HALO SEMARANG – Relawan Garuda Nusantara 08 Indonesia Emas, yang lebih dikenal dengan GN08, mengaku memiliki visi yang sama dengan salah satu visi-misi pasangan Capres-Cawapres Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka di Pilpres 2024 mendatang. Hal itulah yang melandasi GN08 mendukung pasangat tersebut.
“Kerja bergerak menjadi relawan bukan sekadar dukung mendukung calon presiden di Pilpres 2024 mendatang. Kerja kami berdasarkan visi yang sinkron dengan salah satu program Visi Indonesia Maju 2024 dari pasangan Prabowo Subianto dan Gibran Rakabumin Raka,” kata Agus S Winarto, Ketua GN08 saat ditemui di Posko GN08, di Jalan Branjangan 11, Kota Lama Semarang, baru-baru ini.
Dikatakan, dukungan kepada Capres dan Cawapres Prabowo-Gibran terkait pandangan mereka dalam merealisasikan “Indonesia Emas” bersama Prabowo-Gibran.
“Kami tidak sekadar dukung. Kami menemukan, akar masalah di balik persoalan di negara ini. Khususnya terkait kematian bayi akibat penyakit seperti diare, stunting, produktivitas rendah, itu karena akses sanitasi dasar belum terpenuhi. Kami perjuangkan ini dan sinkron dengan Visi Indonesia Maju 2024 Prabowo Gibran,” kata Agus S Winarto yang sudah 15 tahun di layanan akses sanitasi dasar masyarakat.
“Mengatasi sanitasi dasar artinya bisa mencegah kerugian negara di layanan kesehatan, mencegah kematian bayi, dan menaikkan martabat Indonesia di mata Internasional. Data tentang buruknya sanitasi ini, mengerikan,” kata Agus.
Menurut data dari Unicef, hampir sebanyak 25 juta orang di Indonesia tidak menggunakan toilet. Mereka buang air besar di tempat terbuka seperti ladang, semak-semak, hutan, selokan, jalan, sungai, atau ruang terbuka lainnya.
Selain itu, WHO juga menyebutkan, akses sanitasi yang buruk menjadi penyebab utama terhadap sekitar 432 ribu kasus kematian. Diare menjadi penyebab utama tingginya angka kematian ini. Padahal air yang lebih baik, sanitasi, dan kebersihan, dapat menekan angka kematian 297 ribu anak berusia di bawah 5 tahun setiap tahunnya.
“Program ini sinkron dengan 17 program utama Prabowo-Gibran. Secara khusus, Garuda Nusantara sudah berkomunikasi sampai Jakarta, agar ini menjadi perhatian,” tegasnya.
Agus S Winarto, yang telah membentuk 27 DPC di bawah GN08 di Jawa Tengah, sudah berkomunikasi dan melakukan pertemuan dengan Wakil Ketua Umum Dewan Pembina Partai Gerindra, Hashim Djojohadikusumo dan Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Rahayu Saraswati untuk membahas tindak-lanjut usulan program ini.
Optimisme ini tidak terjadi begitu saja. Beberapa tahun lalu, Agus S Winarto telah menerapkan satu model, ketika di Kabupaten Sumbawa Barat, NTB, di mana kabupaten ini berhasil sepenuhnya mengakses sanitasi dasar.
Urgensi Akses Sanitasi Dasar
Masalah sanitasi dasar yang buruk ini, katanya, harus segera ditangani. Jika akses sanitasi dasar tidak terpenuhi, maka masalah lain akan muncul. Di antaranya penyakit mematikan, kerusakan lingkungan, produktivitas kerja rendah, stunting, kualitas SDM rendah, bahkan membuat martabat bangsa Indonesia di mata dunia turun.
Masalah ini juga menjadi perhatian serius bagi DR Dr Budi Laksono, MHSc, seorang akademisi Universitas Diponegoro Semarang sekaligus pakar sanitasi. Menurut Dr Budi, sapaan akrabnya, mayoritas pasien yang dirawat di setiap rumah sakit ialah penderita penyakit yang bersumber dari masalah sanitasi.
“Hampir semua rumah sakit angka orang yang masuk dirawat biasanya nomor 1 itu adalah penyakit yang menular, karena orang tidak punya WC seperti tipes, diare, disentri, kolera. Bahkan sekarang ada istilah hebat namanya stunting. Itu sebenarnya dampak sanitasi yang buruk dan itu ironi bagi Indonesia,” katanya saat dihubungi melalui panggilan telepon, Rabu (1/11/2023).
“Selain itu kematian anak-anak di Indonesia itu nomor satunya disebabkan diare, diare itu penyakit karena sanitasi. Diare adalah salah satu pembunuh nyata di Indonesia. Kemenkes mencatat 162 ribu kematian anak di Indonesia dalam satu tahunnya disebabkan karena penyakit-penyakit diare,” imbuhnya.
Dr. Budi yang juga Ketua Yayasan Wahana Bakti Sejahtera mengatakan, akses sanitasi yang tidak terpenuhi turut berimplikasi pada terhambatnya pembangunan sumber daya manusia (SDM) di Indonesia. Kualitas SDM yang rendah dan produktivitas kerja rendah menjadikan Indonesia sulit menjadi negara maju dan bersaing di kancah global.
“Dengan adanya kematian yang banyak, kesakitan yang tinggi, otomatis produktivitas orang di Indonesia ini dibanding dengan negara yang lain bisa bekerja produktif, kita tidak produktif. Beda kualitas kerjaannya, motivasinya, kerajinannya. Artinya sanitisi itu mendasari dari pembangunan keseluruhannya,” tegasnya.
Menurutnya, kesadaran dan kepedulian terhadap pentingnya permasalahan ini harus lebih ditingkatkan. Sanitasi yang tidak layak tidak hanya berdampak pada kesehatan semata, tapi juga kesejahteraan hidup masyarakat dan menentukan kemajuan bangsa Indonesia.
“Sistem kita kurang peduli, kita kalau punya jalan tol, menara tinggi, itu sudah hebat, padahal ukuran kesejahteraan masyarakat tidak diukur dari itu. Pertama adalah infrastruktur kesehatan, infrastruktur keluarga,” ungkap penggagas program jambanisasi yang bersama TNI telah membangun lebih dari 1 juta unit jamban di Indonesia.
Dr Budi Laksono menegaskan, sanitasi yang layak dan akses air bersih menjadi kebutuhan dasar setiap manusia. Idealnya, setiap keluarga dan rumah tangga harus memiliki infrastruktur jambanisasi atau toilet yang layak.
“Orang yang gak punya WC adalah orang yang paling miskin, indikatornya itu. Kalau keluarga gak punya jamban, maka otomatis setiap orang buang air itu kira-kira ada berapa miliar kuman bakteri yang keluar dari satu orang. Kalau buang airnya di sungai atau di sembarang tempat, bisa mencemari banyak orang,” bebernya.
Dia mengungkapkan, yang dibutuhkan saat ini adalah kepedulian dan perhatian tentang pentingnya menyelesaikan permasalahan ini. Dia berharap pemerintahan ke depan bisa melanjutkan program pembangunan berkelanjutan (sustainable development goals/SDGs) yang salah satu poinnya adalah memastikan masyarakat mencapai akses universal air bersih dan sanitasi.(HS)