Meski Kasus LSD Meningkat, Pemkab Kendal Belum Menutup Pasar Hewan
HALO KENDAL – Meski ada peningkatan jumlah ternak yang terpapar virus Lumpy Skin Disease (LSD), namun Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan, Dinas Pertanian dan Pangan (Dispertan) Kendal belum menutup pasar hewan yang ada di Kendal.
Hal tersebut disampaikan Kepala Dispertan Kendal, Pandu Rapriat Rogojati, saat ditemui di ruang kerjanya, Rabu (8/2/2023)
Menurutnya, penutupan pasar hewan tidak akan dilakukan karena belum ada instruksi dari pemerintah pusat. Sehingga yang dikakukan pihaknya adalah memberikan sosialisasi kepada para pedagang ternak untuk tidak membeli ternak dari daerah yang tertinggi dampak LSD-nya.
“Kita belum melakukan penutupan pasar-pasar hewan di Kabupaten Kendal. Saat ini kita terus memberikan sosialisasi kepada masyarakat dan peternak, untuk tetap menjaga dan merawat hewan ternaknya, supaya tidak terinfeksi virus LSD,” terang Pandu.
Selain itu, pihaknya juga terus menggencarkan pemberian pengobatan atau vaksinasi untuk hewan yang terpapar, sekaligus melaksanakab vaksinasi penyakit mulut dan kuku (PMK).
“Saat ini total dalam catatan kami ada 204 ternak di Kendal yang terpapar LSD. Untuk vaksinasi LSD saat ini tidak kami lakukan karena stok vaksin sudah habis. Sambil menunggu pendistribusian 10 ribu vaksin LSD dari pemerintah pusat, kami melakukan vaksinasi PMK (penyakit mulut dan kuku),” jelas Pandu.
Dipaparkan, penyebaran LSD di Kendal yang sebelumnya berada di 13 kecamatan, namun sekarang meluas menjadi 16 kecamatan.
“Kasus terbanyak berada di Desa Blorok ada 25 ekor, Desa Penjalin 17 ekor dan Desa Tunggulsari ada 12 ekor. Berikutnya berada di Desa Pamriyan ada sepuluh ekor, serta Desa Botomulyo dan Rejosari, masing-masing ada enam ekor,” papar Pandu.
Kepala Dispertan Kendal juga mengungkapkan, saat ini pihaknya juga terus melakukan komunikasi, informasi dan edukasi terkait penyakit LSD kepada masyarakat, khususnya para peternak.
“Saya mengimbau, kepada para peternak untuk menjaga kebersihan kandang. Karena vectornya adalah lalat dan nyamuk yang membawa virus. Selain itu juga memberikan pakan yang baik,” ungkapnya.
Pandu menambahkan, jika ada kelompok kandang yang terkena, sebaiknya kelompok yang lain dipisahkan dan diberikan tambahan vitamin.
Sedangkan untuk pengendalian dan penanganan, pihaknya juga melakukan langkah, pembatasan lalu lintas, karkas, kulit dan semen. Tidak memasukkan ternak dari daerah tertular dan isolasi ternak sakit.
“Langkah vaksinasi adalah yang paling jitu untuk mencegah terkena virus LSD khususnya di Kabupaten Kendal. Dan Insya-Allah, jika ternak sudah divaksinasi tidak akan terkena virus LSD,” imbuh Pandu.
Salah seorang pedagang sapi di Desa Lanji, Kecamatan Patebon, Jumiati mengatakan, sekitar enam bulan ini, dirinya sementara tidak berani mendatangkan sapi maupun mengirimkan sapi ke pelanggan ke luar daerah.
Pasalnya, bisa saja terjadi penularan virus LSD ketika hewan sapi dalam perjalanan, sehingga akan mengalami kerugian.
“Sudah enam bulan di rumah saja. Saya tidak berani membeli atau mengantar sapi ke luar daerah Kendal,” ujar Jumiati.
Untuk saat ini, dirinya hanya fokus merawat hewan ternak sapi supaya kondisinya sehat. Ia dibantu anaknya, Kholid yang ikut merawat sapi. Diakui, beberapa sapi ada yang pernah terkena PMK, namun sudah sembuh.
“Semua sapi saya sudah divaksin secara cuma-cuma oleh petugas. Sedangkan untuk obat, harus membeli sendiri. Kemarin-kemarin, kalau ada sapi yang baru datang, kami lapor ke petugas untuk minta divaksin,” ungkap Jumiati. (HS-06)