in

Wujudkan Ekoteologi dalam Aksi, Ribuan Peserta Pesparawi Nasional XIV Kompak Bawa Tumbler

Para kontingen Pesparawi 2026 membawa tumbler selama berlangsungnya acara di Manokwari, Papua Barat. (Foto : kemenag.go.id)

 

HALO SEMARANG – Di sela-sela keramaian penampilan terbaik di panggung Pesta Paduan Suara Gerejawi (Pesparawi) Nasional XIV Tahun 2026, ada satu pemandangan yang mudah ditemui di hampir setiap venue perlombaan: tumbler di tangan para peserta.

Ribuan anggota paduan suara, official, dan panitia kompak membawa wadah minum isi ulang itu, sebagai bagian dari gerakan ramah lingkungan yang diusung penyelenggara.

Bukan sekadar mengurangi sampah plastik, langkah ini menjadi wujud nyata nilai ekoteologi yang mengajak umat beriman merawat bumi sebagai ciptaan Tuhan.

Suasana tersebut terlihat di berbagai arena perlombaan di Manokwari, Papua Barat, baru-baru ini.

Di tengah antusiasme peserta dan penonton menyaksikan penampilan kontingen dari berbagai provinsi, penggunaan tumbler menjadi kebiasaan yang tampak menyatu dengan aktivitas sehari-hari selama penyelenggaraan Pesparawi.

Gerakan ini merupakan bagian dari kampanye Pesparawi Ramah Lingkungan yang diusung panitia, untuk mendorong pengurangan penggunaan plastik sekali pakai, sekaligus menumbuhkan kesadaran kolektif tentang pentingnya menjaga kelestarian lingkungan.

Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Kristen Kementerian Agama, Jeane Marie Tulung, mengatakan bahwa gerakan penggunaan tumbler merupakan salah satu bentuk implementasi nilai ekoteologi yang terus didorong dalam kehidupan umat beragama.

“Pesparawi bukan hanya menghadirkan harmoni dalam pujian kepada Tuhan, tetapi juga mengajak seluruh peserta dan masyarakat untuk membangun harmoni dengan ciptaan-Nya,” ujar Dirjen Bimas Kristen, Jeane Marie Tulung, seperti dirilis kemenag.go.id, pada Kamis (25/6/2026).

“Penggunaan tumbler merupakan langkah sederhana namun memiliki dampak besar dalam mengurangi sampah plastik dan membentuk budaya hidup yang lebih peduli terhadap lingkungan,” imbuhnya.

Menurutnya, kepedulian terhadap lingkungan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan beriman.

Karena itu, nilai-nilai yang dibangun dalam Pesparawi tidak hanya diwujudkan melalui lagu dan pujian, tetapi juga melalui tindakan nyata yang memberikan manfaat bagi lingkungan.

“Melalui Pesparawi Nasional XIV Tahun 2026 di Manokwari, kita ingin menumbuhkan kesadaran bahwa menjaga bumi adalah tanggung jawab bersama sebagai bentuk syukur atas anugerah Tuhan bagi seluruh ciptaan. Dari hal-hal kecil seperti membawa tumbler, kita sedang mewariskan budaya yang lebih baik bagi generasi mendatang,” tambahnya.

Bagi penyelenggara, penggunaan tumbler bukan sekadar soal mengganti botol plastik dengan wadah minum yang dapat digunakan berulang kali. Lebih dari itu, gerakan tersebut menjadi simbol perubahan perilaku yang dimulai dari langkah sederhana namun dilakukan secara bersama-sama.

Ketika ribuan peserta dari seluruh Indonesia membawa semangat yang sama, Pesparawi tidak hanya menjadi ajang menampilkan harmoni suara, tetapi juga ruang belajar untuk membangun harmoni dengan alam.

Sebuah pengingat bahwa merawat lingkungan dapat dimulai dari kebiasaan kecil yang dilakukan setiap hari.

Melalui gerakan ini, Pesparawi Nasional XIV menunjukkan bahwa pujian kepada Tuhan tidak berhenti di atas panggung.

Ia juga hadir dalam kepedulian terhadap bumi, rumah bersama yang perlu dijaga dan diwariskan kepada generasi mendatang. (HS-08)

 

 

Pilihan Baru, UIN Surakarta Buka Fakultas Saintek

Soroti Lemahnya Pengawasan Program Bedah Rumah, Komisi V DPR Sebut Anggaran Evaluasi Nol, Pengawasan Bisa Lumpuh