in

Uji Coba di Banjarnegara, Teknologi Pertanian Rusia Gunakan Cairan Siberia Gantikan Pupuk Kimia

Tim Business Council Indonesia-Rusia, memperkenalkan teknologi 'Cairan Imun' tanaman kepada Kades Hoho, di Desa Purwasaba, Kecamatan Mandiraja.

‎HALO BANJARNEGARA – Upaya mengurangi ketergantungan petani terhadap pupuk kimia, teknologi pertanian ramah lingkungan asal Rusia mulai merambah Kabupaten Banjarnegara.

Tujuannya untuk meningkatkan produktivitas sekaligus memulihkan kualitas tanah yang jenuh akibat pupuk kimia.

Melalui skema penjajakan yang dibawa oleh Business Council Indonesia-Rusia, sebuah teknologi ‘Cairan Imun’ tanaman diperkenalkan di Desa Purwasaba, Kecamatan Mandiraja.

Seperti diketahui sebagian besar petani di Kabupaten Banjarnegara sangat ketergantungan pupuk kimia. Padahal pupuk ini berpengaruh buruk pada struktur tanah jika salah dalam penerapannya.

‎Belum lagi masalah harga pupuk kimia juga terus meroket, sehingga petani di Banjarnegara banyak kesulitan mendapatkan pupuk saat musim tanam.

‎Arry Widya Sudirman, perwakilan dari Business Council Indonesia-Rusia mengungkapkan, kunjungan ini merupakan langkah nyata dalam mendukung ketahanan dan kedaulatan pangan, selaras dengan komitmen kerja sama antara Presiden Indonesia dan Rusia.

‎”Berbeda dengan pupuk organik pada umumnya, teknologi yang dibawa ini menggunakan bahan alami yang hanya ditemukan di satu titik di dunia. Imun yang kami gunakan ini hanya ada di satu daerah bernama Siberia. Tidak ada di negara lain, makanya kami impor langsung dari sana,” ujarnya, Sabtu (24/1/2026).

‎Menariknya, teknologi ini tidak hanya menyasar tanaman pangan seperti padi, tetapi juga hortikultura seperti kentang hingga kopi. Fokus utamanya adalah beralih dari penggunaan pupuk kimia ke sistem bio (organik) yang didukung riset mendalam.

‎”Kami didukung oleh tiga profesor di Rusia. Jika ada kendala lahan atau serangan hama, kami akan kirim langsung sampel ke Rusia untuk diteliti di sana, baru kemudian diberikan solusi teknologinya,” jelas Arry.

‎Sebelum menginjakkan kaki di Banjarnegara, tim yang terdiri dari Arry Widya Sudirman, Rio Boun, dan tenaga ahli asal Rusia, Mr Giliev Illya, telah lebih dulu melakukan uji coba di Purwokerto selama enam bulan terakhir.

‎Hasilnya diklaim sangat signifikan. Padi yang menggunakan cairan imun tersebut menunjukkan pertumbuhan yang jauh lebih unggul dibandingkan padi konvensional.

“Bersama tim telah melakukan uji coba di Purwokerto. Hasilnya jomplang sekali, jauh lebih besar dan kualitasnya sangat bagus. Padahal ini sepenuhnya non-kimia,” tandas Arry.

Meski baru tahap penjajakan, tim dari Rusia ini juga berencana melakukan ekspansi ke Kalimantan, Sumatera, dan Sulawesi pada Februari mendatang.

Arry menekankan bahwa pihaknya lebih memilih cara “senyap” dengan pembuktian hasil di lapangan terlebih dahulu daripada seremoni besar di awal.

“Kami tunjukkan hasilnya dulu di demplot ini. Begitu panen dan hasilnya terbukti, baru kita duduk bersama pemerintah daerah untuk membicarakan kerja sama yang lebih luas demi kemajuan petani kita,” imbuhnya.

Sementara, Kepala Desa Purwasaba, Welas Yuni Nugroho atau yang akrab di sapa Kades Hoho menyambut antusias kehadiran teknologi ini. Menurutnya, hal ini sebagai bentuk komitmen.

Kades Hoho pun telah menyiapkan lahan pribadinya seluas kurang lebih 1,25 hektare untuk dijadikan demplot (lahan percontohan).

‎”Petani kita sudah lama bergantung pada kimia sejak zaman nenek moyang, sehingga tanah banyak yang rusak. Jika teknologi Rusia ini bisa menetralkan sisa kimia dan meningkatkan hasil panen hingga sepertiga dari biasanya, ini adalah istimewa,” ungkapnya.

‎Saat ini, lanjut Kades Hoho, rata-rata produksi padi di wilayahnya mencapai enam ton per hektare.

“Jika teknologi ini berhasil, diharapkan produksi pertanian di Desa Purwasaba bisa melonjak hingga delapan ton per hektare,” tandasnya dengan penuh semangat.(HS)

Buka Turnamen Padel di Semarang, Ini Pesan Ketua KONI Jateng

Cegah Banjir, Taj Yasin Minta Perbanyak Biopori