in

33 Tahun Terpisah, Hangatnya Rindu Alumni SMA MUTU 1993 Terobati di Syawalan

Para alumni SMA Muhammadiyah 7 Yogyakarta angkatan 1993, saat Silaturahmi dan Temu Kangen, Sabtu (4/4/2026).

SENJA baru saja turun di kawasan Jalan Godean KM 10, DIY, Sabtu (4/4/2026), ketika tawa dan pelukan hangat mulai memenuhi Bale Roso. Di tempat itu, puluhan alumni SMA Muhammadiyah 7 Yogyakarta, yang akrab disapa SMA MUTU—angkatan 1993 dipertemukan kembali dalam acara syawalan dan temu kangen. Wajah-wajah yang dahulu akrab di bangku sekolah kini tampak lebih dewasa, namun sorot mata mereka tetap sama: penuh kehangatan dan cerita.

Rasa haru bercampur bahagia tak bisa disembunyikan. Setelah 33 tahun berpisah oleh waktu dan kesibukan, mereka kembali duduk melingkar, berbagi kisah, mengenang masa-masa remaja yang sederhana namun membekas. Canda yang dulu sering pecah di ruang kelas, kini kembali mengalir tanpa sekat, seolah waktu tak pernah benar-benar memisahkan.

Obrolan demi obrolan mengungkap perjalanan hidup masing-masing. Ada yang kini mengabdi sebagai aparatur sipil negara, anggota TNI-Polri, guru, dosen, hingga pengusaha dan wiraswasta. Namun perbedaan profesi itu luluh dalam suasana kekeluargaan. Tak ada jarak, tak ada sekat—yang tersisa hanya ikatan lama yang kembali menguat.

Salah satu penggagas acara, Evie Affianti, menuturkan bahwa tradisi silaturahmi pasca-Lebaran sebenarnya rutin diupayakan setiap tahun. Namun, seiring waktu, kesibukan dan jarak membuat tak semua alumni bisa hadir.

“Alhamdulillah, kali ini teman-teman alumni SMA MUTU 1993 bisa berkumpul lagi. Tujuannya sederhana, untuk menjaga silaturahmi dan mengakrabkan kembali teman-teman yang sudah berpisah puluhan tahun,” ujar Evie, yang kini berprofesi sebagai guru.

Ia berharap pertemuan semacam ini tak hanya mempererat hubungan antarangkatan, tetapi juga membuka ruang kebersamaan lintas generasi alumni.

Harapan serupa disampaikan Muhammad Kurniawan, yang kini menjabat Kepala Tata Usaha Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY). Baginya, pertemuan rutin menjadi cara sederhana namun bermakna untuk menjaga tali persaudaraan.

“Alhamdulillah semua sehat dan masih bisa dipertemukan dalam suasana seperti ini. Semoga kita semua diberi kesehatan, umur panjang, dan bisa terus bertemu di tahun-tahun mendatang,” tuturnya.

Dari sudut lain, Nunung Nurhayati tampak tak henti tersenyum. Ia datang jauh dari Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah, demi menghadiri acara ini. Baginya, perjalanan panjang itu terbayar lunas dengan hangatnya pertemuan.

“Teman-teman di SMA MUTU itu ramah dan mudah bergaul. Banyak sekali kenangan indah selama sekolah dulu. Rasanya selalu ingin kembali ke Yogya,” ungkapnya penuh semangat.

Meski komunikasi tetap terjalin melalui grup WhatsApp, Nunung mengakui bahwa bertemu langsung menghadirkan rasa yang berbeda. Ada rindu yang hanya bisa terobati lewat tatap muka, lewat tawa yang terdengar nyata, dan pelukan yang terasa hangat.

“Kalau kangen itu sering datang tiba-tiba. Tapi tidak selalu bisa langsung ke Yogya. Makanya momen seperti ini sangat berarti,” katanya.

Menjelang malam, kebersamaan itu ditutup dengan sesi foto bersama. Deretan senyum merekah diabadikan, menjadi bukti bahwa waktu boleh berlalu, namun persahabatan tetap tinggal. Foto-foto itu pun segera tersebar di media sosial, membawa cerita kebahagiaan kepada yang belum sempat hadir.

“Selamat berjumpa lagi di pertemuan tahun depan dan tahun-tahun berikutnya,” seru para alumni, penuh harap.

Di tengah hiruk pikuk kehidupan masing-masing, pertemuan itu menjadi pengingat sederhana: bahwa rumah tak selalu berupa tempat, tetapi bisa juga berupa orang-orang yang pernah berjalan bersama dalam satu cerita.(HS)

Dari Garasi Kecil hingga Ekspor ke 18 Negara, Nawal Yasin Apresiasi Perjalanan Naruna Ceramic Salatiga

53 Atlet Disabel Kendal Antusias Ikuti Seleksi Menuju Peparprov Jateng 2026