in

Tembus Desa Terisolasi di Sulbar, BNPB Gunakan Chinook

Helikopter jenis Chinook yang dioperasikan oleh BNPB saat akan mengirim bantuan ke desa terisoliasi di Kabupaten Majene, Sulbar. (Foto :BNPB.go.id)

 

HALO SEMARANG – Upaya penyaluran bantuan kepada korban Gempa M6,2 Sulawesi Barat (Sulbar).di wilayah terisolasi, rupanya sangat terbantu dengan adanya helikopter Chinook BNPB.

Dengan angkutan udara berbadan besar ini, bantuan bisa langsung disalurkan ke daerah-daerah yang sulit dijangkau, akibat jalan yang tertutup longsor. Warga pun antusias dalam menyambut pengiriman bantuan tersebut.

Hal itu pula yang terjadi ketika Chinook, digunakan untuk mengirim bantuan Kepala Desa Popeang, Kecamatan Ulumanda. Ketika mendengar suara helikopter mendekat, mereka pun menuju ke lokasi pendaratan.

Desa tersebut sebenarnya tidak memiliki lahan untuk pendaratan helikopter besar. Karena itu sebelum pengedropan bantuan dilakukan, warga terlebih dulu membuka lahan. Mereka membersihkan rerumputan dan membuat pagar di sekitar lokasi.

Para warga sangat berterima kasih atas bantuan yang sudah bisa masuk ke desa mereka. Hal ini juga diungkapkan Muslimin, Kepala Desa Popeang, Kecamatan Ulumanda.

“Kami berterima kasih atas bantuan kepada desa kami, dimana bantuan seperti ini sangat meringankan beban warga kami,” ungkap Muslimin, Muslimin, Kepala Desa Popeang.

Chinook, Sabtu (30/1) kemarin kembali mengudara dengan tujuan dua desa, yaitu Desa Panggalo dan Desa Pengasaan. Tercatat total empat desa yang sudah mendapatkan bantuan logistik dalam operasi udara helikopter Chinook.

Operasi udara ini didukung penuh oleh Satuan Tugas TNI AU yang juga memfasilitasi pengiriman bantuan dari pihak donator maupun relawan medis ke wilayah-wilayah yang sulit dijangkau dengan transportasi darat.

Dengan adanya dukungan tenaga pengiriman menggunakan helikopter Chinook dinilai lebih efektif dari segi jumlah muatan dan pencapaian titik lokasi.

“Kami hanya bisa berdoa, semoga segala kebaikan dapat dibalas oleh Tuhan Yang Maha Esa,” kata dia.

Pilot Andal

Sementara itu instruktur precision long line, Ariel Arief Machmud, yang membantu dalam koordinasi operasi udara helikopter Chinook BNPB, menuturkan penyaluran bantuan kemanusiaan ke daerah terisolasi, menggunakan helikopter buatan Amerika Serikat itu lebih efisien.

Namun demikian pengedropan bantuan dilakukan dengan teknik precision long line atau sling load ini juga membutuhkan pilot yang andal dan berpengalaman.

Itu pula yang dilakukan saat pengiriman bantuan ke Desa  Kalobang dan Lemo-Lemo di Sulawesi Barat (Sulbar). Pengalaman, keahlian, dan keanadalan pilot menjadi salah satu penentu keberhasilan operasi udara tersebut.

Helikopter ini mampu mengangkut muatan hingga berat 4.000 ton. Selain faktor berat muatan, pilot juga harus memperhitungkan kecepatan angin dan cuaca sepanjang rute tujuan. Cuaca di wilayah Sulawesi Barat sangat cepat berubah sehingga pilot membutuhkan presisi data terkait kondisi tersebut.

Di samping itu, teknik sling load digunakan helikopter untuk operasi pada area yang dapat dikategorikan berisiko tinggi. “Karena pilot sewajarnya terbang melihat ke depan. Namun dengan teknik ini, pilot harus lihat ke bawah. Sebuah persepsi teknik terbang yang di luar kelaziman pada umumnya pilot pesawat maupun heli manapun,” ujar Ariel, seperti dirilis BNPB.go.id, Sabtu (30/1).

Persiapan pengiriman bantuan logistik dengan teknik ini berbeda dibandingkan dengan memasukkan barang bantuan ke dalam badan helikopter.

Pada pengiriman dengan teknik precision long line, terlebih dahulu barang-barang bantuan diletakkan pada alas jaring berbobot 200 kg. Alas jaring kemudian ditutup dengan jaring lainnya untuk saling terikat. Setelah itu pengait dipasangkan tepat di tengah diameter muatan.

Tak hanya kehandalan pilot, kecepatan personel di darat juga berperan dalam operasi pengiriman bantuan melalui udara ini. Personel Satuan Tugas (Satgas) TNI AU, dengan cepat mempelajari teknik merajut jaring dan melepas pengait tali sling load dengan cepat dan tepat. Sebelum dropping bantuan ini, sebanyak tiga personel telah siap terlebih dahulu di titik pendaratan barang bantuan.

Saat bantuan menyentuh tanah, tiga personel ini dengan sigap melepaskan pengait. Sejumlah warga sudah siap membantu untuk mengeluarkan barang muatan dari jaring. Setelah selesai, jaring pun dikaitkan kembali ke pengait tali yang dibawa helikopter.

Hari Jumat lalu (29/1), helikopter bermesin ganda ini berhasil mendaratkan bantuan dengan berat total 8 ton di dua desa terdampak gempa M6,2.

Kedua desa, Desa Kalobang dan Lemo-lemo, merupakan desa terisolir yang berada di Kecamatan Ulumanda, Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat (Sulbar).

Pada pengiriman kedua, helikopter Chinook tak perlu mendarat. Tali pengait diterima oleh personel darat untuk memasangkan antar pengait tali dengan pengait muatan. Dengan cepat barang bantuan terangkat dan segera meninggalkan lokasi Bandar Udara Tampa Padang.

Sebelum beroperasi di Mamuju pada Jumat kemarin, helikopter ini mengudara dari Kendari, Sulawesi Tenggara. Chinook mengambil bantuan logistik dari sana dan harus melalui perjalanan yang berat dari Kendari menuju Mamuju. Ariel menceritakan kru helikopter menembus medan berat.

“Ini perjuangan yang harus kami lalui menembus medan Kendari menuju Mamuju lalu kembali ke Makassar,” ujar Ariel.

Saat itu, helikopternya harus melalui cuaca buruk. Risiko yang dapat dihadapi apabila menghadapi cuaca buruk, Ariel mengatakan “Jarak pandang, rintangan, seperti gunung, bangunan tinggi, tiang dan kabel listrik, antena BTS.”

Helikopter Chinook bertipe CH 47D dan berkode Reg. N303AJ telah berperan dalam misi penanggulangan bencana di Tanah Air. Chinook merupakan helikopter berbadan besar dengan bobot kosong mencapai 10.185 kg. Nama helikopter yang diambil dari nama suku Indian ‘Chinook’ dikembangkan Amerika Serikat sejak 1957. (HS-08)

Prakiraan Cuaca Semarang Dan Sekitarnya, Minggu (31/1/2021)

Senin Besok, Akses Jalan Polder Tawang Ditutup untuk Umum