in

Warga Cilacap Masih Gandrungi Wayang Kulit

Pergelaran wayang kulit Dialog Parlemen Nguri-uri Kebudayaan Khas Cilacap di Sanggar Ajisaka Cilacap, baru-baru ini. (Foto : dprd.jatengprov.go.id)

 

HALO CILACAP – Kesenian tradisional wayang kulit, ternyata masih mendapat tempat di hati warga Cilacap.

Setiap kali pertunjukan digelar, banyak warga berdatangan ke lokasi acara. Selain itu sejumlah remaja juga aktif mengikuti pelatihan di sanggar-sanggar di daerah itu.

Hal itu terungkap dalam Dialog Parlemen Nguri-uri Kebudayaan Khas Cilacap di Sanggar Ajisaka Cilacap, baru-baru ini.

Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Cilacap, Sukarno Sugiharto, seperti dirilis dprd.jatengprov.go.id, mengatakan Kabupaten Cilacap merupakan wilayah yang unik.

Warga di wilayah ini dipengaruhi oleh dua kebudayaan, yakni Jawa dan Sunda.

Cilacap merupakan daerah percampuran budaya Jawa dan Sunda. Cilacap bagian barat seperti Majenang, Cimangu, dan Dayeuhluhur lebih banyak dipengaruhi budaya Sunda.

Adapun Cilacap bagian timur, kuat dipengaruhi oleh budaya Jawa.

Pemerintah Kabupaten Cilacap pun, tetap memberi ruang bagi kesenian lokal, untuk berkembang.

Tak hanya wayang kulit, ada pula Tari Jayumas, Cowongan, Sintren.

Sampai 2020, jumlah kelompok kesenian yang sudah teregristasi di Pemkab Cilacap ada 136 kelompok.

Bahkan sampai Agustus 2022, jumlahnya bertambah menjadi 171 kelompok kesenian.

Supaya wayang kulit tetap eksis dan berkembang, Pemkab Cilacap juga memperkenalkan kepada siswa, melalui program “Wayang Masuk Sekolah”.

Sugiono, seorang dalang senior dari Cilacap, mengakui sebenarnya niat remaja untuk mendalami seni pedalangan dan karawitan cukup ada. Seperti di Sanggar Ajisaka, hampir seluruh siswanya berusia remaja.

Karena itu dia meminta pemerintah, agar pergelaran pementasan tetap terus diizinkan.

Dengan demikian, akan terus membangtu seniman untuk terus berkembang dan berusaha.

Anggota Komisi D DPRD Jateng Samirun, yang turut menjadi penyaji materi dalam pegiatan itu, menyatakan sudah menangkap semangat untuk menguri-uri budaya.

Pelaku seni dan pemerintah akan seiring sejalan, demi melestarikan kesenian dan kebudayaan di daerah Cilacap.

Dia mengungkapkan harapan, agar eksekutif, legislatif, dan yudikatif, bersama-sama menjaga konsistensi kebudayaan dan kesenian.

Selain itu penting untuk memasukkan bahasa Jawa di dalam kurikulum pendidikan, karena sudah ada Perda yang mengaturnya.

“Mari kita masyarakat Cilacap bergotong-royong untuk melestarikan kebudayaan ini, khususnya wayang kulit dan yang lainnya. Tidak hanya nguri-uri (melestarikan), tetapi bisa nguripi (menghidupi),” kata dia. (HS-08)

Jelang HUT Ke-71 Humas Polri, Humas Polres Purbalingga Gelar Baksos

Buka Olimpiade PMR Wira, Ketua PMI Grobogan : Jangan Berbuat Curang