in

Tradisi Syawalan dengan Kupat Jembut di Pedurungan Semarang

Perayaan syawalan dengan Kupat Jembut di Pedurungan Semarang, Senin (7/4/2025). 

HALO SEMARANG – Ketupat sayur atau yang biasa disebut Kupat Jembut oleh warga Kota Semarang masih menjadi tradisi syawalan di kampung Jaten Cilik RW 6 Kelurahan Pedurungan Tengah.

Kupat Jembut biasanya dibagikan setelah Salat Subuh di Masjid Roudhotul Muttaqin. Selain makanan khas ini, anak-anak yang antusias juga diberi sejumlah uang.

“Senang sekali ini dapat ketupat isinya ada uangnya. Kalau kumpul mau buat beli handphone,” kata Abid di Jalan Taman Tlogomulyo Kampung Jaten Cilik, Senin (7/4/2025).

Kupat Jembut berbentuk ketupat yang dibelah dan diberi sayur tauge yang bermakna rambut di tengahnya. Imam Masjid Roudhotul Muttaqin di Kampung Jaten Cilik, Munawir menjelaskan jika tradisi berbagi Kupat Jembut sudah berlangsung sejak 1950-an.

Saat itu warga masih serba kesusahan kemudian ketika perayaan Syawalan warga berbagi ketupat dibelah dan diberi sayuran. Ada makna juga dalam ketupat itu yaitu menandakan Lebaran sudah berakhir dan simbol saling bermaafan.

“Dalam kesederhanaan, ada perayaan Syawalan, maka diadakan ketupat yang dibelah tengahnya, sebagai tanda Lebaran hari raya sudah selesai, silahkan beraktifitas biasa. Simbol sudah bermaafan di antara teman, saudara, tetangga. Simbol kesederhanaan, perayaan tidak  harus mewah tapi penuh makna,” katanya.

Penamaan Kupat Jembut sengaja dibuat sedikit ambigu agar mudah diingat. Penyebutan itu makin terkenal di tahun awal 2.000-an. Tradisi syawalan di kampung Jaten Cilik itu juga sempat dijadikan simbol perlawanan terhadap komunis.

“Ada perkembangan dalam perayaan, dulu tahun 1965 waktu G30S PKI yang dibagi mercon, bukan ketupat. Simbol perlawanan terhadap komunisme,” tandasnya. (HS-06)

Hari Terakhir Cuti Lebaran Kendaraan Pemudik Via Tol Masih Padat, Jasa Marga: Ada 1,1 Juta Kendaraan ke Jabotabek

Ahmad Luthfi Optimistis Jateng Mampu Penuhi Target 11,8 Juta Ton Padi pada 2025