in

Upaya Mengurangi Emisi Karbon Ruas Tol Trans Jawa Di Bawah Naungan Trembesi

Suasana arus mudik Lebaran 2026 di Jalan Tol Semarang-Batang yang sekitarnya tumbuh tanaman Trembesi sebagai program penghijauan di sepanjang jalan tol. (Foto dok/Humas Pemprov Jateng)

PAGI itu Kamis (19/3/2026), matahari belum terlalu tinggi saat mobil yang dikemudikan Arif Nugroho (35), warga Kelurahan Manyaran, Kecamatan Semarang Barat, Kota Semarang melaju di ruas tol Semarang menuju Brebes, Jawa Tengah. Dalam perjalanan mudik di Lebaran tahun 2026 ke daerah asalnya ini, dia sesekali menurunkan sedikit kaca jendela, membiarkan angin masuk. Di kiri-kanan jalan, deretan pohon Trembesi menjulang rapi, daunnya lebat, menjadi pemandangan hijau di tengah mulai panasnya aspal dan beton jalan.

Perjalanan mudik panjang di jalan tol memang sering identik dengan panas dan lelah. Namun di beberapa titik, pengalaman itu perlahan berubah. Beberapa tahun terakhir, penghijauan di sepanjang jalan tol mulai mendapat perhatian lebih serius. Salah satu yang konsisten menggarap ini adalah program Bakti Lingkungan dari Djarum Foundation melalui Djarum Trees For Life (DTFL).

Program ini berfokus pada penanaman pohon dalam skala besar, termasuk di sepanjang ruas tol Trans Jawa dan Trans Sumatera. Tujuannya sederhana: mengurangi dampak emisi karbon sekaligus menciptakan lingkungan yang lebih nyaman.

Bakti Lingkungan Djarum Foundation (BLDF) melalui program Djarum Trees for Life (DTFL) sejak tahun 2010 telah memprakarsai gerakan penghijauan di Pulau Jawa dan Pulau Sumatra melalui penanaman trembesi, yang dianggap esensial dalam pengurangan emisi karbon.

Program Director Bakti Lingkungan Djarum Foundation, Jemmy Chayadi pernah menjelaskan, pihaknya telah melaksanakan kegiatan penanaman 25.194 trembesi di sepanjang 267,77 km di lima ruas tol Trans Jawa.

“Awalnya, BLDF fokus melaksanakan program penghijauan di wilayah Kudus, Jawa Tengah saja, karena itu adalah homebase kami. Namun dengan meningkatnya kesadaran akan pentingnya menjaga lingkungan, kami mulai melebarkan program penanaman pohon di banyak wilayah di Indonesia,” ungkap Jemmy, dalam kegiatan diskusi sekaligus inagurasi penanaman trembesi bertajuk “Urgensi Pembangunan Berkelanjutan di Infrastruktur Jalan Tol” di Hotel Morazen, Surabaya, Jawa Timur, Rabu, 23 Oktober 2024 lalu.

Jemmy menambahkan, sejak 2010, pihaknya mulai bekerja sama dengan pengelola jalan tol, sebagai bentuk kontribusi swasta atas komitmen pemerintah dalam menurunkan emisi gas rumah kaca (GRK), sesuai rancangan Second Nationally Determined Contributions (NDC) 2031–2035.

“Banyak jalan tol yang masih gersang dan panas, dan kami berharap ke depannya, sinergi-sinergi multipihak ini semakin esensial dalam membantu capaian target pemerintah atas pengurangan emisi GRK secara bertahap. Ini tidak hanya membuat tampilan lebih indah, tetapi juga berdampak positif pada lingkungan,” paparnya.

Namun seperti banyak hal baik lainnya, dampaknya tidak selalu langsung terasa dalam bentuk angka. Program ini hadir perlahan, lewat perubahan kecil yang dirasakan sehari-hari.

Pohon Trembesi memang bukan pilihan sembarangan. Dalam banyak literatur lingkungan, Trembesi dikenal sebagai salah satu pohon dengan kemampuan serapan karbon yang tinggi. Tajuknya lebar, pertumbuhannya relatif cepat, dan akarnya kuat.

Satu pohon Trembesi dewasa bahkan disebut mampu menyerap karbon dalam jumlah besar setiap tahunnya. Selain itu, daunnya yang rimbun membantu menurunkan suhu di sekitarnya. Trembesi juga bukan tanaman buah, yang dapat mengundang binatang, khususnya lalu lalang hewan bersayap yang dapat membahayakan pengendara di jalur tol.

Emisi Karbon

Data dari berbagai laporan lingkungan menunjukkan bahwa penghijauan di kawasan infrastruktur memang memiliki dampak penting. Jalan tol, dengan volume kendaraan yang tinggi, menjadi salah satu sumber emisi karbon yang signifikan. Kehadiran pohon di sekitarnya membantu menyerap sebagian emisi tersebut.

