MALAM Sabtu di lantai tujuh Gedung Pusat Universitas PGRI Semarang terasa lebih sunyi dari biasanya. Namun kesunyian itu segera berubah menjadi ruang permenungan ketika lampu panggung menyala dan kelompok seni Teater Gemati membuka pementasan terbarunya, Soliloquium de Tempore, Sabtu (14/2/2026).
Pementasan yang disutradarai Akhmad Sofyan Hadi ini berlangsung sekitar satu jam. Sejak adegan pembuka, penonton diajak masuk ke dunia yang penuh percakapan batin: soal kehilangan, jarak antargenerasi, dan usaha manusia memahami dirinya sendiri di tengah perubahan zaman.
Lakon karya Kartikawati ini memilih stasiun kereta api sebagai ruang cerita. Bukan tanpa alasan. Stasiun menjadi metafora pertemuan dan perpisahan, tempat orang datang dan pergi, meninggalkan kenangan sekaligus harapan. Di ruang inilah emosi para tokoh bergerak, bertabrakan, lalu perlahan mengendap.
“Cerita ini berbicara tentang kompleksitas cinta, identitas, dan perjalanan waktu,” ujar Ian, sapaan akrab sang sutradara, Akhmad Sofyan Hadi.
Pertunjukan dibuka dengan adegan sejumlah penumpang yang bersiap melakukan perjalanan. Gerak tubuh para aktor dipadukan dengan musik dan koreografi sederhana, membangun suasana dramatik sejak menit pertama. Tanpa dialog panjang, penonton sudah diajak merasakan kegelisahan yang mengambang di ruang tunggu.
Komposisi tokoh dalam pementasan ini menarik perhatian. Teater Gemati menghadirkan simbol tiga etnis—Jawa, Tionghoa, dan Arab—sebagai bagian dari struktur cerita. Esther, perempuan keturunan Tionghoa, menjadi pusat emosi lakon. Ia digambarkan tenggelam dalam keputusasaan dan kerinduan yang tak tersampaikan.
Di sekelilingnya hadir Bilal, lelaki keturunan Arab; Narendra, kekasih Esther yang mewakili etnis Jawa; serta seorang petugas stasiun. Percakapan mereka bergerak dari persoalan pribadi menuju diskusi yang lebih luas: tanggung jawab sosial, tekanan harapan, hingga dampak teknologi terhadap relasi manusia.
“Dialognya memang berangkat dari pergulatan batin, tapi kami sengaja membiarkannya bersinggungan dengan persoalan sosial,” kata Ian.
Melalui interaksi di stasiun itu, naskah mengurai ketegangan antara nilai lama dan kenyataan hari ini. Kenangan tampil sebagai sesuatu yang tak lekang, sementara pemahaman antarmanusia justru terasa rapuh. Penonton diajak melihat satu peristiwa dari sudut pandang yang berbeda, tanpa memberi jawaban tunggal.
Menariknya, di sela alur personal tersebut, Soliloquium de Tempore juga menyelipkan kritik sosial. Beberapa dialog menyentil perilaku buruk pejabat, disampaikan dengan nada satir namun tetap menyatu dengan cerita. Kritik itu tidak berteriak, tetapi cukup untuk membuat penonton tersenyum getir.
Teater Gemati sendiri merupakan kelompok yang lahir dari rahim Teater Gema dan berdiri sejak 2017 di Kota Semarang. Sebelumnya, mereka telah mementaskan sejumlah karya, antara lain Pohon Babi (2023), Firasat (2024), serta Tawang dan Sebuah Peristiwa (2025).
“Kami ingin terus berproses dan menghadirkan karya setiap tahun,” tutur Ian.
Melalui Soliloquium de Tempore, Teater Gemati kembali menunjukkan konsistensinya merawat panggung sebagai ruang dialog. Di stasiun bernama waktu itu, penonton diajak berhenti sejenak—menunggu, mengenang, dan mungkin bertanya: perjalanan mana yang sebenarnya sedang kita jalani.(HS)


