HALO KENDAL – Tradisi Syawalan di Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kendal, tak hanya menjadi magnet wisata religi, tetapi juga momentum emas bagi para pelaku UMKM lokal untuk menjajakan produk unggulan mereka.
Tradisi syawalan yang dipusatkan di Alun-Alun Kota Kaliwungu tersebut, selalu dipadati warga setempat dan pengunjung dari luar daerah. Syawalan digelar sejak 25 Maret hingga 7 April 2026.
Ribuan warga yang memadati kawasan Alun-Alun Kaliwungu pada Minggu (29/3/2026) malam, menjadi mesin penggerak ekonomi bagi ratusan pedagang lokal yang menjajakan produk unggulan mereka.
Bagi warga Kendal, Syawalan merupakan agenda tahunan yang sakral sekaligus meriah. Tradisi ini berpusat pada kegiatan religi, yakni ziarah ke makam para ulama penyebar agama Islam di Bukit Jabal, salah satunya Makam Kyai Asy’ari (Kyai Guru).
Sepanjang mata memandang, deretan tenda semi-permanen berjejer rapi menampilkan wajah baru UMKM Kendal. Mulai dari kerajinan mainan tradisional yang melegenda hingga deretan stan kuliner kekinian, semuanya tumpah ruah dalam tradisi ini.
Salah satu daya tarik utama yang selalu dicari pengunjung adalah makanan Sumpil, kuliner khas Kaliwungu yang terbuat dari nasi, dibungkus daun jati berbentuk segitiga. Makanan ini menjadi buruan wajib karena sulit ditemukan di hari-hari biasa.
“Selain ziarah, kami sengaja ke sini untuk mencicipi kuliner khas Kaliwungu yakni Sumpil dan beberapa jajan tradisional lainnya,” ujar Ibu Artanti, pengunjung asal Kecamatan Brangsong, yang datang bersama keluarga besarnya dari Jakarta.
Tidak hanya kuliner berat, berbagai kudapan tradisional dan produk UMKM kreatif lainnya turut mendulang untung dari antusiasme warga yang ingin menghabiskan sisa libur Lebaran.
Selain sektor kuliner, sektor hiburan rakyat juga menunjukkan taringnya. Kehadiran wahana permainan seperti bianglala raksasa dan komidi putar terbukti ampuh menarik minat generasi muda.
Penyelenggara juga menyajikan panggung kreatif, menampilkan pertunjukan seni religi dan tari sufi, serta menghadirkan bintang tamu Mutik Nida (Ratu Kendang) dan musik dari group band lokal Gus N Rosses.
Laili,, salah satu pengunjung asal Desa Mororejo, Kaliwungu menyebut, perpaduan antara hiburan modern dan nilai tradisional membuat Syawalan tahun ini terasa lebih segar dibandingkan tahun lalu.
“Syawalan tahun ini semakin meriah karena banyak hiburan dan pilihan kulinernya yang bervarisasi. Jadi kalau di syawalan ini, pengunjung tidak cuma berziarah, tapi juga bisa menikmati aneka kuliner dan hiburan,” ungkapnya. (HS-06)


