HALO KENDAL – Mendampingi proses tumbuh kembang anak adalah momen penting yang ditunggu oleh orang tua. Meski terkadang, orang tua seringkali belum menyadari jika anaknya mulai memasuki masa puber atau akil baligh. Kondisi tersebut menyebabkan ketidaksiapan dalam menghadapai perubahan pada anak.
Hal itu disampaikan narasumber dan Ketua Majelis Dikdasmen PC Muhammadiyah Cepiring, Ahmad Syaifudin, saat menjadi pembicara dalam “Parenting Mendampingi Anak Usia Akil Baligh” di SDIT Muhammadiyah Cepiring Kendal belum lama ini, yang diikuti 60-an orang tua siswa.
Menurutnya, program parenting sangat penting terhadap orang tua, dalam rangka memberikan wawasan dan juga ilmu mengenai pengasuhan terhadap anak sejak dini. Program parenting juga memiliki banyak manfaat terhadap perkembangan karakter anak dan juga bagi pertumbuhan anak usia dini.
“Sehingga akan tercipta karakter anak saat usia akil baligh dari segi moral, seperti watak, sikap, tingkah laku, serta sopan santun yang menjadi ciri khas bagi setiap orang, yang dapat membedakan satu sama lain,” ujar Kang Asep sapaan akrabnya, dalam rilis.
Bahkan, tidak sedikit orang tua yang mengeluh, anaknya menjadi tertutup dan tidak mengenal karakter yang anak miliki. Hal ini bisa jadi karena sejak kecil, orangtua kurang memberikan pola asuh yang baik padanya.
“Untuk itu, menerapkan parenting juga menjadi alasan kuat agar orang tua bisa memahami karakter anak. Cobalah dengarkan apa yang anak inginkan untuk memahami apa yang sebenarnya sedang anak rasakan dan butuhkan dari orangtua,” ungkap Owner Diklat Azfa Indonesia (Azfa) Kendal tersebut.
Kang Asep membeberkan, adanya kasus pencabulan kepada siswa di sekolah, seks di luar nikah, tawuran, narkoba, pornografi dan pornoaksi, salah satu yang menjadi penyebab adalah kurangnya kesadaran orang tua untuk mendampingi terus si anak ketika memasuki usia akil baligh.
Sehingga, dalam parenting diharapkan dapat memberikan kesadaran pemahaman akil baligh, supaya menjadi titik poin penting dalam proses mendidik seorang anak.
“Mengingat titik akil balig adalah kondisi yang sehat sempurna pikirannya, dapat membedakan baik dan buruk, benar dan salah, mengetahui kewajiban, dibolehkan dan yang dilarang, serta yang bermanfaat dan yang merusak masa depannya,” beber Kang Asep.
Senada disampaikan Kepala SDIT Muhammadiyah Cepiring, Siti Fadhilah, yang juga mengaku sangat prihatin dengan pergaulan remaja saat ini. Yang semakin meninggalkan norma agama dan adat budaya.
“Oleh karena itu, sedini mungkin kita harus mengadakan kegiatan parenting dengan sasaran orang tua murid, untuk mengantisipasi terjadinya perilaku menyimpang pada anak didik ketika memasuki usia aqil baligh. Apa yang dikerjakan akan diperhitungkan sebagai amal baik atau amal buruk,” ujarnya. (HS-06)