HALO WONOSOBO – Polres Wonosobo meningkatkan patroli dialogis, sebagai upaya untuk mengantisipasi dan menangkal bahaya radikalisme, terorisme, dan intoleransi di wilayahnya.
Kapolres Wonosobo, AKBP Eko Novan Prasetyopuspito, seperti dirilis polres.wonosobokab.go.id, Minggu (6/8/2023) mengatakan langkah ini diambil sebagai bagian dari strategi pencegahan dan penanggulangan potensi ancaman, yang dapat membahayakan keamanan dan stabilitas masyarakat.
Menurut dia, patroli dialogis menjadi salah satu instrumen efektif, dalam membangun hubungan yang harmonis dan memperkuat sinergi dengan masyarakat.
“Patroli dialogis bukan sekadar patroli keamanan, tetapi juga sarana untuk berinteraksi dan berkomunikasi langsung dengan warga. Kami ingin menciptakan lingkungan yang aman dan kondusif melalui penguatan kerja sama dengan seluruh elemen masyarakat,” ungkapnya.
Dalam patroli dialogis, polisi tidak hanya berfokus pada aspek keamanan semata, tetapi juga melakukan edukasi tentang bahaya radikalisme, terorisme, dan intoleransi.
Penyuluhan akan dilakukan secara berkala dan berkelanjutan agar masyarakat semakin paham dan sadar akan pentingnya menjaga kerukunan serta melawan segala bentuk tindakan radikalisme yang dapat mengancam kedamaian.
Kapolres juga menegaskan bahwa peran aktif masyarakat dalam melaporkan potensi ancaman atau perilaku yang mencurigakan sangat dibutuhkan.
“Peran serta aktif warga dalam memberikan informasi kepada pihak kepolisian merupakan langkah konkrit dalam menjaga keamanan lingkungan sekitar,” tambahnya.
Kepolisian juga bekerja sama dengan tokoh agama, tokoh masyarakat, dan komunitas-komunitas lokal untuk memperkuat pendekatan preventif.
Dengan berkolaborasi, diharapkan pesan-pesan moderat dan toleransi dapat lebih mudah disampaikan dan diterima oleh seluruh lapisan masyarakat.
Untuk diketahui, bahaya radikalisme, terorisme, dan intoleransi harus terus diwaspadai, agar tidak menyebar.
Upaya untuk menangkal teroris pun terus dilakukan Polri, seperti yang dilakukan Densus 88 Mabes Polri, beberapa waktu lalu.
Pasukan antiteror andalan Polri itu, beberapa waktu lalu berhasil membongkar jaringan teroris, yang bertanggung jawab atas serangan bom bunuh diri, di Polsek Astanaanyar, Bandung, pada 7 Desember 2022 lalu.
Karo Penmas Divhumas Polri, Brigjen Ahmad Ramadhan, di Mapolresta Surakarta, Jumat (4/8/2023) lalu, mengatakan ada lima tersangka, yang telah diringkus dan tengah diperiksa oleh Densus 88.
“Mereka merupakan jaringan kelompok yang melakukan bom bunuh di Polsek Astana Anyar,” kata Ahmad Ramadhan
Kelima tersangka tersebut, lanjut dia, berinisial S, AS alias AM, TN, PS, AG, dan R.
Terkait kronologi penangkapan para tersangka, Ahmad Ramadhan menjelaskan bahwa tersangka S ditangkap pada 1 Agustus 2023 sekitar pukul 16.00 WIB.
“Selanjutnya tim Densus melakukan penggeledahan di rumah S yang berlokasi di Banyudono Boyolali,” tuturnya.
Dari hasil pengembangan, Densus kemudian melakukan sejumlah penegakan hukum atau penangkapan terhadap empat tersangka lain pada tanggal 2 dan 3 Agustus di wilayah Kabupaten Sukoharjo dan Boyolali.
“Tersangka R ditangkap terakhir. Dia merupakan istri dari AG. Ditangkap pada tanggal 3 Agustus di Boyolali,” terangnya
Selama operasi, kata Ahmad Ramadhan, tim Densus 88 berhasil menyita beberapa barang bukti penting, termasuk peralatan elektronik, bahan-bahan kimia, dan alat-alat yang digunakan dalam merakit bahan peledak.
Sementara itu, PPID Densus 88, Kombes Aswin Azhar Siregar menyebut Densus 88 akan melakukan interogasi terhadap para tersangka dan pemeriksaan laboratorium forensik terhadap barang bukti yang telah disita.
“Selain itu juga akan dilakukan pemetaan jaringan teroris dan melanjutkan penegakan hukum terhadap tersangka lain yang terlibat dalam aksi bom bunuh diri di Polsek Astanaanyar,” tegasnya. (HS-08)