in

Tegas !!!…. Komnas KIPI Nyatakan Tidak Ada Detoksifikasi Vaksin Covid-19

Sumber : sehatnegeriku.kemkes.go.id

 

HALO SEMARANG – Komisi Nasional Pengkajian dan Penanggulangan Kejadian Ikutan Pasca-Imunisasi (Komnas PP KIPI), menyatakan tidak ada istilah medis detoksifikasi vaksin Covid-19.

Hal itu disampaikan Ketua Komnas PP KIPI, Prof Dr dr Hinky Hindra Irawan Satari, Sp A(K) MMed Ed PhD, terkait munculnya narasi di media sosial, baru-baru ini, tentang cara mendetoksifikasi vaksin Covid-19 yang telah masuk ke dalam tubuh.

Klaim ini muncul dalam sebuah unggahan video di media sosial, yang dikaitkan dengan efek samping vaksin Covid-19.

Unggahan video tersebut menampilkan ulasan tentang efek samping vaksin Covid-19 dari berbagai merek.

Isi video juga menyebutkan tentang keberadaan tim detoksifikasi vaksin dan imunisasi yang tersebar di berbagai kota di Indonesia.

Menurut Hinky Hindra Irawan Satari, vaksin yang disuntikkan bertujuan membentuk kekebalan tubuh atau menghasilkan antibodi.

Sementara itu, detoksifikasi mengacu pada upaya membersihkan, menetralkan, atau mengeluarkan zat racun atau toksin dari dalam tubuh.

“Vaksin yang diberikan itu kan antigen (mikroorganisme). Artinya, komponen virus yang diinaktivasi atau dilemahkan. Jadi, yang akan terbentuk adalah antibodi. Kalau detoksifikasi ini soal toksin, racun,” jelas Prof  Hinky, di Jakarta baru-baru ini, seperti dirilis sehatnegeriku.kemkes.go.id.

Maka dari itu ketika orang divaksinasi, tidak ada racun dan tidak bisa dinetralisir.

“Bukan dinetralisir, ya, tapi kalau ada virus masuk, benda asing atau patogen masuk, dia akan menetralisir. Oleh karena itu, tidak ada istilah detoksifikasi pada vaksin,” kata dia

Klaim lain yang beredar menyebutkan bahwa mandi dengan soda kue, garam Epsom atau garam Inggris, dan boraks dapat mendetoksifikasi vaksin.

“Soda kue untuk menetralisir asam, sedangkan (bahan pembersih) boraks dapat bersifat karsinogenik yang dapat menimbulkan kanker. Jadi, bukannya menyelesaikan masalah, justru akan menambah masalah kesehatan,” jelas Prof. Hinky.

Selain itu, cuci darah yang dilakukan berulang kali, juga diklaim sebagai cara untuk mendetoksifikasi vaksin.

Menurut dia, cuci darah adalah menetralisir toksin-toksin, sedangkan vaksin yang disuntikkan akan membentuk antibodi, bukan toksin, dengan demikian tidak bisa dikeluarkan.

“Maka yang namanya cuci darah, bukan buat mengeluarkan antibodi, melainkan mengeluarkan zat racun. Kalau sifatnya bukan racun, ya tidak akan keluar, karena bermanfaat bagi tubuh,” kata dia.

 

Ciptakan Kekebalan

Vaksin bekerja dengan cara membangun sistem kekebalan tubuh secara khusus untuk melawan penyakit tertentu.

Sistem imun di dalam tubuh, memiliki peran penting untuk melindungi tubuh dari serangan virus atau bakteri.

Namun sistem imun perlu mengenali terlebih dahulu jenis-jenis virus atau bakteri yang dapat menyebabkan penyakit.

Ketika virus atau bakteri tersebut masuk ke dalam tubuh pada kemudian hari, tubuh sudah siap untuk melawannya dan mencegah timbulnya penyakit.

“Dengan terbentuknya antibodi, kalau ada virus masuk, benda asing masuk, bakteri masuk, dia akan menetralisir,” kata Ketua Komnas PP KIPI Prof. Hinky Hindra Irawan.

Prof Hinky juga menampik klaim keliru yang beredar di media sosial, yaitu anak yang tidak divaksinasi bebas dari infeksi telinga dan pengobatan antibiotik. Menurutnya, klaim tersebut tidak benar.

Vaksin influenza merupakan salah satu jenis vaksin yang bermanfaat bagi anak, dapat mengurangi risiko komplikasi flu, seperti infeksi telinga, serta mencegah keparahan penyakit yang sudah ada.

“Kuman penyebab infeksi telinga streptococcus pneumoniae dan haemophilus influenzae, kalau (anak) divaksinasi, ya, angkanya (risiko kejadian infeksi) berkurang. Jangan sekadar berasumsi atau mendengar tanpa ada basis data yang benar,” kata Prof Hinky.

Cara Kerja Vaksin

Sebagaimana manfaat vaksin dari lainnya, vaksin Covid-19 memberikan perlindungan terhadap tertular atau sakit parah akibat Covid-19.

Cara kerjanya dengan merangsang sistem kekebalan tubuh, untuk membangun pertahanan khusus melalui pemberian vaksin.

Upaya optimal untuk terhindar dari Covid-19, adalah dengan melengkapi vaksinasi Covid-19 sesuai jadwal yang dianjurkan dan menerapkan perilaku sehat.

Perilaku sehat tersebut meliputi penggunaan masker, mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir atau hand sanitizer, serta menjaga jarak aman.

Merujuk informasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), vaksin mengurangi risiko tertular penyakit dengan memanfaatkan pertahanan alami tubuh untuk membangun perlindungan.

Setelah seseorang menerima vaksin, sistem kekebalan akan merespons.

Cara sistem kekebalan tubuh merespons, yakni mengenali kuman penyerang seperti virus atau bakteri; memproduksi antibodi, yaitu protein yang diproduksi secara alami oleh sistem kekebalan tubuh untuk melawan penyakit; dan mengingat penyakit dan cara melawannya.

Jika tubuh terpapar kuman di kemudian hari, sistem kekebalan tubuh dapat dengan cepat menghancurkan kuman tersebut sebelum orang tersebut sakit.

Oleh karena itu, vaksin merupakan cara yang aman dan efektif untuk memicu respons imun dalam tubuh tanpa menyebabkan penyakit.

Sistem kekebalan tubuh dirancang untuk memiliki memori. Setelah menerima satu atau lebih dosis vaksin, tubuh biasanya tetap terlindungi dari penyakit selama bertahun-tahun, puluhan tahun, bahkan seumur hidup.

Inilah yang membuat vaksin sangat efektif. sebagai alat pencegahan penyakit. Vaksin mencegah seseorang agar tidak sakit, alih-alih mengobati penyakit setelah penyakit itu muncul. (HS-08)

Tekan Angka Perkawinan Anak, Kemenag dan Lakpesdam NU Sinergi Program Inklusi

Virus Covid-19 Masih Ada, Komnas KIPI Imbau Masyarakat Tetap Waspada