HALO REMBANG – Selama 2003 hingga November terdapat 102 kasus baru human immunodeficiency virus (HIV) / Acquired Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS) di Kabupaten Rembang.
Total angka tersebut, masih lebih rendah dibandingkan 2022, di mana terdapat 162 kasus.
Hal itu diungkapkan Epidemolog Kesehatan Ahli Muda, Martha Gusmantika sekaligus pengelola program HIV Dinas Kesehatan Kabupaten Rembang, terkait peringatan hari AIDS sedunia, yang jatuh setiap 1 Desember.
Martha menyebut 102 kasus baru yang muncul selama tahun 2023, terdiri atas 67 kasus HIV dan 35 AIDS. Sedangkan tahun 2022 ada 162 kasus, terdiri atas 102 kasus AIDS dan 60 HIV.
Dia pun menjelaskan perbedaan HIV dan AIDS. Martha mengatakan AIDS adalah sekumpulan gejala dan infeksi (atau: sindrom), yang timbul akibat kerusakan sistem kekebalan tubuh manusia, disebabkan infeksi virus HIV.
“Kalau AIDS itu sudah stadiumnya menuju 3 atau 4, sedangkan HIV itu belum ada gejala tetapi sudah terdeteksi membawa virus HIV di dalam tubuhnya,” kata dia, seperti dirilis rembangkab.go.id.
Maka dari itu, menurut dia penting untuk dilakukan penanganan, pada tahap paling awal, yakni ketika masih fase HIV atau sebelum menjadi AIDS.
Adapun upaya yang dilakukan oleh Pemkab Rembang, yakni dengan menggerakkan puskesmas-puskesmas untuk melakukan skrining melalui kegiatan mobile clinics.
Sasarannya adalah semua populasi kunci, seperti pekerja seks komersial, lelaki dengan kecenderungan seks menyimpang sesama jenis, pengguna narkoba suntik, dan warga binaan pemasyarakatan.
“Jadi ketemunya masih dalam fase HIV,” tuturnya.
Mobile clinics juga menyasar populasi khusus seperti ibu hamil, pasien tuberkulosis, pasien infeksi menular seksual, dan pasien hepatitis.
“Mereka ini wajib kita lakukan tes HIV/ AIDS setiap tahunnya. Pasalnya orang yang termasuk sebagai populasi kunci dan khusus ini sangat rentan terkena HIV,” terangnya.
Ketika dari hasil pemeriksaan, yang bersangkutan mengidap HIV, maka penanganannya lebih mudah.
Tim medis akan memberikan pengobatan secara rutin dan dampak positifnya kondisinya tidak akan semakin buruk menjadi AIDS.
“Kalau HIV ini selamanya (tidak dapat disembuhkan). Tetapi kita obati rutin, terapi, kita kendalikan virusnya, virusnya tidak membelah diri mengikis imun kita , yang bersangkutan tidak sampai sakit, tidak sampai AIDS. AIDS kan sekumpulan gejala yang terjadi di tubuh manusia, kalau HIV kan dia masih bisa bekerja dan beraktivitas,” ungkapnya.
Ditambahkan, program pengobatan gratis terhadap pasien HIV/AIDS oleh Dinas Kesehatan Pemkab Rembang telah dilakukan sejak 2016 sampai sekarang.
Dan setiap menemukan yang terjangkit HIV/ AIDS langsung menjalani program pengobatan.
“Obat dan terapinya gratis seumur hidup. Anggarannya dari Pemerintah Pusat,” imbuh Martha.
Untuk menjamin pasien rutin mengikuti program pengobatan, Pemkab Rembang menyediakan konselor HIV untuk mengedukasi mereka. Semua itu bertujuan agar mereka tetap sehat dan produktif.
Orang dengan HIV (ODHIV) ditemukan di Kabupaten Rembang sejak tahun 2004. Hingga Oktober 2023, Martha menyebut secara akumulatif ada 1.228 orang yang terkena HIV/AIDS.
“Dari jumlah itu sekitar 40 persennya masih rutin mengikuti pengobatan. Sebagian besar juga telah meninggal, karena ditemukan sudah dalam fase AIDS, seperti di tahun 2022 ada 5 pasien yang meninggal, begitu 2023 ini dan yang rutin berobat hingga saat ini ada 465 pasien.”
Adapun untuk fasilitas kesehatan yang bisa melayani tes dan pengobatan HIV/AIDS, adalah sebanyak 17 puskesmas dan 4 rumah sakit.
Di setiap puskesmas dan rumah sakit tersebut, juga tersedia Konselor HIV, sehingga identitas pasien terjaga.
“Kami ada kode etik untuk menyembunyikan nama pasien. Sehingga yang kita keluarkan hanya data angka bukan nama, ini privasi,” ucapnya.
Dinas Kesehatan juga melakukan upaya preventif melalui sosialisasi atau kampanye HIV /AIDS dan penyakit lainnya yang dikemas dalam Aku Bangga Aku Tahu (ABAT) di sekolah dan masyarakat. (HS-08)