in

Puluhan Siswa SMAN 2 Kudus Masuk IGD RSUD dr Loekmono, Diduga Keracunan Menu MBG

Ilustrasi pasien dirawat karena keracunan makanan.

HALO KUDUS – Puluhan siswa SMA Negeri 2 Kudus harus dilarikan ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUD dr Loekmono Hadi Kabupaten Kudus, Kamis (29/1/2026),

Diduga para siswa mengalami keracunan menu Makan Bergizi Gratis (MBG), yang dibagikan Rabu (28/1/2026).

Para pelajar dibawa ke rumah sakit menggunakan ambulans secara bergelombang sejak pagi hari. Mereka datang dengan keluhan kesehatan yang hampir serupa.

Dokter jaga IGD RSUD dr Loekmono Hadi Kudus, dr Muhammad Resa Perkasa menyebutkan, para siswa mulai berdatangan sejak pukul 09.30 hingga 10.00 WIB.

“Keluhan yang paling banyak dialami siswa adalah mual, muntah, nyeri perut, serta diare,” ujarnya kepada awak media.

Dijelaskan dr Resa, hingga saat ini penyebab pasti gangguan kesehatan para siswa masih dalam tahap penelusuran. Namun dugaan awal mengarah pada keracunan makanan.

“Penyebab pastinya belum bisa dipastikan. Saat ini masih dugaan awal keracunan makanan sehingga membutuhkan penanganan lanjutan dan observasi,” jelasnya.

Disebutkan dr Reza, dalam penanganan di IGD, tim medis terlebih dahulu melakukan triase untuk menentukan tingkat kegawatan pasien. Hasil pemeriksaan awal menunjukkan sebagian besar siswa masuk kategori kuning, atau kondisi yang masih bisa dipantau.

“Mayoritas masuk kategori kuning, artinya perlu penanganan tetapi tidak dalam kondisi gawat darurat,” tandasnya.

Namun, lanjut dr Reza, terdapat beberapa siswa yang masuk kategori merah karena mengalami diare berat, bahkan hingga buang air besar lebih dari sembilan kali dalam sehari.

“Ada beberapa yang masuk merah karena diare cukup parah dan membutuhkan penanganan intensif serta hidrasi,” imbuhnya.

Hingga pukul 10.00 WIB, tercatat 23 siswa SMA Negeri 2 Kudus telah mendapatkan penanganan medis di IGD. Jumlah tersebut masih bersifat sementara dan berpotensi bertambah.

“Total sementara 23 siswa, dan kemungkinan masih ada tambahan pasien yang menyusul,” kata dr Resa.

Seluruh pasien diketahui berasal dari sekolah yang sama. Hingga kini, belum ada siswa yang diputuskan untuk menjalani rawat inap karena masih dalam tahap observasi.

“Jika kondisi memburuk, terutama yang masuk kategori merah, maka rawat inap akan dipertimbangkan,” jelas dr Reza lagi.

Sementara, Kepala SPPG Purwosari, Nasihul Umam menjelaskan, pihaknya menerima laporan awal dari penanggung jawab MBG SMA 2 Kudus pada Kamis pagi.

Menurutnya, saat dilaporkan ada siswa yang mengalami diare serta satu siswa harus dilarikan ke UGD akibat sakit perut.

“Mendapat laporan tersebut, saya bersama ahli gizi dan asisten laboratorium langsung mendatangi sekolah untuk melakukan klarifikasi terkait menu MBG yang diduga menjadi penyebab,” ujar Nasihul.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa SPPG Purwosari setiap harinya menyalurkan 2.173 porsi MBG untuk siswa, guru, dan tenaga pendidik di total 13 sekolah. Namun hingga saat ini, laporan dugaan keracunan baru diterima dari SMA 2 Kudus.

“Kami akan melakukan evaluasi menyeluruh agar kejadian serupa tidak terulang di kemudian hari,” pungkas Nasihul.

Ia menyebutkan, menu MBG yang dibagikan pada Rabu (28/1/2026) terdiri dari soto ayam suwir, tempe goreng, sayur tauge, dan sambal kecap.

Sebagai tindak lanjut, SPPG Purwosari telah mengirimkan sampel makanan ke laboratorium untuk dilakukan uji kelayakan dan keamanan pangan.

“Saat ini kami masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium untuk memastikan penyebab pasti kejadian ini,” kata Nasihul.

Pihaknya juga menyampaikan permohonan maaf atas peristiwa tersebut dan menegaskan kesiapan SPPG Purwosari untuk bertanggung jawab penuh, termasuk dalam pembiayaan pengobatan siswa yang terdampak.

“Kami menyampaikan permohonan maaf dan siap bertanggung jawab pengobatan seluruh siswa yang diduga mengalami keracunan,” ungkap Nasihul.(HS)

Langgar Aturan Keimigrasian, Empat WNA Asal Tajikistan Dideportasi Imigrasi Semarang

Pemprov Jateng Bakal Cek dan Evaluasi MBG di Kudus