in

Warung Kucingan Dan Burjo, Revolusi Nongkrong ala Anak Muda di Semarang

Foto ilustrasi AI.

DI tengah hiruk-pikuk lalu lintas Semarang yang tak pernah tidur, sekelompok anak muda berkerumun di pinggir jalan.

Bukan di kedai kopi bergaya industrial dengan lampu neon estetik, melainkan di angkringan sederhana dengan gerobak kayu dan kursi plastik yang sudah aus. Kadang juga menggunakan tikar lusuh, namun cukup nyaman untuk tertawa lepas sambil menyantap sate usus seharga seribuan, sambil sesekali melirik ponsel untuk cek update game online.

Ini pemandangan biasa di Kota Lumpia, di mana generasi muda lebih suka warung kucingan, atau yang sering disebut angkringan kecil-kecilan dan burjo ketimbang cafe-cafe mahal yang menjamur. Mengapa? Karena di sini, hidup terasa lebih nyata, tanpa perlu pura-pura mewah.

Bayangin saja, cafe-cafe di Semarang seperti yang hits di sekitar Simpang Lima, Jalan Pandanaran, Jalan Menteri Supeno, dan Jalan Gajahmada, atau kawasan elite lainnya, menawarkan secangkir kopi dengan harga yang bisa bikin dompet menjerit. Satu gelas latte bisa mencapai Rp 50 ribu, lengkap dengan foam art yang Instagramable.

Tapi di angkringan atau burjo, segelas teh hangat cuma Rp 3 ribu, dan kamu bisa duduk berjam-jam tanpa dikejar-kejar pelayan yang bilang “maaf, meja ini untuk dua jam saja.”

Anak muda Semarang yang katanya generasi digital ini justru memilih tempat sederhana. Padahal, mereka bisa saja nongkrong di spot kekinian dengan WiFi super cepat dan colokan listrik di setiap meja. Tapi tidak, mereka lebih suka burjo di dekat kampus seperti Undip atau Unnes, di mana WiFi gratis jadi andalan untuk main Mobile Legends bareng teman sambil ngopi murah.

Di Semarang, tempat seperti burjo di sekitar Peleburan dan Tembalang banyak yang buka 24 jam, jadi surga bagi mahasiswa yang sering begadang ngerjain tugas atau sekadar ngobrol sampai subuh.

Tempat ini bukan cuma jual bubur kacang ijo, tapi juga jadi arena sosial dengan menu variasi yang murah meriah, mulai dari nasi goreng hingga mi instan.

Pengunjungnya mayoritas anak muda berusia 18-25 tahun, kebanyakan mahasiswa yang tinggal di kos-kosan sekitar kampus. Mereka datang bukan karena kekurangan pilihan, tapi karena di sini, uang saku bulanan bisa bertahan lebih lama.

Burjo dan angkringan seperti ini ramai pengunjung hingga tengah malam, dengan alasan utama: harga terjangkau dan fasilitas WiFi yang bisa dipakai untuk game online tanpa batas. Bayangkan kalau mereka ke cafe: satu sesi nongkrong bisa habis Rp 100 ribu per orang, cukup untuk beli stok makanan seminggu di angkringan.

Budaya ini sebenarnya mencerminkan kecerdasan finansial anak muda Semarang. Di warung kucingan, yang sering disebut angkringan dengan menu sederhana seperti nasi kucing dan gorengan, suasana lebih santai.

Tidak ada tekanan untuk pesan menu mahal agar terlihat keren. Malah, di sini, kamu bisa datang pakai sandal jepit dan kaos oblong, tanpa takut dianggap kurang gaul.

Sedangkan cafe-cafe yang katanya modern justru sering bikin orang merasa tertekan: dengan harganya dan menu-menunya yang kadang cuma ganti istilah dengan bahasa Inggris saja. Kecuali, kalau memang ada janjian kencan dengan gebetan baru, agar nampak “sangar” meski harus rogoh kocek yang bisa memangkas jatah bulanan.

Sementara di burjo dekat kampus seperti di Ngaliyan, ada yang ramai sekali, terutama malam hari, karena lokasinya strategis di sekitar universitas, di mana mahasiswa butuh tempat murah untuk lepas penat setelah kuliah.

Elemen Budaya

Bicara soal lokasi, ini bukan kebetulan. Banyak angkringan dan burjo bermunculan di sekitar kampus besar Semarang, seperti di sekitar Universitas Diponegoro, UIN Walisongo, atau Universitas Negeri Semarang. Alasannya sederhana: mahasiswa adalah pelanggan utama. Mereka yang datang dari luar kota, dengan uang saku pas-pasan, lebih memilih tempat ini daripada cafe yang harganya selangit.

Di sini, nongkrong bukan soal gengsi, tapi soal kebersamaan. Kalau di cafe, kamu mungkin sendirian karena teman takut kantong bolong, tapi di angkringan, satu tikar bisa muat sepuluh orang, saling cerita sambil berbagi sate kikil.

Tapi jangan salah, ini bukan cuma soal uang. Ada elemen budaya di baliknya. Semarang, dengan sejarahnya sebagai kota perdagangan, punya tradisi angkringan yang mirip dengan di Jogja atau Solo, di mana makanan murah jadi simbol egaliter.

Anak muda hari ini, yang katanya haus akan pengalaman autentik, justru menemukannya di sini. Di era di mana semua orang ingin terlihat mewah di media sosial, mereka malah pilih tempat yang “rendah hati.”

Spot seperti Angkringan Pak Gik di Wot Gandul, Jalan Gajahmada, Kota Semarang jadi bukti, dengan menu enak dan harga ramah kantong, ramai dikunjungi anak muda yang ingin makan sambil ngobrol panjang hingga pagi.

Dan WiFi gratis di burjo? Itu bonus yang bikin mereka betah, main game online bareng tanpa takut kuota habis.

Budaya ini sebenarnya pelajaran buat kita semua. Di Semarang, anak muda membuktikan bahwa kebahagiaan tak selalu datang dari gelas kopi mahal atau dekorasi estetik.

Malah, di angkringan atau burjo, mereka menemukan esensi hidup: murah, asyik, dan penuh tawa.

Mari angkat gelas teh hangat untuk generasi Semarang yang pintar mengatur dompet, karena di dunia yang semakin mahal, nongkrong murah adalah bentuk pemberontakan paling lucu.(Tulisan ini disempurnakan oleh AI-HS)

Program “PIJAR”: Gerakan Pemuda Semarang Jaga Kesehatan Mental Remaja di Era Digital

Sosialisasi Kewaspadaan Dini, Bupati Kendal: Fondasi Terciptanya Lingkungan yang aman dan Kondusif