Selain itu, vegetasi juga berfungsi sebagai penahan angin, penyaring debu, dan peredam kebisingan.

Namun manfaatnya tidak berhenti di situ.

Bagi pengemudi seperti Arif, kehadiran pohon juga berpengaruh pada kenyamanan berkendara. Jalan yang teduh mengurangi kelelahan mata dan membantu menjaga konsentrasi. Dalam perjalanan panjang, hal kecil ini bisa membuat perbedaan besar.

Di sisi lain, warga sekitar juga merasakan dampaknya. Di beberapa daerah yang berdekatan dengan ruas tol, suhu udara terasa sedikit lebih sejuk dibandingkan sebelum ada tanaman peneduh di sekitarnya.

Guruh Indrajaya (42) yang tinggal tak jauh dari jalan tol di Jalan Beruang, Kota Semarang bercerita bahwa dulu area tersebut terasa panas dan kering. Kini setelah banyak pohon tumbuh, suasananya berubah.

“Kalau sore, anginnya lebih enak dan mengurangi kebisingan,” ujarnya.

Perubahan ini mungkin tidak dramatis. Tidak ada perbedaan suhu yang mencolok dalam angka besar. Namun dalam kehidupan sehari-hari, kenyamanan kecil ini sangat berarti.

Program penghijauan ini juga menunjukkan satu hal penting: solusi lingkungan tidak selalu harus rumit. Kadang, langkah sederhana seperti menanam pohon bisa memberi dampak luas jika dilakukan secara konsisten.

Akademisi dari Sekolah Ilmu Lingkungan Universitas Indonesia dan Ketua Umum APIKI (Ahli Perubahan Iklim dan Kehutanan) Network, Mahawan Karuniasa menyatakan, bahwa menanam pohon, khususnya trembesi, sangat penting untuk menyelamatkan kehidupan. Ia menjelaskan, ilmuwan iklim di seluruh dunia dihadapkan pada kenyataan pahit, alam, terutama hutan dan tanah, hampir tidak mampu menyerap karbon dioksida (CO2) dalam jumlah signifikan.

“Dari penelitian terbaru, pohon-pohon lelah untuk melakukan fotosintetis. Dengan semakin banyaknya emisi gas rumah kaca yang dilepaskan ke atmosfer, penyerapan karbon oleh alam seharusnya menjadi penyeimbang utama untuk menjaga stabilitas iklim,” paparnya juga dalam diskusi sekaligus inagurasi penanaman trembesi bertajuk “Urgensi Pembangunan Berkelanjutan di Infrastruktur Jalan Tol”.

Mahawan mengingatkan bahwa temuan awal riset tahun 2023 menunjukkan bahwa sistem alami seperti hutan dan lautan, mulai kehilangan kemampuan untuk menyerap karbon dalam skala besar. Ini memicu kekhawatiran baru terkait percepatan perubahan iklim. “Penurunan kemampuan alam untuk menyerap CO2 dapat memperburuk pemanasan global, sehingga aksi manusia untuk mengurangi emisi menjadi semakin mendesak,” tambahnya.

Tentu saja, menanam pohon bukan solusi tunggal untuk masalah perubahan iklim. Ia hanya satu bagian dari upaya yang lebih besar. Namun langkah kecil yang dilakukan terus-menerus bisa menjadi fondasi yang kuat.

Apalagi jika melibatkan banyak pihak, dari perusahaan hingga masyarakat.

Anggota Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) Unsur Pemangku Kepentingan, Sony Sulaksono Wibowo menyatakan apresiasinya terhadap upaya Bakti Lingkungan Djarum Foundation dalam melakukan penanaman pohon di ruas jalan tol.

“Kami sangat mengapresiasi keterlibatan pihak swasta yang memiliki perhatian akan hal ini. Jika dilakukan oleh pengelola, ini akan menjadi investasi yang berharga dan tidak hanya untuk 267,77 km ini, tetapi juga untuk banyak ruas tol lainnya yang belum tersentuh. Total panjang jalan tol di Indonesia mencapai 2.893,02 kilometer,” ujarnya.

Dengan gerakan ini, Djarum Foundation tidak hanya berkontribusi dalam pengurangan emisi karbon, tetapi juga berupaya menciptakan lingkungan yang lebih hijau dan sehat bagi masyarakat. Inisiatif penghijauan ini diharapkan dapat menjadi model bagi program-program lingkungan lainnya di seluruh Indonesia serta mendorong kesadaran akan pentingnya menjaga lingkungan hidup.(HS)

Ribuan Peziarah Padati Bukit Jabal, Haul Kiai Guru Jadi Napas Tradisi Kaliwungu

Geliat Ekonomi Jateng saat Mudik Lebaran: Omzet Pedagang Melonjak, Kunjungan Wisatawan Menanjak