HALO BLORA – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Blora mencatat sebanyak 188 desa di wilayahnya saat ini sudah mengalami kekeringan dan warganya pun kesulitan mendapatkan air bersih.
Kepala Pelaksana Harian (Kalakhar) BPBD Kabupaten Blora, Sri Widjanarsih mengungkapkan, semula sebanyak 125 desa di 14 kecamatan mengalami kekeringan.
Namun kemudian wilayah yang mengalami kekeringan bertambah menjadi 188 desa.
“Awal yang diusulkan dari kecamatan ada 125 desa, terus bertambah menjadi 188 desa,” kata Kalakhar BPBD Blora, Sri Widjanarsih, Rabu (23/8/2023), seperti dirilis blorakab.go.id.
Menurut dia, dari 16 kecamatan di Blora, hanya dua yang belum mengalami kekeringan, yakni Kecamatan Kradenan dan Kecamatan Todanan.
“Menurut peta BMKG, Blora termasuk daerah kekeringan. Dari 16 Kecamatan yang terdampak kekeringan ada 14 kecamatan. Yang dua Kecamatan belum, Yakni Kecamatan Kradenan dan Todanan,” kata dia.
Untuk wilayah paling parah terdampak, adalah beberapa desa dan dukuh di Kecamatan Jati dan Randublatung.
Menurut dia, BPBD telah melakukan droping air bersih ke sejumlah desa yang mengalami kekeringan tersebut. Bahkan pengiriman air dilakukan setiap hari.
“BPBD sudah mengirimkan air bersih ke sejumlah desa-desa yang mengalami kekeringan. Hampir setiap hari, dalam satu hari ada satu sampai dua kecamatan berdekatan, yang kami lakukan droping. Untuk satu desa tiga tangki,” ujarnya.
BPBD Blora mencatat musim kemarau di Blora, sudah terjadi sejak awal bulan Juli lalu. Dan diprediksi akan mencapai puncaknya pada bulan September 2023.
“Awal juli kita sudah masuk musim kering, puncak kemarau itu ada di bulan Agustus dan Aeptember. Nanti menurut BMKG bulan Oktober dan Nopember akan terjadi El Nino, jadi juga harus kita waspadai dampaknya,” terangnya.
Pihaknya juga berharap bantuan air bersih dari berbagai instansi, lembaga, ormas dan lainnya tetap terus dilaksanakan untuk membantu warga yang mengalami kekerigan.
Sampai dengan Agustus pertengahan ini sudah tercatat 751 ribu liter atau 143 tangki yang telah didistribusikan.
“Seharinya bisa 12 tangki berisi 60 ribu liter air, karena desa di blora termasuk banyak berpotensi bencana kekeringan,” ungkapnya.
BPBD Blora mencatat musim kemarau di Blora, sudah terjadi sejak awal bulan Juli lalu. Dan diprediksi akan mencapai puncaknya pada bulan September.
“Awal Juli kita sudah masuk musim kering, puncak kemarau itu ada di bulan agustus dan september. Nanti menurut BMKG bulan Oktober dan Nopember akan terjadi El Nino, jadi juga harus kita waspadai dampaknya,” terangnya. (HS-08)