in

Petani Temanggung Tak Lagi Rasakan “Manisnya” Tembakau

Sarasehan 1001 Rupo 1001 Roso di Temanggung. (Foto : Temanggungkab.go.id)

 

HALO TEMANGGUNG – Para pelaku usaha bidang tembakau di wilayah Bansari, didukung oleh 13 pemerintah desa di Kecamatan Bansari, Camat Bansari, dan Pemerintah Kabupaten Temanggung, menggelar Sarasehan 1001 Rupo 1001 Roso, bersama sejumlah budayawan.

Acara yang diselenggarakan pada hari kedua Festival Lembutan Bansari ke-3, di Lapangan Siti Aji Desa Bansari, Kecamatan Bansari, Kabupaten Temanggung, belum lama ini, mengundang sejumlah tokoh, salah satunya Sujiwo Tejo.

Hadir pula sejumlah tokoh dari Temanggung, antara lain Kang Ceper dan Mbah Topo, serta dari Pemkab Temanggung yang diwakili oleh Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan (DKPPP) Kabupaten Temanggung Joko Budi Nuryanto.

Pada kesempatan itu, Kang Ceper, selaku tokoh pertembakauan di Kabupaten Temanggung, menyampaikan tentang seluk beluk pertembakauan yang dialami para petani di Temanggung.

Dia menuturkan, sampai era 70-an, tembakau di Temanggung merupakan emas hijau.

Tanaman ini juga menjadi primadona masyarakat petani tembakau, khususnya di daerah Temanggung, lebih khusus di wilayah Gunung Sindoro, Sumbing dan Prau.

Tembakau merupakan suatu warisan leluhur, yang merupakan budaya adiluhur, yang dari era ke era, masa ke masa masih tetap eksis untuk dikelola ataupun dibudayakan.

Akan tetapi, tembakau Temanggung dengan  tata niaga yang ada saat ini, terlebih tembakau yang disuplai ke pabrik, tidak menguntungkan bagi petani.

“Kita rasakan semua bahwa kita pada era ini, biaya operasional atau biaya mengolah tembakau dari mengolah lahan, menanam, memelihara sampai dengan pasca panen biayanya sangatlah besar. Harga-harga pupuknya juga mahal, tetapi harga penjualan tembakau tak sebanding dengan biaya yang dikeluarkan,” kata dia, seperti dirilis temanggungkab.go.id.

Menurut dia, petani di Temanggung saat ini tak dapat merasakan “manisnya” tembakau.

“Inilah dilema kita semua, bahwa dari masa ke masa, tembakau yang sudah merupakan budaya leluhur kita yang pantas diuri-uri, ternyata dalam beberapa tahun ini, petani tidak dapat merasakan manisnya tembakau,” sambungnya.

Oleh karena itu, dengan diadakannya Festival Lembutan, dia berharap dapat mensejahterakan petani lewat alternatif merajang tembakau lembutan.

Sehingga petani lebih berdaya, punya kedaulatan, punya harga tawar, sehingga petani tembakau lebih sejahtera.

Pada kesempatan tersebut, Kepala DKPPP Kabupaten Temanggung, Joko Budi Nuryanto menyampaikan terima kasih kepada masyarakat Temanggung, khususnya Bansari, yang masih tetap setia dengan tanaman tembakau, yang sudah menjadi salah satu ikon dari Temanggung.

“Untuk itu pemerintah tetap support dengan segala kewenangan yang kami mampu, yang kami bisa,” kata dia. (HS-08)

Malam Regsosek, BPS Batang Berhasil Mendata 15 Tunawisma

Titin Waisah dari Puskesmas Wanayasa 2 Juara kader Posyandu Tingkat Kabupaten