in

Petani Terdampak Normalisasi Sungai Beringin Minta Solusi Pengairan

Wakil Menteri Dalam Negeri, Bima Arya Sugiarto didampingi Wali Kota Semarang, Hevearita Gunaryanti Rahayu meninjau lokasi sawah terdampak normalisasi sungai Beringin yang kering karena tak lagi teraliri air dari saluran irigasi sawah di Mangkang Wetan, Kecamatan Tugu, Kota Semarang.

HALO SEMARANG – Para petani yang terdampak proyek normalisasi Sungai Beringin kini menghadapi tantangan besar akibat sawah mereka tidak teraliri air dari saluran irigasi secara optimal. Meskipun mereka telah mengusulkan pembuatan saluran irigasi sebelum proyek dimulai, permintaan itu tidak dapat diakomodasi oleh pihak kontraktor, yang hanya mengikuti desain yang ditetapkan oleh pemerintah pusat.

Ahkyat, salah satu petani dari Kelompok Tani Margo Utomo Mangkang Wetan, menegaskan bahwa usulan tersebut sudah disampaikan sejak lama. “Kami sudah meminta agar keinginan petani dipertimbangkan, sehingga air bisa mengalir ke saluran irigasi sawah yang kami kelola,” ungkapnya kepada awak media baru-baru ini.

Selama proses pembangunan, pemerintah melakukan pembebasan lahan dan sawah warga di sepanjang aliran sungai. “Proyek ini merupakan program dari pusat, yang mencakup panjang Sungai Beringin sekitar 4,2 kilometer, yang sebelumnya menjadi sumber utama pengairan untuk puluhan hektare sawah di Mangkang dan Mangunharjo,” tambahnya.

Proyek normalisasi Sungai Beringin adalah salah satu Proyek Strategis Nasional (PSN) yang dicanangkan oleh pemerintah pusat melalui BWWS Pemali-Juana. Proyek ini dimulai pada tahun 2021 dan direncanakan selesai pada akhir tahun 2022 dengan anggaran fisik sekitar Rp 230 miliar. Anggaran untuk pembebasan lahan menjadi tanggung jawab Pemerintah Kota Semarang dan dilakukan dalam dua tahap.

Sejumlah petani Mangkang Wetan kini meminta solusi dari pemerintah agar sawah mereka bisa kembali produktif. “Saat ini, kami tidak bisa menanam padi, padahal sebelumnya kami bisa menanam hingga dua kali dalam setahun,” keluh Ahkyat.

“Kami ingin agar air bisa masuk ke sawah. Selama ini, kami menggunakan bendungan dari karung pasir, namun saat banjir, tanggul karung sering hilang. Kondisi ini semakin parah setelah normalisasi sungai,” ujarnya.

Petani berharap agar dibangun bendungan permanen untuk memastikan aliran air ke sawah. “Setiap tahun, kami bahkan mengeluarkan sekitar Rp 25 juta untuk membendung air sungai dengan karung pasir agar bisa mengalir ke saluran irigasi. Semua petani harus patungan untuk biaya ini,” tambahnya.

Menanggapi keluhan para petani, Wakil Menteri Dalam Negeri, Bima Arya Sugiarto, yang didampingi Wali Kota Semarang, Hevearita Gunaryanti Rahayu, mengunjungi lokasi sawah yang terdampak. Dalam penjelasannya, Bima Arya mencatat bahwa proyek normalisasi Sungai Beringin bertujuan untuk mencegah banjir di kawasan Mangkang Wetan yang sering meluap saat musim hujan. Namun, dia juga mengakui bahwa proyek tersebut memiliki dampak negatif bagi para petani.

“Dari satu titik saja, terdapat 40 hektare sawah warga yang terdampak normalisasi. Akibatnya, pengairan berkurang, bahkan mati, dan para petani melaporkan tidak bisa panen lagi,” terang Wamendagri.

Dengan situasi yang semakin mendesak, petani berharap agar pemerintah segera memberikan solusi yang tepat untuk mengatasi masalah pengairan ini, sehingga mereka dapat kembali bertani dengan baik dan menghasilkan panen yang optimal.(HS)

Capai Target PNBP 150%, Imigrasi Setor Rp 9 Triliun ke Kas Negara

Proliga 2025 Dibuka di Semarang, Nana Sudjana: Diharapkan Memotivasi Atlet Jawa Tengah