Kendal, namun yang aktif hanya 30.
“Untuk itu, kami intensif berkoordinasi dengan Dispermasdes, yang akan difasilitasi tahun ini. Harapannya anggaran pemerintah desa salah satunya untuk perpustakaan desa,” ujar Wahyu.