HALO SPORT – Franco Morbidelli, pembalap tim Monster Energy Yamaha, mengakui kehebatan motor Eropa pada MotoGP 2023.
Morbidelli (28) menyadari pabrikan Jepang, Yamaha dan Honda, sedang mengalami masalah besar di MotoGP.
Morbidelli finis ke-12 pada Grand Prix (GP) Jerman di Sirkuit Sachsenring, 18 Juni lalu.
Dia menjadi pembalap Yamaha dengan finis terbaik setelah Fabio Quartararo menempati posisi ke-13.
Ini menjadi kali ketiga pada musim 2023 ketika Quartararo dan Morbidelli sama-sama gagal finis di luar posisi sembilan besar.
Yamaha sangat kesulitan menembus dominasi pabrikan-pabrikan Eropa, terutama Ducati.
Performa Yamaha masih jalan di tempat, sedangkan pabrikan seperti Ducati, KTM, dan Aprilia sudah membuat kemajuan luar biasa.
’’Tahun ini semuanya sudah berubah. Semua orang telah meningkat pesat,’’ ungkap Morbidelli seperti dikutip dari Speedweek.
Kondisi Honda malah lebih buruk karena hanya Takaaki Nakagami (tim LCR Honda) yang mampu meraih poin dengan finis di urutan ke-14.
Selain Nakagami, Marc Marquez dan Joan Mir (Repsol Hond), serta rekan setim Takaaki, Alex Rins, absen lantaran dibanting motor mereka sendiri.
’’Kami harus merefleksikan hasil ini dan bersiap untuk langkah selanjutnya. Kami berharap Yamaha mau membuka diri, baik dari segi budaya kerja maupun soal pengembangan mesin M1,’’ papar pembalap asal Italia ini.
Perbedaan budaya disebut-sebut menjadi alasan Yamaha dan Honda tertinggal dari rival-rival mereka yang lebih agresif dalam pengembangan.
Soal pengembangan aerodinamika dan ride height device yang krusial, pabrikan Jepang terlihat cuma mengekor inovasi dari lawan.
Pabrikan Eropa, khususnya Ducati dan KTM, bisa bekerja lebih baik karena mereka mampu memberikan lebih banyak sumber daya ke proyek mereka. (HS-06)