in

160 Kader PKK di Jepara Disiapkan Jadi Garda Pendeteksi TBC

Sosialisasi pencegahan dan penanggulangan TBC, diikuti para kader PKK, berlangsung di Pendopo Kartini Jepara, Kamis (7/5/2026). (Foto : jepara.go.id)

 

HALO JEPARA – Kelompok kerja (Pokja) IV Tim Penggerak (TP) PKK Kabupaten Jepara, mengerahkan 160 kader di desa dan kelurahan di Kabupaten Jepara, untuk menjadi pendeteksi TBC di lingkungan masing-masing.

Mereka diberi bekalan pengetahuan untuk mengenali gejala hingga mendampingi pasien agar tidak putus obat.

Pembekalan dilakukan melalui sosialisasi pencegahan dan penanggulangan TBC di Pendopo Kartini Jepara, Kamis (7/5/2026).

Dalam acara itu, peserta mendapatkan materi mengenai gejala TBC, pola penularan, serta pentingnya pengobatan hingga tuntas.

Kader juga didorong aktif melakukan edukasi dan deteksi dini di lingkungan masing-masing.

Ketua I TP PKK Jepara, Syahnez Danniar Yusuf atau Inez Hajar, mengatakan TBC masih menjadi perhatian dalam upaya kesehatan masyarakat.

Karena itu, kader dinilai memiliki peran penting membantu pencegahan penularan di lingkungan warga.

“TBC bisa disembuhkan, jika pasien disiplin menjalani pengobatan sampai tuntas,” kata dia, seperti dirilis jepara.go.id.

Ia menjelaskan, pasien TBC harus minum obat secara teratur selama enam hingga delapan bulan.

Dalam proses tersebut, kader diharapkan dapat menjadi pendamping sekaligus penyemangat agar pasien tidak putus berobat.

Inez Hajar juga meminta masyarakat tidak memberikan stigma kepada penderita TBC.

Menurut dia, keterbukaan dan deteksi dini menjadi langkah penting untuk membantu memutus rantai penularan.

“TBC bukan hanya soal medis, tetapi juga kemanusiaan. Jangan ada lagi stigma atau rasa malu terhadap penderita,” kata dia.

Sementara itu, narasumber dari Dinas Kesehatan Jepara, Agus Carda, mengatakan pemerintah menargetkan eliminasi TBC pada 2030.

Upaya itu dilakukan melalui peningkatan penemuan kasus dan keberhasilan pengobatan pasien.

Menurut dia, Pemkab Jepara terus memperkuat pengendalian TBC melalui evaluasi rutin dan pemantauan indikator program hingga tingkat desa. Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan penanganan berjalan optimal.

Selain penguatan layanan kesehatan, upaya pengendalian juga dilakukan melalui edukasi masyarakat dan pendampingan pasien agar pengobatan tidak terputus.

“Kasus TBC harus ditemukan lebih dini agar segera diobati dan tidak menular,” ujarnya.

Narasumber dari Koalisi Organisasi Profesi Indonesia untuk Penanggulangan Tuberkulosis, dr Tri Adi Kurniawan, mengatakan TBC merupakan penyakit infeksi yang menular melalui percikan dahak. Penularan dapat terjadi saat penderita batuk, bersin, maupun berbicara.

Ia menjelaskan, kader memiliki peran penting dalam pencegahan, deteksi dini, serta pendampingan pasien di masyarakat. Menurut dia, kader juga diharapkan aktif mengingatkan pasien agar tidak menghentikan pengobatan sebelum dinyatakan sembuh.

“Pasien yang putus berobat berisiko mengalami kekebalan obat sehingga pengobatannya menjadi lebih sulit,” tuturnya.

Usai pemaparan materi, kegiatan dilanjutkan dengan sesi diskusi. Peserta tampak antusias mengajukan pertanyaan kepada narasumber. (HS-08)

 

 

Ketua TP Posyandu Kecamatan se-Jepara Diminta Perkuat Layanan Terpadu untuk Masyarakat

Kebakaran Tengah Malam, Rumah Warga Pegandon Kendal Nyaris Ludes